Breaking News
light_mode
Beranda » Artikel » Tak Ada Yang Lebih Revolusioner Dari Seorang Pembaca Buku

Tak Ada Yang Lebih Revolusioner Dari Seorang Pembaca Buku

  • account_circle Romario
  • calendar_month Selasa, 23 Jun 2026
  • visibility 29
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Romario* — Ada kesalahan besar soal bagaimana media menggambarkan pembaca buku, seseorang yang berkacamata sambil mendekap sebuah buku.

Padahal pembaca buku adalah orang-orang revolusioner, mereka datang dengan gagasan yang meruntuhkan apa yang telah dipercayai begitu saja. Mereka menelurkan keindahan dan kebrutalan dalam balutan sastra, bahkan menulis sajak-sajak yang bisa saja mengganggu penguasa.

Pendiri Republik ini adalah seorang pembaca buku. Soekarno menghabiskan banyak sekali buku untuk diselesaikan, bahkan coretan-coretannya tertuang dalam buku, betapa tekunnya Soekarno membaca.

Semua bacaan itu, lalu ia tuangkan dalam tulisan-tulisan di koran yang mengkritik tajam kolonial Belanda. Hingga kini bukunya berjudul Di Bawah Bendera Revolusi adalah bukti hasil bacaan Soekarno.

Jika Soekarno begitu berapi-api, ada Hatta yang begitu tenang dan tertib membaca buku, bahkan siap dipenjara asal bersama buku. Dalam pengasingannya, Hatta membawa buku hingga beberapa peti.

Sebelum membaca buku, Hatta membersihkan diri terlebih dahulu. Dari bacaannya ia menulis berjilid-jilid Demokrasi Kita.

Dari Penjara ke Penjara itulah judul buku bapak republik yang dilupakan namun kini sering dibicarakan, Tan Malaka. Ia telah membaca banyak buku, bahkan ia hafalkan begitu saja.

Melalui buku banyak sekali gagasan yang telah ia tuangkan, bahkan menginspirasi Soekarno. Buku Aksi Massa adalah karangannya yang menggugah Soekarno, lalu Madilog adalah bukunya yang membongkar mitos-mitos yang bersemayam dalam negara bangsa.

Di era kediktatoran Orde Baru, saat sang Jenderal Soeharto memimpin, membaca buku adalah sungguh sangat revolusioner. Bahkan jika buku yang dibaca terlarang maka bisa dicap sebagai subversif, yakni orang yang menentang negara.

Menjadi pembaca buku dalam era ini sangat membuat bergidik ngeri. Sang Jenderal lebih senang jika masyarakat membaca buku-buku, film, dan musik hiburan.

Pikiran tak bisa dibendung. Buku Tetralogi Buru, sebuah novel karya sastrawan Pramoedya Ananta Toer, jadi bacaan yang berbahaya di era sang diktator.

Pada masa sebelum diasingkan ke Pulau Buru, Pramoedya adalah pembaca yang begitu rajin, bahkan dengan tekun mengarsipkan. Ia membaca karya sastra internasional seperti John Steinbeck dan Maxim Gorky dan menerjemahkannya.

Saat berada di pengasingan, Pramoedya punya waktu untuk menuangkan semua pengetahuan dan bacaannya dalam Tetralogi Buru.

“Hanya ada satu kata: Lawan!” begitulah penggalan puisi si penyair cadel. Ia membaca buku-buku juga melihat situasi atas ketimpangan yang terjadi pada masa sang diktator memimpin.

Puisinya-puisinya penuh ironi: kehidupan orang miskin, kehidupan buruh, ketidakadilan yang merajalela. Puisinya seperti bunga yang tumbuh di tembok kekuasaan.

Akibat puisinya, sang penyair hilang entah ke mana dan sampai saat ini lenyap begitu saja.

“Gitu aja kok repot,” kata seorang pembaca buku yang menghabiskan waktunya di perpustakaan Mesir dibanding kuliah. Gus Dur adalah sosok pembaca buku yang melahap banyak sekali buku, bahkan dari sastrawan dunia: Leo Tolstoy, Fyodor Dostoyevsky, para filosof, pemikir Muslim.

Gagasan Gus Dur banyak sekali tertuang dalam berbagai tulisan, bahkan ia menggagas “Pribumisasi Islam” dan menulis soal Indonesia sebagai “negara yang bukan-bukan”.

Para pembaca ini telah mengubah banyak hal. Bahkan sampai saat ini gagasannya, esainya, puisi-puisinya terus dibaca terus menerus dan menjadi sebuah inspirasi bagi seorang pembaca buku.

Mereka adalah pembaca buku yang sungguh revolusioner, karena buku telah menumbuhkan ide-ide, pandangan, paradigma, yang mengubah hidup dan pandang pembacanya. Dan salah kaprah jika pembaca dipandang hanya sebagai orang yang berkacamata dan menenteng buku.

Di Jogjakarta, iklim buku begitu hidup dan jadi gaya hidup anak muda. Ada perasaan aneh jika pernah menempuh pendidikan di Jogja tapi tidak menjadi pembaca buku.

Lingkungan yang begitu hidup mendorong untuk membaca buku: berbagai kafe menyediakan buku untuk dibaca, toko buku tumbuh subur, obrolan sesama teman yang tak lepas dari buku, dan bedah buku yang tak pernah sunyi. Maka tak heran, di kota ini tumbuh subur para cerpenis, esais, novelis, bahkan cendekiawan.

Di tengah gempuran internet, menjadi seorang pembaca buku semakin terlihat revolusioner, saat semua orang terbuai, terlena, terseret, dan tenggelam di internet.

Menjadi pembaca buku membuat kita bertahan, berpikir tenang, menikmati keindahan, memilah informasi yang tak jelas arahnya, dan berpikir lebih dalam.

Saat penyelenggara membuat kebijakan semena-mena, menjadi pembaca buku adalah cara untuk menentangnya. Tak ada yang sia-sia: setiap tulisan dan kata-kata yang dilontarkan pembaca adalah peringatan bagi penyelenggara negara.

Ketika seorang penjahat dianggap pahlawan, menjadi pembaca buku adalah cara kita berpegang teguh untuk menentangnya. Saat kekacauan demi kekacauan tak ada habisnya, menjadi pembaca buku adalah cara menyikapi diri untuk membentenginya.

Selalu ada harapan di tengah kekacauan. Bukankah para pembaca buku, bapak republik ini, tumbuh saat kolonial Belanda sedang mengeksploitasi? Mereka dipenjara dan diasingkan, tapi sebagai pembaca buku mereka tetap tak tergoyahkan.

Bukankah pembaca di masa Orde Baru, yang hidup di tangan sang diktator berdarah dingin, pada akhirnya ikut menggulingkan Soeharto dalam pangku kekuasaan?

Kini, menjadi seorang pembaca buku, tetaplah revolusioner. Saat negara sibuk merazia buku, maka teruslah membaca buku.

Avatar photo

Penulis

Dosen IAIN Langsa yang hobi membaca buku. Meminati Psikologi, Sosiologi, Filsafat, dan Studi Islam

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Dampak Degradasi Nilai Tukar Rupiah Terhadap Stabilitas Finansial dan Mental Health Masisir

    Dampak Degradasi Nilai Tukar Rupiah Terhadap Stabilitas Finansial dan Mental Health Masisir

    • calendar_month Sabtu, 6 Jun 2026
    • account_circle Chatib Nourie Syaher
    • visibility 74
    • 0Komentar

    Oleh: Chatib Nourie Syaher, mahasiswa aktif Universitas Al Azhar — Nilai tukar rupiah merupakan salah satu indikator penting dalam perekonomian Indonesia. Pergerakan nilai tukar rupiah memiliki pengaruh yang luas terhadap aktivitas ekonomi masyarakat. Ketika rupiah mengalami depresiasi terhadap mata uang asing, terutama dolar Amerika Serikat (USD), dampaknya tidak hanya dirasakan pada sektor makroekonomi tetapi juga […]

  • Foto Pribadi

    Profil KH Zulfa Mustofa, Kandidat Ketua Umum PBNU 2026-2031

    • calendar_month Kamis, 9 Jul 2026
    • account_circle Noura Dalla Adilla
    • visibility 47
    • 0Komentar

    Jakarta – The Nusantara Insight : Hiruk pikuk Munas NU mengenai lokasi muktamar, berakhir sudah. PBNU, melalui rapat gabungan Syuriah dan Tanfidziah, melaksanakan pertemuan khusus, yang dihadiri lengkap. Termasuk tim survei yang sudah turun ke lapangan. PBNU akhirnya memutuskan jika Muktamar NU ke-35 ini, akan dilaksanakan di Pesantren Tambak Beras, Jombang, Jawa Timur. Event 5 […]

  • Ujian Independensi Politik NU

    Ujian Independensi Politik NU

    • calendar_month Selasa, 7 Jul 2026
    • account_circle Najmi Fuady
    • visibility 56
    • 0Komentar

    Oleh: Najmi Fuady* — Pada Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-27 tahun 1984 di Situbondo, para kiai mengambil langkah besar yang menandai titik balik penting dalam sejarah pergerakan Islam di Indonesia. NU memilih menarik diri dari panggung politik praktis dan menyatakan kembali ke garis perjuangan awal tahun 1926 (Khittah ’26), menjadi organisasi sosial-keagamaan (jam’iyyah diniyyah ijtima’iyyah) […]

  • Sipil Yang Lemah? Penyebab ASN Tidak Ikut Upacara Kemerdekaan di Istana Negara?

    Sipil Yang Lemah? Penyebab ASN Tidak Ikut Upacara Kemerdekaan di Istana Negara?

    • calendar_month Rabu, 15 Jul 2026
    • account_circle Lintang Narendra
    • visibility 42
    • 0Komentar

    Oleh: Lintang Narendra* — Sejak kecil, masyarakat Indonesia terbiasa melihat seragam sebagai tanda kekuatan. Seragam TNI dan Polri hadir dalam upacara, berita, film, baliho, acara kenegaraan, pengamanan, penanganan bencana, sampai kegiatan di sekolah. Tubuh yang tegap, langkah yang sama, suara komando yang keras, pangkat di pundak, dan senjata yang dibawa menciptakan kesan yang mudah ditangkap: […]

  • Foto : Dokument MTQ

    Memenangkan Lomba Karya Tulis Ilmiah AL-QUR’AN

    • calendar_month Minggu, 31 Mei 2026
    • account_circle M Syarbani Haira
    • visibility 39
    • 0Komentar

    By : M Syarbani Haira – Menurut jadwal yang terpublish, pertengahan Juni ini, tepatnya dari tanggal 18 hingga 26 Juni 2026, pemerintah provinsi Kalimantan Selatan, bersama LPTQ (Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an) Kalimantan Selatan akan melaksanakan event tahunan, Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) nasional yang ke-37 Tingkat provinsi Kalimantan Selatan. Sesuai jadwal yang sudah disepakati LPTQ Kalimantan […]

  • suasana sidang pleno

    Munas NU, dari Musyawarah Menuju Konflik: Mengapa Ber-Sengketa, Kaum Muda Saling Menyalahkan

    • calendar_month Sabtu, 27 Jun 2026
    • account_circle M Syarbani Haira
    • visibility 29
    • 0Komentar

    By : M. Syarbani Haira – Perkumpulan Nahdlatul Ulama baru saja menyelenggarakan Munas, dan  Konbes. Ini sebuah pehelatan menyongsong Muktamar, yang telah disepakati akan dilaksanakan awal Agustus 2026. Munas membahas banyak hal, khususnya terkait dengan materi, lokasi, waktu, dan lainnya. Ternyata, meski ini perkumpulan para ulama, mereka tidak bisa musyawarah. Terjadi konflik, walau tidak fisik. […]

expand_less