Breaking News
light_mode
Beranda » Artikel » Munas NU, dari Musyawarah Menuju Konflik: Mengapa Ber-Sengketa, Kaum Muda Saling Menyalahkan

Munas NU, dari Musyawarah Menuju Konflik: Mengapa Ber-Sengketa, Kaum Muda Saling Menyalahkan

  • account_circle M Syarbani Haira
  • calendar_month Sabtu, 27 Jun 2026
  • visibility 30
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

By : M. Syarbani Haira – Perkumpulan Nahdlatul Ulama baru saja menyelenggarakan Munas, dan  Konbes. Ini sebuah pehelatan menyongsong Muktamar, yang telah disepakati akan dilaksanakan awal Agustus 2026. Munas membahas banyak hal, khususnya terkait dengan materi, lokasi, waktu, dan lainnya.

Ternyata, meski ini perkumpulan para ulama, mereka tidak bisa musyawarah. Terjadi konflik, walau tidak fisik. Usai Munas, komentator generasi muda NU bahkan saling menyalahkan. Sama-sama bilang tak punya adat. Mungkin banyak yang nanya, kenapa sesama ulama NU berkonflik? Hal yang urgen, kenapa para komentator, termasuk anak muda NU, seperti mereka publikasikan di media social, malah saling menyalahkan. Sama-sama bilang tak punya adat.

Munas dan Konbes sebagai tahapan Muktamar harusnya momen sacral. Bisa mencerminkan jati diri organisasi: bermusyawarah, menjaga keutuhan, dan mengedepankan akhlak mulia. Realita yang terjadi justru sebaliknya: proses pembahasan, hingga mekanisme keputusan berujung tegang. Meski tanpa bentrok fisik, namun tetap menimbulkan luka kebersamaan, dan citra buruk. Hal yang memprihatinkan, para komentator kader muda NU justru saling tuduh, sama-sama menganggap pihak lain telah melanggar adat dan tradisi organisasi.

Menurut saya, ada banyak factor hal ini bisa terjadi. Secara filosofis, telag terjadi pergeseran makna musyawarah dan kebenaran. Secara hakiki, musyawarah dalam tradisi NU bukan sekadar mekanisme pengambilan keputusan, melainkan proses mencari kebenaran bersama yang berlandaskan prinsip syura dan tabayyun, memahami sebelum menyimpulkan.

Konflik muncul ketika ada pergeseran pandangan mendasar: sebagian pihak memahami musyawarah sebagai jalan menemukan kesepakatan terbaik, sedangkan pihak lain menganggapnya sebagai arena memenangkan gagasan dan posisi tertentu.

Secara filosofis, setiap kelompok membawa kerangka berpikir yang berbeda: ada yang memegang teguh prinsip keberlanjutan tradisi, ada yang mendesak perubahan dan efisiensi. Keduanya sama-sama merasa benar, maka ruang dialog menyempit. Sikap “saya paling benar” melumpuhkan kemampuan mendengar, sehingga apa yang seharusnya menjadi proses saling melengkapi berubah menjadi persaingan logika. Inilah awal mengapa dikatakan “tidak punya adat”, adat musyawarah menuntut kerendahan hati, bukan kemenangan semata.

Sedang dalam perspektif sosiologis: struktur, kepentingan, dan perubahan zaman. Dalam hal ini, NU adalah organisasi raksasa dengan jaringan luas, struktur berlapis, dan sejarah panjang. Konflik di Munas muncul karena tiga faktor utama: perbedaan kepentingan, dinamika antar generasi, dan tekanan perubahan sosial.

Pertama, perbedaan kepentingan institusional dan politik. Di balik pembahasan teknis seperti lokasi dan waktu, sering terselip pertimbangan akses, dukungan wilayah, dan pengaruh kebijakan. Ketika kepentingan berpotongan, konsensus menjadi sulit tercapai. Kedua, kesenjangan antar generasi: kiai sepuh menjaga tradisi lama, sedangkan kiai muda mendesak transparansi dan efisiensi. Ketika keduanya belum menemukan titik temu, muncullah kesan “tidak mengerti adat” atau “terlalu lambat berubah”.

Hal ini memengaruhi kaum muda: mereka tumbuh di era digital, mengakses informasi cepat, dan terbiasa dengan keterbukaan. Namun mereka juga terbagi dalam jejaring masing-masing, terhubung dengan kelompok yang berbeda pandangan. Akibatnya, kritik yang seharusnya membangun menjadi serangan silang. Di ruang publik, terutama media sosial, batas antara pendapat dan tuduhan kabur, sehingga timbul kesan saling menyalahkan karena setiap pihak merasa mewakili kebenaran kelompoknya.

Dalam tinjauan psikologis: ego kolektif dan ketidakmampuan mengelola emosi. Konflik dimulai dari “ego kelompok”. Setiap individu atau kelompok merasa harga dirinya terwakili oleh keputusan yang diambil. Ketika gagasannya tidak diterima, timbul rasa kecewa, tersinggung, lalu berubah menjadi kecurigaan: “Mereka tidak mau menerima karena bukan dari kami”.

Para ulama dan kader muda-nya juga manusia biasa yang memiliki emosi. Dalam situasi tekanan, kemampuan mengendalikan diri menurun. Apa yang seharusnya dikritisi dengan lembut justru disampaikan dengan nada tinggi, lalu dipandang sebagai penghinaan terhadap adat. Bagi kaum muda, fenomena ini diperparah oleh kecepatan berkomunikasi: mereka bereaksi sebelum memahami konteks penuh, dan sering terjebak dalam dinamika “mempertahankan kelompok” dibandingkan mencari solusi.

Sikap “sama-sama bilang tidak punya adat” juga merupakan mekanisme pertahanan psikologis: dengan menyalahkan pihak lain, seseorang melindungi keyakinan dirinya sendiri, sekaligus menghindari rasa bersalah atas kegagalan bersama.

Perspektif agamis: antara ajaran dan penerapan. Nilai agama, ajaran Islam dan tradisi NU sangat tegas: ikhwatu iman (persaudaraan sesama beriman), al-hikmah (kebijaksanaan), dan adab mendahului ilmu. Kenapa kemudian terabaikan? Karena sering ada kesenjangan antara ajaran yang dihafal dan sikap yang dipraktikkan.

Konsep musyawarah diajarkan secara teoretis, namun dalam praktiknya belum selalu disertai kerendahan hati. Ketika keinginan pribadi atau kelompok menguat, prinsip agama menjadi sekadar slogan.

Bagi kaum muda, mereka melihat ketidakkonsistenan ini: melihat para pemimpin yang seharusnya menjadi teladan justru gagal berdamai, sehingga kekecewaan meledak menjadi saling tuduh. Mereka menyebut “tidak punya adat” karena merindukan keteladanan yang sesuai ajaran yang selama ini dipelajari.

Padahal, adat bagi NU bukanlah aturan kaku, melainkan jiwa yang mengedepankan akhlak. Ketika jiwa ini hilang, maka yang tersisa hanyalah prosedur tanpa makna.

Rusuh

Foto Ilustrasi Melengkapi Tulisan Munas NU 2026

Mengapa Kaum Muda Saling Menyalahkan?

Menyikapi kisruh di kalangan anak muda NU, seorang Khairi Fuady, generasi penerus almarhum KH Idham Chalid, memilih berkarir di ibukota negara, Jakarta. Di laman facebook-nya dia menulis, “jangan terjebak dengan propaganda “adab” yang digerakkan sejumlah Kawan. Seolah-olah, macam beliau-beliau saja yang khatam kitab Ta’liemul Muta’allim”.

Menurut Khairi Fuady, “yang begini-begini, dulu pernah disindir oleh Sayyidina Ali: “Kalimatu haqqin uriidu bihaa al bathil”. Narasinya benar, tetapi mengandung muslihat.

Generasi muda NU adalah kelompok yang paling peka terhadap perubahan. Mereka memiliki harapan tinggi agar NU tetap relevan dan bermartabat. Namun mereka juga terjebak dalam dua hal: pertama, menjadi cerminan dari konflik elite; kedua, kurangnya ruang dialog yang sehat. Ketika kebingungan muncul, mereka mencari kambing hitam, bukan mencari akar masalah.

Sikap saling menyalahkan juga menjadi tanda krisis kepercayaan. Kaum muda tidak lagi merasa satu arah, melainkan terpecah menjadi kelompok yang membela satu pihak. Kalimat “tidak punya adat” sebenarnya adalah ekspresi kerinduan: rindu suasana musyawarah yang tenang, rindu sikap saling menghormati, dan rindu kepemimpinan yang memberi teladan.

Konflik di Munas dan Konbes NU bukanlah tanda kehancuran, melainkan cermin dari tantangan zaman yang dihadapi organisasi besar. Melalui pandangan filosofis, sosiologis, psikologis, dan agamis, kita memahami bahwa akarnya bukan semata pada satu pihak, melainkan perpaduan pergeseran nilai, kepentingan, emosi, dan penerapan ajaran.

Bagi kaum muda, saling menyalahkan tidak akan memulihkan kondisi. Sebaliknya, mereka dipanggil untuk kembali memegang inti ajaran: menjaga adab, mendengar lebih banyak daripada berbicara, dan mengembalikan ruh musyawarah. Adab bukanlah aturan lama, melainkan jembatan agar perbedaan tidak menjadi jurang pemisah. Semoga peristiwa ini menjadi pelajaran berharga menuju Muktamar yang lebih bermartabat, sesuai harapan seluruh warga NU.

Di luar itu semua, apa yang terjadi di kalangan generasi muda NU ini karena polarisasi di kalangan elite NU. Tidak hanya itu, konflik kaum muda NU itu karena banyak factor. Misalnya, seperti semangat idealisme, angin pragmatisme, realisme, dan berbagai kepentingan lainnya.

Dari sinilah polarisasi itu terus berkembang. Ironisnya, mereka sudah tak mikir lagi soal adab, rasio dan logika. Selama sesuai perintah tuannya, sebagai “buzzer” mereka akan menyerang rivalnya. Tak peduli itu ulama senior yang harus dihormati

Bagi banyak pihak, konflik terbuka di lingkungan NU ini sudah diprediksi sebelumnya. Bagaimana pun kepemimpinan PBNU era 2021-2026 ini sudah dari hulu-nya diawali dengan konflik. Puncaknya bulan Desember 2025, pemakzulan Ketua Umum PBNU Gus Yahya melalui rapat syuriah PBNU. Dua hari kemudian, Gus Yahya membalas pemakzulan ini dengan mengganti Sekjen PBNU, dan me-“ignore” kehadiran Rais Aam Syuriah PBNU. Sejak itu polarisasi di tubuh PBNU tidak berhasil diselesaikan, hingga konflik saat Munas dilangsungkan beberapa hari yang lalu. Wallahu a’lam bis-sawab … !!!

 

Avatar photo

Penulis

Pekerja Sosial, Jurnalis, dan Pengamat Sosial. Aktif di networking NGO internasional, for humanity, empowering society, peace and justice. Menekuni Demografi - Geografi, al-Bidayah wa an-Nihayah.

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • BIN Daerah Kalsel Sumbangkan Sapi Kurban untuk Masyarakat melalui Rabithah Melayu Banjar

    BIN Daerah Kalsel Sumbangkan Sapi Kurban untuk Masyarakat melalui Rabithah Melayu Banjar

    • calendar_month Kamis, 28 Mei 2026
    • account_circle Noura Dalla Adilla
    • visibility 97
    • 1Komentar

    Banjarmasin – Pimpinan BIN Daerah Kalimantan Selatan, seperti tahun sebelumnya, pada momen Idul-adha 1447 Hijriah ini, kembali menyumbangkan seekor sapi melalui Badan Perkumpulan Rabithah Melayu Banjar. Penyembelihan sapi kurban ini dilakukan pada hari ke-2 Idul-adha, Kamis, 28 Mei 2026, bekerja sama dengan PWNU Provinsi Kalimantan Selatan. Lokasi penyembelihan dilakukan di kawasan kediaman Bendahara PWNU Provinsi […]

  • Algoritma vs Budaya: Krisis Identitas Anak Muda Indonesia

    Algoritma vs Budaya: Krisis Identitas Anak Muda Indonesia

    • calendar_month Sabtu, 30 Mei 2026
    • account_circle Alfinnor Effendy
    • visibility 41
    • 0Komentar

    Oleh : Alfinnor Effendy* — Perubahan zaman selalu melahirkan dua kemungkinan sekaligus: kemajuan dan kehilangan. Kemajuan menghadirkan teknologi, kemudahan akses informasi, serta peluang yang sebelumnya tidak pernah dibayangkan. Namun di saat yang sama, perubahan juga berpotensi membuat manusia kehilangan arah, tercerabut dari akar budayanya, bahkan mengalami krisis makna dalam menjalani kehidupan. Indonesia hari ini sedang […]

  • Di Persimpangan Jalan: Kependidikan atau Industri?

    Di Persimpangan Jalan: Kependidikan atau Industri?

    • calendar_month Jumat, 29 Mei 2026
    • account_circle Eko Wahyu Nur Sofianto
    • visibility 66
    • 0Komentar

    Oleh: Eko Wahyu Nur Sofianto* — Beberapa hari ini, media diramaikan dengan wacana “Penutupan Program Studi (Prodi) Kependidikan” yang digulirkan oleh pemerintah. Dalam hal ini yaitu Kementerian Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi (Kemdiktisaintek) yang menyatakan bahwa Prodi Kependidikan atau Pendidikan menghasilkan lulusan yang melebihi kebutuhan sehingga angka keterserapannya rendah. Berbagai pernyataan masyarakat bermunculan di media […]

  • Ulasan Serial Teach You A Lesson: Kala Sekolah Tak Bisa Lagi Diatur

    Ulasan Serial Teach You A Lesson: Kala Sekolah Tak Bisa Lagi Diatur

    • calendar_month Minggu, 19 Jul 2026
    • account_circle Romario
    • visibility 29
    • 0Komentar

    Oleh: Romario* — Bullying atau perundungan sudah semakin meningkat di kalangan siswa. Tidak hanya perundungan sesama siswa, tapi sudah menyasar dari siswa kepada guru. Kejadian soal perundungan sering kali viral di media sosial, berbagai bentuk perundungan bisa kita lihat, dari memukuli korban, menarik rambut korban, mencaci maki korban, menendang korban, hingga peristiwa ini membuat korban […]

  • Menjelajahi Berita Terkini dan Esai Menarik

    Menjelajahi Berita Terkini dan Esai Menarik

    • calendar_month Sabtu, 23 Mei 2026
    • account_circle Developer
    • visibility 39
    • 0Komentar

    Berita Terkini Dalam dunia yang serba cepat, mendapatkan berita terkini adalah suatu keharusan. Para pembaca sering mencari informasi terbaru tentang politik, teknologi, budaya, dan kesehatan. Dengan memahami isu-isu ini, kita dapat lebih siap menghadapi tantangan zaman modern. Misalnya, berita politik sering kali menjadi pusat perhatian, memberikan insight tentang kebijakan yang dapat mempengaruhi banyak orang. Esai […]

  • Ujian Independensi Politik NU

    Ujian Independensi Politik NU

    • calendar_month Selasa, 7 Jul 2026
    • account_circle Najmi Fuady
    • visibility 56
    • 0Komentar

    Oleh: Najmi Fuady* — Pada Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-27 tahun 1984 di Situbondo, para kiai mengambil langkah besar yang menandai titik balik penting dalam sejarah pergerakan Islam di Indonesia. NU memilih menarik diri dari panggung politik praktis dan menyatakan kembali ke garis perjuangan awal tahun 1926 (Khittah ’26), menjadi organisasi sosial-keagamaan (jam’iyyah diniyyah ijtima’iyyah) […]

expand_less