Breaking News
light_mode
Beranda » Artikel » Moderasi Beragama dan Algoritma Media Sosial: Mengapa Dakwah NU dan Muhammadiyah Tertinggal di YouTube?

Moderasi Beragama dan Algoritma Media Sosial: Mengapa Dakwah NU dan Muhammadiyah Tertinggal di YouTube?

  • account_circle Romario
  • calendar_month Sabtu, 27 Jun 2026
  • visibility 36
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Romario* NU dan Muhammadiyah adalah dua organisasi Islam yang sudah lama eksis di Indonesia. Secara historis baik NU dan Muhammadiyah terlibat dalam urusan negara bangsa serta memiliki anggota yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia serta menjadi wajah Moderasi Beragama.

Seiring perkembangan teknologi dan masuknya gerakan Islam transnasional memberi ancaman bagi NU dan Muhammadiyah. Islam Transnasional adalah ideologi Islam lintas negara yang memiliki kesamaan dalam bentuk pemahaman seperti pemurnian Islam oleh Salafi-Wahabi.

Dalam sejarah Indonesia gerakan Salafi-Wahabi masif pada tahun 1980-an yang ditandai dengan kelompok Muslim yang memelihat jenggot, memakai gamis, celana cingkrang, serta perempuannya menggunakan cadar berwarna hitam.

Gerakan ini menolak segala bentuk yang dijalankan oleh Islam Tradisionalis seperti Tahlilan, Ziarah, Maulid, Isra Mi’raj, yang menurut mereka tidak memiliki dalil rujukan Al-Quran dan Hadis.

Menurut Din Wahid posisi Salafi – Wahabi di ruang publik berhadapan dengan otoritas keagamaan NU dan Muhammadiyah. Salafi – Wahabi aktif menggunakan media sebagai sarana menyebarkan pemahamannya dari kanal Youtube Rodja TV, Yufid TV, dan Ammar TV.

Di Media Sosial kanal tersebut mendapatkan popularitas yang tinggi jika dibanding kanal Yotube yang di kelola NU dan Muhammadiyah seperti Aswaja Tube, NU Channel, NUTV, tvMU kalah populer dibanding media Salafi.

Tulisan ini mengulas kenapa akun NU dan Muhammadiyah kurang populer, dan tidak menjadi akses utama generasi Z dalam memahami pengetahuan agama.

NU sudah berdiri pada tahun 1926. Berdirinya NU sebagai respon ulama tradisional terhadap situasi penghapusan Khilafah di Turki oleh Mustafa Kemal dan penaklukan Makkah oleh Abd al-Azis ibn Saud.

Baik di Turki dan Arab, sama-sama memiliki kesamaan memusuhi Islam tradisional dan membatasi kurikulum Islam tradisional.

Pada masa kemerdekaan NU menjadi partai politik, lalu masa Orde Baru Partai NU digabung dalam PPP (Partai Persatuan Pembangunan), kemudian tahun 1984 menarik diri dari partai politik (Van Bruinessen 2014).

Optimalisasi NU untuk terjun menggunakan media hadir belakangan. Pada media NU, dakwah yang disampaikan berisi keberlanjutan dari NU di ruang publik yakni mempertahankan Islam tradisional dan berasaskan ideologi Ahlussunnah wal jamaah atau sekarang lebih dikenal dengan Islam Nusantara.

Pesan dakwah yang disampaikan NU di Youtube berkaitan dengan aspek kehidupan seperti ekonomi, dakwah, ajaran Islam, serta politik Negara Bangsa.

Dalam memperkuat otoritasnya di media sosial, NU menampilkan dakwah tokoh-tokoh NU yang populer Gus Baha dan Gus Muwafiq, serta kehadiran akun media sosial kiai seperti KH. Aqil Siradj, KH. Mustofa Bisri, dan Ulil Abshar Abdalla.

NU membangun media tidak hanya satu, tapi membuat banyak media NU dari NU Channel, NUTV, dan Aswaja Tube. Akan tetapi dari ketiga akun tersebut hanya NU Chanel yang mendapatkan pengikut cukup banyak sebesar 875 RB subscriber.

NU Chanel mengukuhkan bahwa NU Channel adalah televisi resmi PBNU, adapun playlist yang terdapat di NU Chanel motivasi, sholawat, qasidah, musik milenial, dan konten kesenian.

Untuk merespon isu kontemporer NU Chanel menyajikan kajian kontemporer, sedang kajian keislaman online NU Chanel menyajikan ngaji tasawuf, kajian keluarga, sejarah,dan kajian kitab kuning.

Muhammadiyah sudah berdiri pada tahun 1912, dikenal sebagai Islam modernis yang berfokus pada pendidikan dan kerja sosial seperti sekolah, rumah sakit, dan panti asuhan.

Muhammadiyah memiliki perhatian pada pendidikan yang dibuktikan dengan adanya jejaring sekolah dari tingkat SD sampai perguruan tinggi. Berkat pendidikan, banyak anggota Muhammadiyah menjadi pegawai negeri sipil dan bahkan masuk dalam Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Penggunaan media sudah lama digunakan Muhammadiyah yakni dalam bentuk majalah Suara Muhammadiyah yang sampai saat ini masih dikelola dalam situs suaramuhammadiyah.or.id.

Namun Televisi Muhammadiyah, tvMU mulai mengudara pada tahun 2013, dan selanjutnya pada tahun 2014 mulai mengunggah videonya di Youtube. Berdirinya tvMU berdasarkan Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode 2010-2105.

tvMU bertujuan menyebarkan dakwah dalam menegakkan amar ma’ruf nahi munkar, sesuai dengan motto Muhammadiyah yakni memperbaiki kualitas bangsa berdasarkan pesan Islam berkemajuan. Pesan dakwah tvMU disampaikan secara bermutu, mencerdaskan, dan mencerahkan. meski sudah memiliki channel Youtube, tv Mu hanya memiliki 338 RB Subscriber.

Kemunculan tvMU berawal dari kegelisahan pengurus Muhammadiyah tingkat daerah yang melihat banyak anggota Muhammadiyah yang keluar dari Muhammadiyah disebabkan menonton TV dakwah non-Muhammadiyah.

TV dakwah non-Muhammadiyah tidak lain adalah Rodja TV yang berafiliasi dengan Salafi-Wahabi yang sudah terlebih dahulu mengudara pada tahun 2009. Dan memang anggota Muhammadiyah akhirnya banyak tergabung dalam gerakan Salafi-Wahabi yang dikategorikan sebagai “Islam Murni”

NU Channel yang mendapatkan pengikut cukup banyak sebesar 875 RB sedangkan tvMU 338 RB.

Subscriber NU Chanel lebih besar dibanding akun Salafi Rodja TV yang hanya 521 RB Subscriber, tetapi jumlah tersebut masih jauh di bawah Yufid TV dengan subscriber 3,75 JT.

Ketimpangan jumlah ini terjadi karena terlambatnya NU dan Muhammadiyah menggunakan media Youtube, bahwa NU Chanel baru mulai tahun 2017 dan Muhammadiyah mulai tahun 2014. Sedangkan Yufid TV sudah mulai tahun 2011.

Selain itu jumlah video yang diunggah Yufid TV lebih banyak dibanding NU Chanel and tvMU. Yang membuat NU channel dan tvMu kalah populer juga karena tampilan thumbnail di NU Channel and tvMU yang kalah menarik jika dibanding thumbnail Yufid TV.

Pada media Youtube kemampuan untuk membuat judul dan thumbnail menjadikan lebih sering muncul di laman beranda. Perihal inilah yang pada akhirnya membuat generasi Z kurang tertarik untuk mengakses pengetahuan agama dari NU Chanel maupun tvMU.

Maka perlu untuk NU dan Muhammadiyah berbenah untuk membuat kanal Youtube yang lebih produktif dengan melibatkan anak muda NU dan Muhammadiyah yang memiliki kemampuan dalam mendukung kanal Youtube NU dan Muhammadiyah, serta menghadirkan konten yang lebih kreatif, sehingga bisa mendapatkan popularitas yang signifikan dibanding kanal Youtube Salafi-Wahabi.

Avatar photo

Penulis

Dosen IAIN Langsa yang hobi membaca buku. Meminati Psikologi, Sosiologi, Filsafat, dan Studi Islam

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • BIN Daerah Kalsel Sumbangkan Sapi Kurban untuk Masyarakat melalui Rabithah Melayu Banjar

    BIN Daerah Kalsel Sumbangkan Sapi Kurban untuk Masyarakat melalui Rabithah Melayu Banjar

    • calendar_month Kamis, 28 Mei 2026
    • account_circle Noura Dalla Adilla
    • visibility 71
    • 1Komentar

    Banjarmasin – Pimpinan BIN Daerah Kalimantan Selatan, seperti tahun sebelumnya, pada momen Idul-adha 1447 Hijriah ini, kembali menyumbangkan seekor sapi melalui Badan Perkumpulan Rabithah Melayu Banjar. Penyembelihan sapi kurban ini dilakukan pada hari ke-2 Idul-adha, Kamis, 28 Mei 2026, bekerja sama dengan PWNU Provinsi Kalimantan Selatan. Lokasi penyembelihan dilakukan di kawasan kediaman Bendahara PWNU Provinsi […]

  • Menyongsong Muktamar: Sejumlah Tokoh Berkibar, Inilah Profil Singkat dan Peta Kekuatan Pimpinan PBNU Mendatang

    Menyongsong Muktamar: Sejumlah Tokoh Berkibar, Inilah Profil Singkat dan Peta Kekuatan Pimpinan PBNU Mendatang

    • calendar_month Jumat, 29 Mei 2026
    • account_circle Chatib Nourie Syaher
    • visibility 79
    • 0Komentar

    Oleh: Chatib Nourie Syaher , Catatan dari Kairo, Mesir – Menjelang Muktamar ke-35 NU tahun 2026, saya mengikuti pemberitaan melalui berbagai media dan diskusi dengan sejumlah mahasiswa serta tokoh NU di Mesir. Tulisan Purwanto M. Ali, aktivis NU dan Ketua PP GP Ansor 2005–2011, melalui media Facebook, Jumat, 29 Mei 2026, sangat menginspirasi. Mantan aktivis […]

  • Kebohongan Itu Dimulai dari Sistem Pendidikan

    Kebohongan Itu Dimulai dari Sistem Pendidikan

    • calendar_month Senin, 6 Jul 2026
    • account_circle Romario
    • visibility 19
    • 0Komentar

    Oleh: Romario* — Selama bergelut dalam dunia pendidikan ada satu hal yang penulis sadari, bahwa sistem pendidikan begitu rumit dan penuh kebohongan. Ada satu bagian yang penulis paling tidak sukai dan rasanya menjadi Bullshit Job seperti kata David Breegeer, yakni soal akreditasi atau istilah lainnya Borang. Bahkan borang ini punya plesetan singkatan Bohong dan ngarang, […]

  • Rais Syuriah NU Kalsel, KH Muhammad Wildan Salman: “Pertegas Semangat Persatuan”

    Rais Syuriah NU Kalsel, KH Muhammad Wildan Salman: “Pertegas Semangat Persatuan”

    • calendar_month Kamis, 11 Jun 2026
    • account_circle Noura Dalla Adilla
    • visibility 21
    • 0Komentar

    Rais Syuriah NU Kalsel, KH Muhammad Wildan Salman: “Pertegas Semangat Persatuan” BANJARMASIN – The Nusantara Insight :  Rais Syuriah PWNU Provinsi Kalimantan Selatan, KH Muhammad Wildan Salman, menegaskan perlunya jamiyyah Nahdlatul Ulama untuk memelopori semangat persatuan bagi Masyarakat luas, baik untuk urusan agama, bangsa atau negara. Penegasan ini disampaikan tokoh ulama Martapura ini, saat menerima […]

  • Di Persimpangan Jalan: Kependidikan atau Industri?

    Di Persimpangan Jalan: Kependidikan atau Industri?

    • calendar_month Jumat, 29 Mei 2026
    • account_circle Eko Wahyu Nur Sofianto
    • visibility 57
    • 0Komentar

    Oleh: Eko Wahyu Nur Sofianto* — Beberapa hari ini, media diramaikan dengan wacana “Penutupan Program Studi (Prodi) Kependidikan” yang digulirkan oleh pemerintah. Dalam hal ini yaitu Kementerian Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi (Kemdiktisaintek) yang menyatakan bahwa Prodi Kependidikan atau Pendidikan menghasilkan lulusan yang melebihi kebutuhan sehingga angka keterserapannya rendah. Berbagai pernyataan masyarakat bermunculan di media […]

  • Tak Ada Yang Lebih Revolusioner Dari Seorang Pembaca Buku

    Tak Ada Yang Lebih Revolusioner Dari Seorang Pembaca Buku

    • calendar_month Selasa, 23 Jun 2026
    • account_circle Romario
    • visibility 19
    • 0Komentar

    Oleh: Romario* — Ada kesalahan besar soal bagaimana media menggambarkan pembaca buku, seseorang yang berkacamata sambil mendekap sebuah buku. Padahal pembaca buku adalah orang-orang revolusioner, mereka datang dengan gagasan yang meruntuhkan apa yang telah dipercayai begitu saja. Mereka menelurkan keindahan dan kebrutalan dalam balutan sastra, bahkan menulis sajak-sajak yang bisa saja mengganggu penguasa. Pendiri Republik ini adalah […]

expand_less