Breaking News
light_mode
Beranda » Resensi » Ulasan Buku Sekolah Itu Candu: Mempertanyakan Lagi Fungsi Sekolah

Ulasan Buku Sekolah Itu Candu: Mempertanyakan Lagi Fungsi Sekolah

  • account_circle Romario
  • calendar_month Jumat, 10 Jul 2026
  • visibility 19
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Cover buku “Sekolah Itu Candu”

Oleh: Romario* — Kata sekolah berasal dari bahasa Latin skhole, scola, scolae, atau schola yang artinya waktu luang yang digunakan untuk belajar. Pada mulanya sekolah berfungsi sebagai waktu luang anak-anak.

Untuk mengisi kegiatan anak-anak, dikirimlah mereka kepada orang yang terpelajar untuk menambah pengetahuan, belajar menulis, membaca, dan berhitung.

Seiring waktu, sekolah menjadi tempat yang terlembagakan, sistem pendidikan, kurikulum, memiliki sebuah bangunan, tenaga pengajar, pimpinan, dan tenaga administrasi.

Padahal sekolah tidak harus seperti itu. Hakikatnya sekolah adalah waktu luang untuk belajar, maka ada juga sekolah yang tidak memiliki mata pelajaran yang baku, jadwal jam pelajaran, kelas-kelas yang bertingkat, jurusan, dan kebebasan memilih apa yang ingin dipelajari.

Setelah kemerdekaan, sekolah masih berdiri jadi tempat institusi untuk mendidik seorang anak, dari zaman Orde Lama, Orde Baru, hingga reformasi kini.

Sekolah yang terdiri dari SD, SMP, hingga SMA telah menjadi tempat pendidikan bagi anak selama 12 tahun, tapi selama 12 tahun itu, sekolah tidak memiliki fungsi apa-apa, selain menghasilkan orang-orang memiliki ijazah, tanpa ada rasa memiliki kesadaran dalam berpikir untuk mewujudkan keadaan jadi lebih baik.

Bahkan sekolah menjadi bisnis yang menjanjikan, sampai ada yang menyatakan bahwa ya sekolah itu bisnis.

Maka kita bisa melihat berdirinya banyak sekali sekolah, terutama sekolah swasta yang telah menjamur di berbagai kota dan desa.

Melalui pendirian sebuah yayasan, maka sekolah dengan cepat meraup untung di dunia pendidikan, mempromosikan sekolah, merekrut sebanyak mungkin anak-anak, agar semakin banyak uang pendaftaran yang bisa dihasilkan, atau keuntungan yang didapatkan.

Maka sekolah pada akhirnya, tak ubahnya seperti perusahaan.

Buku Sekolah Itu Candu karya Roem Topatimasang mengkritik keras soal sekolah. Ia menyatakan bahwa sekolah sudah mati karena tidak memiliki fungsinya sama sekali, sekolah hanya jadi formalitas seorang anak tanpa belajar apa pun yang dekat dengan kesehariannya.

Sebagai rumusan menurut Benjamin S. Bloom, sekolah berfungsi untuk membentuk sikap kemanusiaan, menambah ilmu pengetahuan, dan memberikan keterampilan.

Pertanyaannya, apa sekolah masih melakukan fungsi itu, karena jika yang dihasilkan adalah setengah manusia, seperempat binatang, dan seperempat setan.

Dan bicara soal pengetahuan pun, yang terjadinya hanyalah rubrik informasi, pun begitu juga bicara keterampilan, ketika 12 tahun sekolah, pada akhirnya siswa tidak bisa langsung kerja, kecuali harus ikut kursus ini, kursus itu, dan pelatihan.

Kesalahan memilih jurusan pun diakibatkan dari sekolah. Berapa banyak orang yang kuliah di jurusan ekonomi malah menjadi kasir, orang yang kuliah di jurusan hukum menjadi guru, orang yang kuliah di jurusan perikanan jadi pengajar di lembaga bahasa Inggris, orang yang kuliah di jurusan pendidikan jadi wirausahawan, dan banyak lagi.

Dan masih kita pertanyakan, masihkah sekolah berfungsi sebagaimana mestinya, atau perlahan sekolah memang sudah mati. Dan perlu sekolah alternatif.

Dalam buku ini juga memaparkan perlunya alternatif sekolah yang bukan dengan sistem sekarang, dan barangkali yang menjadi contoh adalah Sanggar Anak Alam yang ada di Yogyakarta.

Di tempat itu anak-anak dibebaskan untuk membuat kesepakatan dalam belajar, apa yang ingin dipelajari, bahkan diberikan kesempatan untuk melakukan penelitian lebih dalam.

Seorang anak yang suka kereta api, belajar sejak dini, komponen kereta api, mesin-mesinnya, alat-alatnya, dan membuatnya paham soal kereta api, karena cita-citanya menjadi masinis.

Anak lain, yang ingin menjadi penulis, sejak dini belajar tentang kepenulisan, menuangkan isi pikirannya, hingga ia bisa menghasilkan buku.

Semestinya begitulah sekolah, ia membebaskan siswa, bukannya terjebak dengan sistem yang mengharuskan mempelajari segala hal.

Kita bisa merefleksikan sendiri lewat pengalaman selama sekolah, ada berapa banyak mata pelajaran yang rasanya tak terlalu relevan ketika sudah menginjak dewasa, kecuali hanya sekadar tahu.

Sudah SMA pun kita belum tahu, mau apa yang ingin dicapai, semua pelajaran disuapi begitu saja.

Avatar photo

Penulis

Dosen IAIN Langsa yang hobi membaca buku. Meminati Psikologi, Sosiologi, Filsafat, dan Studi Islam

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Paradoks NU: Ketika Membesar, Jangan Sampai Kehilangan Akar

    Paradoks NU: Ketika Membesar, Jangan Sampai Kehilangan Akar

    • calendar_month Senin, 1 Jun 2026
    • account_circle Eko Ernada
    • visibility 37
    • 0Komentar

    Oleh : Eko Ernada, Grad.Dipl.IR, Ph.D.*  –  Ketika para kiai mendirikan Nahdlatul Ulama (NU) pada 1926, sulit membayangkan bahwa organisasi yang lahir dari jaringan pesantren, langgar, dan komunitas-komunitas lokal itu kelak menjelma menjadi salah satu organisasi Islam terbesar di dunia. Dari ruang-ruang sederhana tempat para ulama mendiskusikan masa depan umat, NU tumbuh menjadi kekuatan sosial-keagamaan […]

  • Dokument Pribadi

    Mei yang Damai, Menuju Indonesia Negara Damai

    • calendar_month Sabtu, 30 Mei 2026
    • account_circle M Syarbani Haira
    • visibility 50
    • 0Komentar

    Oleh : M Syarbani Haira – Sebentar lagi kita akan meninggal Mei 2026. Bagi saya, Mei begitu bersejarah. Dibulan ini saya lahir, dan dibulan ini pula saya ikut berdemo menggulingkan Jenderal Besar Soeharto bersama aktivis se Nusantara. Tahun 1977-1978, saya pernah menjadi bagian dari perjuangan mahasiswa di Yogyakarta, menolak pencalonan kembali Presiden Soeharto menjadi Presiden […]

  • Di Persimpangan Jalan: Kependidikan atau Industri?

    Di Persimpangan Jalan: Kependidikan atau Industri?

    • calendar_month Jumat, 29 Mei 2026
    • account_circle Eko Wahyu Nur Sofianto
    • visibility 66
    • 0Komentar

    Oleh: Eko Wahyu Nur Sofianto* — Beberapa hari ini, media diramaikan dengan wacana “Penutupan Program Studi (Prodi) Kependidikan” yang digulirkan oleh pemerintah. Dalam hal ini yaitu Kementerian Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi (Kemdiktisaintek) yang menyatakan bahwa Prodi Kependidikan atau Pendidikan menghasilkan lulusan yang melebihi kebutuhan sehingga angka keterserapannya rendah. Berbagai pernyataan masyarakat bermunculan di media […]

  • Moderasi Beragama dan Algoritma Media Sosial: Mengapa Dakwah NU dan Muhammadiyah Tertinggal di YouTube?

    Moderasi Beragama dan Algoritma Media Sosial: Mengapa Dakwah NU dan Muhammadiyah Tertinggal di YouTube?

    • calendar_month Sabtu, 27 Jun 2026
    • account_circle Romario
    • visibility 59
    • 0Komentar

    Oleh: Romario* — NU dan Muhammadiyah adalah dua organisasi Islam yang sudah lama eksis di Indonesia. Secara historis baik NU dan Muhammadiyah terlibat dalam urusan negara bangsa serta memiliki anggota yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia serta menjadi wajah Moderasi Beragama. Seiring perkembangan teknologi dan masuknya gerakan Islam transnasional memberi ancaman bagi NU dan […]

  • Menjelajahi Berita Terkini dan Esai Menarik

    Menjelajahi Berita Terkini dan Esai Menarik

    • calendar_month Sabtu, 23 Mei 2026
    • account_circle Developer
    • visibility 39
    • 0Komentar

    Berita Terkini Dalam dunia yang serba cepat, mendapatkan berita terkini adalah suatu keharusan. Para pembaca sering mencari informasi terbaru tentang politik, teknologi, budaya, dan kesehatan. Dengan memahami isu-isu ini, kita dapat lebih siap menghadapi tantangan zaman modern. Misalnya, berita politik sering kali menjadi pusat perhatian, memberikan insight tentang kebijakan yang dapat mempengaruhi banyak orang. Esai […]

  • Ulasan Buku Kiat Menjadi Diktator: Ketika Pemimpin Gila Berkuasa

    Ulasan Buku Kiat Menjadi Diktator: Ketika Pemimpin Gila Berkuasa

    • calendar_month Minggu, 19 Jul 2026
    • account_circle Romario
    • visibility 37
    • 0Komentar

    Oleh: Romario* — Membaca buku Kiat Sukses Menjadi Diktator karya Mikal Hem, membuatku terperangah, heran, dan sungguh tak masuk logika. Buku ini mengumpulkan bagaimana pemimpin-pemimpin gila berkuasa. Dalam buku ini Soeharto sebagai presiden kedua di Indonesia termasuk pemimpin gila, di barisan pemimpin gila, dirinya mendapat predikat pemimpin terkorup di dunia. Selain Soeharto ada begitu banyak […]

expand_less