Ulasan Buku Sekolah Itu Candu: Mempertanyakan Lagi Fungsi Sekolah
- account_circle Romario
- calendar_month Jumat, 10 Jul 2026
- visibility 5
- comment 0 komentar
- print Cetak

Cover buku dengan sedikit penyesuaian yang diilustrasikan oleh AI
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Cover buku “Sekolah Itu Candu”
Oleh: Romario* — Kata sekolah berasal dari bahasa Latin skhole, scola, scolae, atau schola yang artinya waktu luang yang digunakan untuk belajar. Pada mulanya sekolah berfungsi sebagai waktu luang anak-anak.
Untuk mengisi kegiatan anak-anak, dikirimlah mereka kepada orang yang terpelajar untuk menambah pengetahuan, belajar menulis, membaca, dan berhitung.
Seiring waktu, sekolah menjadi tempat yang terlembagakan, sistem pendidikan, kurikulum, memiliki sebuah bangunan, tenaga pengajar, pimpinan, dan tenaga administrasi.
Padahal sekolah tidak harus seperti itu. Hakikatnya sekolah adalah waktu luang untuk belajar, maka ada juga sekolah yang tidak memiliki mata pelajaran yang baku, jadwal jam pelajaran, kelas-kelas yang bertingkat, jurusan, dan kebebasan memilih apa yang ingin dipelajari.
Setelah kemerdekaan, sekolah masih berdiri jadi tempat institusi untuk mendidik seorang anak, dari zaman Orde Lama, Orde Baru, hingga reformasi kini.
Sekolah yang terdiri dari SD, SMP, hingga SMA telah menjadi tempat pendidikan bagi anak selama 12 tahun, tapi selama 12 tahun itu, sekolah tidak memiliki fungsi apa-apa, selain menghasilkan orang-orang memiliki ijazah, tanpa ada rasa memiliki kesadaran dalam berpikir untuk mewujudkan keadaan jadi lebih baik.
Bahkan sekolah menjadi bisnis yang menjanjikan, sampai ada yang menyatakan bahwa ya sekolah itu bisnis.
Maka kita bisa melihat berdirinya banyak sekali sekolah, terutama sekolah swasta yang telah menjamur di berbagai kota dan desa.
Melalui pendirian sebuah yayasan, maka sekolah dengan cepat meraup untung di dunia pendidikan, mempromosikan sekolah, merekrut sebanyak mungkin anak-anak, agar semakin banyak uang pendaftaran yang bisa dihasilkan, atau keuntungan yang didapatkan.
Maka sekolah pada akhirnya, tak ubahnya seperti perusahaan.
Buku Sekolah Itu Candu karya Roem Topatimasang mengkritik keras soal sekolah. Ia menyatakan bahwa sekolah sudah mati karena tidak memiliki fungsinya sama sekali, sekolah hanya jadi formalitas seorang anak tanpa belajar apa pun yang dekat dengan kesehariannya.
Sebagai rumusan menurut Benjamin S. Bloom, sekolah berfungsi untuk membentuk sikap kemanusiaan, menambah ilmu pengetahuan, dan memberikan keterampilan.
Pertanyaannya, apa sekolah masih melakukan fungsi itu, karena jika yang dihasilkan adalah setengah manusia, seperempat binatang, dan seperempat setan.
Dan bicara soal pengetahuan pun, yang terjadinya hanyalah rubrik informasi, pun begitu juga bicara keterampilan, ketika 12 tahun sekolah, pada akhirnya siswa tidak bisa langsung kerja, kecuali harus ikut kursus ini, kursus itu, dan pelatihan.
Kesalahan memilih jurusan pun diakibatkan dari sekolah. Berapa banyak orang yang kuliah di jurusan ekonomi malah menjadi kasir, orang yang kuliah di jurusan hukum menjadi guru, orang yang kuliah di jurusan perikanan jadi pengajar di lembaga bahasa Inggris, orang yang kuliah di jurusan pendidikan jadi wirausahawan, dan banyak lagi.
Dan masih kita pertanyakan, masihkah sekolah berfungsi sebagaimana mestinya, atau perlahan sekolah memang sudah mati. Dan perlu sekolah alternatif.
Dalam buku ini juga memaparkan perlunya alternatif sekolah yang bukan dengan sistem sekarang, dan barangkali yang menjadi contoh adalah Sanggar Anak Alam yang ada di Yogyakarta.
Di tempat itu anak-anak dibebaskan untuk membuat kesepakatan dalam belajar, apa yang ingin dipelajari, bahkan diberikan kesempatan untuk melakukan penelitian lebih dalam.
Seorang anak yang suka kereta api, belajar sejak dini, komponen kereta api, mesin-mesinnya, alat-alatnya, dan membuatnya paham soal kereta api, karena cita-citanya menjadi masinis.
Anak lain, yang ingin menjadi penulis, sejak dini belajar tentang kepenulisan, menuangkan isi pikirannya, hingga ia bisa menghasilkan buku.
Semestinya begitulah sekolah, ia membebaskan siswa, bukannya terjebak dengan sistem yang mengharuskan mempelajari segala hal.
Kita bisa merefleksikan sendiri lewat pengalaman selama sekolah, ada berapa banyak mata pelajaran yang rasanya tak terlalu relevan ketika sudah menginjak dewasa, kecuali hanya sekadar tahu.
Sudah SMA pun kita belum tahu, mau apa yang ingin dicapai, semua pelajaran disuapi begitu saja.
Penulis Romario
Dosen IAIN Langsa yang hobi membaca buku. Meminati Psikologi, Sosiologi, Filsafat, dan Studi Islam

Saat ini belum ada komentar