Profil KH Zulfa Mustofa, Kandidat Ketua Umum PBNU 2026-2031
- account_circle Noura Dalla Adilla
- calendar_month Kamis, 9 Jul 2026
- visibility 15
- comment 0 komentar
- print Cetak

Kyai Haji Zulfa Mustofa, Kandidat Ketua Umum PBNU 2026-2031
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jakarta – The Nusantara Insight : Hiruk pikuk Munas NU mengenai lokasi muktamar, berakhir sudah. PBNU, melalui rapat gabungan Syuriah dan Tanfidziah, melaksanakan pertemuan khusus, yang dihadiri lengkap. Termasuk tim survei yang sudah turun ke lapangan.
PBNU akhirnya memutuskan jika Muktamar NU ke-35 ini, akan dilaksanakan di Pesantren Tambak Beras, Jombang, Jawa Timur. Event 5 tahunan ini sedikit mengalami pengunduran waktu, dari yang semula dijadwalkan 1 – 5 Agustus 2026, menjadi 27 – 31 Agustus 2026.
Keputusan ini disampaikan langsung Rais Aam PBNU, KH Miftahul Achyar, bersama sejumlah pimpinan PBNU lainnya di Kantor PBNU, lantai 8, Selasa (7/7/2026). Tentu saja setelah mendengarkan semua masukan dari peserta rapat, dan tim survei yang melaporkan hasil kunjungannya. Sebagaimana diketahui, tim survei ada yang ke Sumatera Barat, NTB, Jakarta, Jawa Barat dan Jawa Timur.
Ketua Panitia OC Muktamar NU ke-35, H. Saifullah Yusuf, menjelaskan, “akhirnya rapat gabungan PBNU menetapkan Pondok Pesantren Tambakberas, Jombang, yang didirikan Kyai Wahab Chasbullah, sebagai tuan rumah Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama, yang akan diselenggarakan pada 27 Agustus 2026”, ungkap Gus Iful, yang juga Sekjen PBNU ini.
Keputusan ini harapannya bisa mengurangi tensi dan hiruk pikuk di lingkungan Nahdlatul Ulama, oleh berbagai kelompok kepentingan. Termasuk kemungkinan pemerintah, yang berharap agar NU bisa menjadi wadah pemersatu umat, agar tidak berkonflik untuk kepentingan kelompoknya masing-masing
Di sisi lain, sejumlah tokoh dan aktivis NU, pun sudah siap-siap melangkah, untuk memenangkan kontestasi jam’iyyah akbar organisasi keagamaan terbesar di dunia ini, dengan jumlah anggota lebih dari 150 juta jiwa itu.
Perlu dicatat, dan untuk diperhatikan public luas, regulasi yang ada di perkumpulan PBNU, dalam muktamar itu ada pemilihan Rais Aam Syuriah PBNU, Ketua Umum Tanfidziah PBNU, dan sejumlah perangkat jabatan penting lainnya.
Karena regulasinya begitu, maka tak aneh jika perkumpulan para ulama ini nampak seperti ada kisruh, muktamar sama dengan rebutan jabatan. Ini salah kaprah banyak pihak, bahwa kenapa di NU selalu ada kisruh jika muktamar diselenggarakan. NU meyakini, system demokrasi, pilihan one man on vote, adalah pilihan terbaik. Untuk itu harus ada rebutan, kontestasi. Siapa yang berhasil membranding dirinya, maka dialah yang akan keluar sebagai pemenang.
Hingga hari ini, sejumlah nama yang berpeluang kembali menjadi Rais Aam Syruah PBNU. Seperti, pejabat incumbent, KH. Miftahul Achyar. Beberapa nama lain yang juga mungkin ikut berkontestasi ada nama KH Makruf Amin (mantan Rais Aam PBNU), KH. Afifuddin Muhajir (Wakil Rais Aam PBNU, Prof. KH Asep Saifuddin Chalim (Ketua Umum Pergunu), KH Nurul Huda Djazuli (Pesantren Ploso, Kediri), KH Abdullah Kafabihi Mahrus (Pesantren Lirboyo, Kediri), KH Said Aqil Siraj (mantan Ketua Umum PBNU).
Nama lainnya adalah Tgk H Nuruzzahri Yahya (Dayah Ummul Ayman, Aceh), KH Guru Muhammad Wildan Salman (Pesantren Tahfizh Darussalam, Kalimantan Selatan), AGH KH Baharuddin (Pimpinan Thoriqat, Sulawesi Selatan), TGH Turmudzi Badruddin (Pesantren Qomarul Huda, Lombok Tengah, NTB), dan sejumlah tokoh ulama lainnya. Jika bukan untuk menjadi Rais Aam Syuriah PBNU, minimal mereka nanti akan menjadi tim AHWA, figure yang akan menetapkan siapa Rais Aam Syuriah PBNU?
Sementara sejumlah nama yang akan ikut kontestasi menjadi Ketua Umum Tanfidziah PBNU, selain incumbent Gus Yahya, beberapa nama dan wajah baru sudah mulai bermunculan. Misalnya : KH. Zulfa Mustofa (Wakil Ketua Umum Tanfidziah PBNU sekarang), Prof. Dr. Muhammad NUH (Rais Syuriah PBNU), Gus Yusuf atau KH Yusuf Khodary (tokoh NU Magelang).
Selain itu ada pula nama seperti Gus Salam atau KH Abdurrahman Shohib (Pesantren Mambaul Ma’arif Denanyar, Jombang), Gus Kikin atau KH Abdul Hakim Mahfudz (Pesantren Tebuireng, Jombang), Heri Azumi (mantan aktivis PMII), dan Prof. Dr. Nasaruddin Umar (Menteri Agama RI). Tidak hanya itu, juga disebut nama pimpinan pesantren Amanatul Ummat, Prof. Dr. KH. Asep Saifuddin Chalim. Siapa nanti yang akan dipercaya memimpin PBNU, itu tergantung atensi para muktamirin.
Sekilas Kyai Zulfa
Sebagai santriwati di sebuah pesantren di Kalimantan Selatan, yang kebetulan kedua orang tua saya sama-sama aktivis NU, maka sedikit banyak keadaan sangat mempengaruhi pikiran saya tentang seluk beluk dan perjalanan Nahdlatul Ulama. Apalagi sejumlah buku dan kitab, baik milik kedua orang tua saya, bahkan milik kakek saya yang sudah almarhum, banyak sekali terkait dengan jam’iyyah NU dan faham Aswaja.
Nama Kyai Zulfa Mustofa mulai dikenal oleh masyarakat luas di Kalimanan khususnya setelah beliau beberapa kali berkunjung ke Bumi Kalimantan. Tidak hanya di Kalimantan Selatan di mana saya tinggal, juga ke Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur.
Figur beliau sebagai pimpinan NU menjadi relevan dengan kemampuan dan kompetensi beliau dengan kitab-kitab yang selama ini selalu menjadi rujukan keluarga besar NU. Penampilan beliau, baik secara langsung, atau pun melalui berbagai media social lainnya, sangat memukau dan mempesona. Suaranya nan indah jika sedang bersyair, fasih, dan merdu, membuat jamaah hadirin lupa diri jika mereka sebetulnya capek duduk bersila. Ini antara lain kehebatan salah satu cicit dari ulama besar, Kyai Haji Nawawi Banten ini.
Keponakan Kyai Makruf Amin ini pernah mendapat kepercayaan jajaran Syuriah dan Tanfidziah PBNU, di mana saat terjadi konflik PBNU karena Ketua Umumnya salah satunya tertuduh sebagai “bayangan” dari pemikiran politik Amerika Serikat dan Israel. Salah satu indikasinya adalah dengan mengundang tokoh ilmuan pendukung zionis Israel dalam Pendidikan NU, AKN. Tahun 2025 itu Ketum PBNU sempat dimakzulkan, dan PBNU kemudian menunjuk Kyai Zulfa Mustofa sebagai Pejabat Ketua Umum.
Hebatnya, beliau seorang yang berpikiran legowo. Saat terjadi ishlah, Kyai Zulfa berkenan mundur sebagai Pj Ketua Umum PBNU. Beberapa pihak berkomentar, “jika saja Kyai Zulfa tidak bersedia mundur, maka upaya untuk melaksanakan muktamar NU sesegeranya tidak akan pernah bisa terselenggara”.
Sikap rendah diri Kyai Zulfa Mustofa ini terlihat dalam kesehariannya. Beliau tak segan-segan menegur orang yang belum lama dikenalnya, tidak sombong dan tidak angkuh. Undangan kemana pun, selama ada waktu lowong segera akan dipenuhinya.
Meski lahir di Jakarta, dan berasal dari zuriat ulama Banten, Kyai Zulfa meneruskan Pendidikan di Pekalongan, Jawa Tengah, Madrasah Tsanawiyah Salafiyah Simbangkulon. Kemudian, beliau masih meneruskan nyantri untuk mendalami ilmu-ilmu agama di Pesantren Mathali’ul Falah, Kajen, Pati, Jawa Tengah.
Setelah sekian tahun menjadi santri di Jawa Tengah ini, beliau kerap kali mengisi berbagai acara di Jawa Tengah khususnya. Belakangan beliau kerapkali juga diundang ke berbagai daerah di Nusantara, termasuk di bumi Kalimantan, Sumatera dan Sulawesi.
Sebagai ulama, beliau juga telah menulis sejumlah kitab berbahasa arab. Antaranya, kitab al-Fatwa wa ma La Yanbaghi Li ai-Mutafaqqah Kahluhu. Kitab lainnya yang juga sudah beliau public adalah Diqqat al Qonnas fi Fahmi Kalam al-Imam al-Syafi’i.
Menariknya, di tengah kisruh PBNU, Kyai Zulfa Kembali akan melaunching kitabnya yang baru, berjudul “Ithafu Ummati Al Muqtafa”. Kitab baru ini akan dibedah bersama tokoh NU se Nusantara besok Jumat malam, 10 Juli 2026, di Aula Sakinah Masjid Sunda Kelapa, Menteng, Jakarta Pusat. Beberapa tokoh NU Nusantara masyarakan muslim lainnya merespon positif event ini, sekaligus karya Kyai Zulfa yang terbaru ini.
Rekan-rekan dan sahabat-sahabat yang kepengen lebih jauh mengetahui sepak terjang dan aktivitas Kyai Zulfa Mustofa, bisa membuka beberapa publikasi penting. Misalnya : “Biografi KH Zulfa Mustofa” (edisi Bahasa Inggris), “Susunan Lengkap Kepengurusan PBNU 2022-2027” (nu.or.id), “Biografi KH Zulfa Mustofa Waketum PBNU Kiai alim Keturunan Syekh Nawawi Banten” ( tahun 2022, www.sinergimadura.com).
Publikasi lainnya berjudul, “Mahasiswa Unusida Ikuti Kuliah Umum Bersama KH Zulfa Mustofa, Wakil Ketua Umum PBNU” (Unusida NU Sidoarjo – dalam Bahasa American Englis, 2022), “Kisah Tentang KH Zulfa Mustofa” oleh Suluk.ID Nahdlatul Ulama Tuban (dalam Bahasa American English), “Mengenal Lebih Dekat Ketum & Sektum MUI DKI Masa Khidmat 2013-2018, oleh Majelis Ulama Indonesia Provinsi DKI Jakarta (dalam Bahasa American English), dan sejumlah publikasi yang bertebaran di Nusantara dan luar negeri.
Karena ilmunya yang alim dan mendalam itulah, maka pada tanggal 25 September 2024 UIN Sunan Ampel (UINSA) Surabaya memberikan gelar Doktor Honoris Causa, untuk bidang ilmu ‘Arudl (ilmu tentang sajak / syair Arab) dan Kesusastraan Arab. Upacara pengukuhan dilakukan secara khusus dalam siding senat terbuka, yang dipimpin Rektor UIN Surabaya Prof Akhmad Muzakki.
UIN Surabaya menilai karena keahliannya yang dinilai langka itu, maka Kyai Zulfa diberikan Gelar Kehormatan, sebagai apresiasi. Bagi UIN Surabaya, karya Kyai Zulfa patut digunakan untuk memahami ilmu Bahasa serta menanamkan Pendidikan karakter yang menyentuh afektif dan seni.
Melihat kiprahnya yang nyata untuk umat, dan lincah dalam bersikap, menjadi layak sekali jika para muktamirin memilih beliau sebagai Ketua Umum tanfidziah PBNU. Bagaimana pun, tokoh muda NU ini bagaikan berlian yang bersinar dari timur, untuk Nusantara dan dunia Islam pada umumnya di masa yang akan datang. Wallahu a’la bis-sawab … !!!

Saat ini belum ada komentar