Breaking News
light_mode
Beranda » Berita » In Memorium Haji Muhammad Shaleh

In Memorium Haji Muhammad Shaleh

  • account_circle M Syarbani Haira
  • calendar_month Minggu, 31 Mei 2026
  • visibility 60
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

By : M Syarbani Haira – Minggu pagi, akhir Mei 2026, sekitar pukul 08.00 wita, notifikasi HP saya berbunyi. Ternyata kabar duka. Salah satu adik sepupu saya, Haji Muhammad Shaleh, meninggal dunia, dalam usia sekitar 52 tahun. Pria kelahiran desa Tayur kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) ini meninggalkan seorang isteri dan beberapa anak, untuk selama-lamanya. Informasinya, jenazah akan dimakamkan di kawasan kota Palangkaraya, setelah dilakukan shalat kifayah, usai shalat Ashar, sore ini.

Om Shaleh, demikian kami biasa memanggilnya, setelah menamatkan pendidikan  menengah atas di Amuntai, kabupaten HSU, ia memilih merantau ke provinsi tetangga, Kalimantan Tengah. Beruntungnya, dia lulus sebagai PNS, menjadi guru di salah satu Madrasah Ibtidaiyah. Kala itu, orangtuanya, Johan Isani, masih hidup, membersamai keluarganya di desa yang berbatasan antara kabupaten HSU dengan Tabalong. Orangtuanya juga seorang guru, ustadz. Tetapi bukan di bawah Departemen Agama, melainkan di bawah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (kala itu).

Ayahnya, Johan Isani, salah satu rekan baik almarhum Ustadz Rafi’i Hamdi, warga desa Sungai Rukam I (Pugaan / Halangan), kabupaten Tabalong, yang tinggal di kota Banjarmasin. Johan Isani sendiri juga orang Sungai Rukam. Bedanya, Ustadz Rafi’i Hamdi desa Sungai Rukam I, sedangkan Johan Isani desa Sungai Rukam II. Kampung mereka hanya dibatasi Sungai Tabalong (kiwa/kiri dan kanan), yang memanjang dari kawasan Jaro, Muara Harus, Tanta hingga muara Sungai Negara (Amuntai). Panjang sungai ini sekitar 45 kilometer, atau 28 mil.

Keduanya sama-sama aktivis PII (Pelajar Islam Indonesia), tetapi berbeda jalan saat memasuki usia dewasa. Ustadz Rafi’i Hamdi menjadi tokoh provinsi, pernah menjadi Ketua Badan Pengelola Mesjid Raya Sabilal Muhtadin, sedangkan Johan Isani memilih mengabdi di kampung halaman, sama-sama menjadi guru, pendidik. Almarhum Muhammad Shaleh mengikuti jejak ayahnya, sebagai pendidik. Namun lokasinya lumayan jauh, di provinsi tetangga, Kalimantan Tengah.

Hubungan saya dengan almarhum Haji Muhammad Shaleh tersambung dari ibunya, almarhum Siti Rusnah, isteri Johan Isani. Pasangan suami isteri ini sudah lama wafat, mendahului ibu saya, Hajjah Siti Zubaidah, kakak dari Siti Rusnah binti Haji Abdul Malik, salah satu tokoh masyarakat kawasan Amuntai Utara, asal Barabai.

Ibu saya punya banyak saudara perempuan, dan hanya 2 orang laki-laki. Catatan saya, ibu saya anak tertua, adik-adiknya ada Hajjah Siti Aisyah (sudah almarhum), Siti Asmah (wafat saat usia 20-an), Siti Rusnah (ibunya Haji Muhammad Shaleh), dan Siti Nikmah (alm). Dua adik perempuannya masing-masing Siti Aluh Hapsah (masih hidup dan sudah sakit-sakitan), serta Hajjah Siti Ernawati (masih segar bugar). Dua saudaranya laki-laki juga sudah wafat semua, masing-masing Abdul Muthalib (wafat masih anak-anak), dan Abdussamad (baru wafat sekitar setahun silam, di kota Banjarmasin).

Dengan adinda almarhum Haji Muhammad Shaleh ini, saya tidak terlalu akrab. Karena ia lahir Desember 1974, sedangkan saya meninggalkan kampung di penghujung 1977, untuk studi di kota pelajar, Yogyakarta. Jarak desa saya dengan kampungnya memang tidak terlalu jauh, kisaran 5 kilometer. Masalahnya, jalan dan transportasi kala itu relative ribet. Jadi saya tidak sering main dengannya, akibatnya tidak mengenal baik, yang kala itu masih anak-anak.

Saya justru bersahabat baik pasca yang bersangkutan mendapat tugas di Kalimantan Tengah. Kebetulan kala itu, saya kerap ke Palangka Raya, untuk tugas kantor, urusan pendidikan. Setiap saya ke Palangka Raya, saya pasti memanggilnya, untuk sekadar ngobrol, makan dan ngopi. Pada saat salah satu puteranya nyantri di Pesantren Darul Hijrah, Martapura, kami semakin kerap ketemu, karena putera saya juga menjadi yunior anaknya di pesantren tersebut.

Saya justru lebih karib dengan kakak pertamanya, seorang perempuan, bernama Siti Yuliana. Selisih kakak beradik ini hanya 3 tahun, sama-sama lahir di bulan Desember, Yuliana lahir 1971, dan Shaleh lahir 1974. Saat Yuliana berusia 3 atau 4 tahun, kerapkali saya jemput, disuruh Ibu saya. Bahkan setelah lulus SMEA di HSU, Yuliana mengikuti berbagai kursus, dan tinggal bersama kami di Banjarmasin. Isteri saya Nurmillati yang mengajak Yuliana karena kami kebetulan kala itu belum punya anak.

Bagi saya, meninggalnya adik sepupu ini menambah adik sepupu yang wafat. Karena cucu dari Haji Abdul Malik ini lumayan banyak, mungkin tidak kurang dari 20 orang, dari 7 anak beliau yang hidup dan sempat berkeluarga. Shaleh sendiri punya 3 adik Perempuan, salah satunya sudah wafat sekitar 5 tahun silam.

Sebagai anak pertama, Haji Muhammad Shaleh telah melaksanakan harapan orang tuanya, yang berkarier sebagai pendidik. Meski untuk itu, ia harus meninggalkan kampung halaman, dan berdomisili di Bumi Tambun Bungai, Kalimantan Tengah. Dua provinsi ini, meski berbatasan, tetapi memiliki alam dan sumber daya manusia yang berbeda karakter, beda suku, beda kultur dan sebagian juga berbeda agama.

Istilah Tambun Bungai ini digunakan oleh pemerintah provinsi Kalimantan Tengah, untuk ingin menggambarkan kepada public jika provinsi ini memiliki tokoh kepahlawanan dan legenda utama, yang dalam budaya Masyarakat Dayak Ngaju, di Kalimantan Tengah, melambangkan keberanian, kesaktian, dan pembela kebenaran.

Adinda Haji Muhammad Shaleh boleh dikata lebih hebat ketimbang saya, meski secara formal pendidikan saya lebih di atas dari dia. Sekolah dia hanya local-lokal saja, sedang saya pernah ke pulau Jawa, bahkan sempat keluar negeri, semata dalam upaya peningkatan development community dan human resourcess. Tetapi pengabdian dia luar biasa, masuk ke akar rumput, kawasan pedalaman. Entah berapa ribu murid yang sudah berhasil dididiknya? Pasti banyak. Saya meski juga mendidik mahasiswa, tetapi psikologinya berbeda. Mahasiswa hanya lebih kepada pengembangan ilmu, sedangkan pelajar menjadi ujung tombak membangun karakter bangsa.

Selamat jalan Adinda Haji Muhammad Shaleh, saya bersaksi jika sampean itu orang baik. Semoga Surga Firdaus ganjarannya. Allahummaghfirlahu warhamhu wa ‘afihi wa’fu ‘anhu wa akrim nuzulahu wa wassi’ madkhalahu, waghsilhu bilma’i wats-tsalji wal-baradi, wa naqqihi minal-khathaya kama yunaqqats-tsaubul-abyadhu minad-danasi, wa abdilhu daran khairan min darihi, wa ahlan khairan min ahlihi, wa zaujan khairan min zaujihi, wa adkhilhu al-jannata wa a’idhu min ‘adzabil-qabri wa ‘adzabin-nar

 

 

 

Avatar photo

Penulis

Pekerja Sosial, Jurnalis, dan Pengamat Sosial. Aktif di networking NGO internasional, for humanity, empowering society, peace and justice. Menekuni Demografi - Geografi, al-Bidayah wa an-Nihayah.

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kader Pagar Nusa Banjarmasin Raih Juara 1 di Wali Kota Cup 2026

    Kader Pagar Nusa Banjarmasin Raih Juara 1 di Wali Kota Cup 2026

    • calendar_month Sabtu, 20 Jun 2026
    • account_circle Sahran Saukhan
    • visibility 20
    • 0Komentar

    BANJARMASIN – Kader Pencak Silat Nahdlatul Ulama (PSNU) Pagar Nusa PAC Banjarmasin Utara, Kota Banjarmasin, Muhammad Rofi’i, berhasil menorehkan prestasi gemilang. Ia sukses merebut Juara 1 Kategori Tanding Remaja Kelas B Putera dalam ajang kejuaraan pencak silat Wali Kota Cup Tahun 2026. Kompetisi ini berlangsung di GOR Voli SKB Mulawarman, Kota Banjarmasin, mulai 15 hingga […]

  • Jejak Ulama Timur Tengah: Bagaimana Perannya Membentuk Wajah Islam Indonesia?

    Jejak Ulama Timur Tengah: Bagaimana Perannya Membentuk Wajah Islam Indonesia?

    • calendar_month Senin, 1 Jun 2026
    • account_circle Romario
    • visibility 49
    • 2Komentar

    Oleh : Romario* — Ustaz populer yang terkenal di media sosial banyak berasal dari alumni Timur Tengah. Contohnya, Ustaz Hanan Attaki (alumni Mesir), Ustaz Abdul Somad (alumni Mesir, Maroko, dan Sudan), Ustaz Adi Hidayat (alumni Libya), dan Khalid Basalamah (alumni Madinah). Latar belakang pendidikan Islam yang mereka tempuh di Timur Tengah menjadikan otoritas keagamaan mereka […]

  • Ulasan Buku Psikoanalisis dan Agama: Apakah Agama Jawaban Bagi Kecemasan Manusia?

    Ulasan Buku Psikoanalisis dan Agama: Apakah Agama Jawaban Bagi Kecemasan Manusia?

    • calendar_month Rabu, 22 Jul 2026
    • account_circle Romario
    • visibility 18
    • 0Komentar

    Oleh: Romario* — Sebelum mengulas buku ini, penulis mendefinisikan terlebih dahulu apa itu psikoanalisis. Jadi, psikoanalisis adalah analisis terhadap jiwa. Teori ini dikemukakan oleh Sigmund Freud, ia memiliki gagasan bahwa yang menggerakkan perilaku manusia bukanlah rasional tapi irasional yakni terletak di alam bawah sadar. Apa yang kita lakukan sehari-hari, lebih banyak dikendalikan oleh alam bawah […]

  • BIN Daerah Kalsel Sumbangkan Sapi Kurban untuk Masyarakat melalui Rabithah Melayu Banjar

    BIN Daerah Kalsel Sumbangkan Sapi Kurban untuk Masyarakat melalui Rabithah Melayu Banjar

    • calendar_month Kamis, 28 Mei 2026
    • account_circle Noura Dalla Adilla
    • visibility 97
    • 1Komentar

    Banjarmasin – Pimpinan BIN Daerah Kalimantan Selatan, seperti tahun sebelumnya, pada momen Idul-adha 1447 Hijriah ini, kembali menyumbangkan seekor sapi melalui Badan Perkumpulan Rabithah Melayu Banjar. Penyembelihan sapi kurban ini dilakukan pada hari ke-2 Idul-adha, Kamis, 28 Mei 2026, bekerja sama dengan PWNU Provinsi Kalimantan Selatan. Lokasi penyembelihan dilakukan di kawasan kediaman Bendahara PWNU Provinsi […]

  • Paradoks NU: Ketika Membesar, Jangan Sampai Kehilangan Akar

    Paradoks NU: Ketika Membesar, Jangan Sampai Kehilangan Akar

    • calendar_month Senin, 1 Jun 2026
    • account_circle Eko Ernada
    • visibility 37
    • 0Komentar

    Oleh : Eko Ernada, Grad.Dipl.IR, Ph.D.*  –  Ketika para kiai mendirikan Nahdlatul Ulama (NU) pada 1926, sulit membayangkan bahwa organisasi yang lahir dari jaringan pesantren, langgar, dan komunitas-komunitas lokal itu kelak menjelma menjadi salah satu organisasi Islam terbesar di dunia. Dari ruang-ruang sederhana tempat para ulama mendiskusikan masa depan umat, NU tumbuh menjadi kekuatan sosial-keagamaan […]

  • suasana sidang pleno

    Munas NU, dari Musyawarah Menuju Konflik: Mengapa Ber-Sengketa, Kaum Muda Saling Menyalahkan

    • calendar_month Sabtu, 27 Jun 2026
    • account_circle M Syarbani Haira
    • visibility 29
    • 0Komentar

    By : M. Syarbani Haira – Perkumpulan Nahdlatul Ulama baru saja menyelenggarakan Munas, dan  Konbes. Ini sebuah pehelatan menyongsong Muktamar, yang telah disepakati akan dilaksanakan awal Agustus 2026. Munas membahas banyak hal, khususnya terkait dengan materi, lokasi, waktu, dan lainnya. Ternyata, meski ini perkumpulan para ulama, mereka tidak bisa musyawarah. Terjadi konflik, walau tidak fisik. […]

expand_less