Breaking News
light_mode
Beranda » Artikel » Guru Sekumpul, Muktamar NU 1984 dan “Jin Majapahit”

Guru Sekumpul, Muktamar NU 1984 dan “Jin Majapahit”

  • account_circle Najmi Fuady
  • calendar_month Kamis, 25 Jun 2026
  • visibility 40
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Najmi Fuady* — Dalam salah satu potongan ceramahnya, (Alm) Abah Guru Sekumpul (K.H. Muhammad Zaini, Sekumpul, Martapura, Kalsel) pernah bercerita mengenai kedekatan beliau dengan berbagai kalangan, mencakup berbagai lapisan masyarakat dari tingkat RT hingga Presiden. Beliau bahkan juga berteman dengan golongan jin, karena di antara jin tersebut, ada yang memeluk agama Islam.

Namun, beliau menjelaskan bahwa jumlah jin Islam terhitung sedikit. Golongan di luar itu jauh lebih mendominasi. Kondisi ini membuat jin Islam sering kali kesulitan karena harus menghadapi tekanan dari sesama kaumnya yang lain.

Beliau kemudian menceritakan peristiwa menjelang Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) di Situbondo pada tahun 1984. Saat itu, Kiai As’ad Syamsul Arifin mulai terganggu oleh serangan “jin dari majapahit”.

Upaya yang dilakukan Kiai As’ad dan umat Islam di wilayah Jawa kala itu sudah tidak mampu mengatasi gangguan tersebut. Akhirnya, Kiai As’ad pun meminta bantuan kepada Abah Guru Sekumpul untuk menurunkan pasukan “jin” dari Martapura untuk membantu NU, tapi ternyata juga tidak cukup kuat. Permintaan bantuan “jin” dari Hadramaut pun juga dilakukan, tapi belum juga membuahkan hasil.

Keadaan baru berubah setelah bantuan didatangkan dari Abu Dhabi, tempat yang diyakini sebagai lokasi istana seluruh jin di dunia. Kehadiran bantuan ini membuat Muktamar NU akhirnya dapat berlangsung dengan lancar dari awal hingga akhir.

Kisah mengenai gangguan jin majapahit yang merepotkan para ulama dari berbagai wilayah ini mungkin merupakan cara Abah Guru Sekumpul dalam membingkai konflik internal NU secara metaforis. Realitasnya, organisasi tersebut memang sedang mengalami ketegangan yang serius kala itu.

Kiai As’ad menjadi tokoh sentral dalam peristiwa di Situbondo tersebut. Melalui cerita yang disampaikan, Abah Guru Sekumpul menggambarkan situasi ketika Kiai As’ad menghadapi dilema konflik di tubuh NU yang tidak mudah diatasi sendirian. Dibutuhkan kehadiran para kiai besar dari berbagai daerah serta simpul-simpul eksternal untuk duduk bersama agar muktamar bisa berjalan lancar.

Betapa tidak, Muktamar NU di Situbondo pada Desember 1984 membuat NU terbelah menjadi menjadi dua, yakni kubu Cipete di bawah pimpinan Ketua Umum PBNU KH Idham Chalid, dan kubu Situbondo yang dimotori oleh KHR As’ad Syamsul Arifin bersama kelompok muda seperti KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Gus Dur dan Abah Guru Sekumpul

Menurut berbagai sumber, hal ini terjadi lantaran adanya perebutan pengaruh di dalam tubuh PBNU setelah wafatnya Rais Aam KH Bisri Syansuri pada tahun 1980.

Di saat yang bersamaan, pemerintah Orde Baru menekan setiap organisasi kemasyarakatan untuk menerima Pancasila sebagai asas tunggal. Intervensi-intervensi politik dari pihak penguasa inilah yang kemungkinan diibaratkan oleh Abah Guru sebagai gangguan dari jin Majapahit. Ketegangan ini bahkan sempat memicu kedua kubu untuk menggelar Musyawarah Nasional secara terpisah.

Perselisihan besar tersebut akhirnya mulai mereda lewat jalur diplomasi, yang dalam isi ceramah dianalogikan sebagai kedatangan bantuan “jin dari Abu Dhabi”. Pada 10 September 1984, tujuh ulama besar berkumpul di rumah KH Hasyim Latief di Sidoarjo dan menandatangani Maklumat Keakraban.

Para tokoh tersebut adalah KH As’ad Syamsul Arifin, KH Ali Ma’shum, KH Idham Chalid, KH Machrus Aly, KH Masjkur, KH Saifuddin Zuhri, dan KH Achmad Siddiq. Kesepakatan inilah yang kemudian membuka jalan bagi terselenggaranya muktamar yang damai dan berjalan lancar.

Tentu tidak ada yang bisa memastikan apa maksud sebenarnya dari ceramah Abah Guru saat menyampaikan cerita keterlibatan para jin ini pada muktamar kala itu.

Ada kemungkinan Abah Guru memang sedang membicarakan jin dalam arti harfiah, atau beliau sengaja menggunakan istilah kiasan untuk melunakkan penyebutan para tokoh dan alur konflik agar lebih mudah dipahami oleh masyarakat luas.

Namun, satu hal yang pasti, para ulama khos terkenal memiliki tradisi panjang dalam menggunakan lapisan makna saat berkomunikasi. Bahasa kiasan digunakan sebagai metode untuk menyampaikan hal-hal sensitif tanpa harus melukai pihak mana pun secara langsung.

Penulis

Banjarese, Nahdliyin, Madridista, Alumnus Interdisciplinary Islamic Studies UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Meminati Studi Sosiologi dan Perilaku Informasi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Sipil Yang Lemah? Penyebab ASN Tidak Ikut Upacara Kemerdekaan di Istana Negara?

    Sipil Yang Lemah? Penyebab ASN Tidak Ikut Upacara Kemerdekaan di Istana Negara?

    • calendar_month Rabu, 15 Jul 2026
    • account_circle Lintang Narendra
    • visibility 10
    • 0Komentar

    Oleh: Lintang Narendra* — Sejak kecil, masyarakat Indonesia terbiasa melihat seragam sebagai tanda kekuatan. Seragam TNI dan Polri hadir dalam upacara, berita, film, baliho, acara kenegaraan, pengamanan, penanganan bencana, sampai kegiatan di sekolah. Tubuh yang tegap, langkah yang sama, suara komando yang keras, pangkat di pundak, dan senjata yang dibawa menciptakan kesan yang mudah ditangkap: […]

  • Menjelajahi Berita Terkini dan Esai Menarik

    Menjelajahi Berita Terkini dan Esai Menarik

    • calendar_month Sabtu, 23 Mei 2026
    • account_circle Developer
    • visibility 32
    • 0Komentar

    Berita Terkini Dalam dunia yang serba cepat, mendapatkan berita terkini adalah suatu keharusan. Para pembaca sering mencari informasi terbaru tentang politik, teknologi, budaya, dan kesehatan. Dengan memahami isu-isu ini, kita dapat lebih siap menghadapi tantangan zaman modern. Misalnya, berita politik sering kali menjadi pusat perhatian, memberikan insight tentang kebijakan yang dapat mempengaruhi banyak orang. Esai […]

  • Moderasi Beragama dan Algoritma Media Sosial: Mengapa Dakwah NU dan Muhammadiyah Tertinggal di YouTube?

    Moderasi Beragama dan Algoritma Media Sosial: Mengapa Dakwah NU dan Muhammadiyah Tertinggal di YouTube?

    • calendar_month Sabtu, 27 Jun 2026
    • account_circle Romario
    • visibility 35
    • 0Komentar

    Oleh: Romario* — NU dan Muhammadiyah adalah dua organisasi Islam yang sudah lama eksis di Indonesia. Secara historis baik NU dan Muhammadiyah terlibat dalam urusan negara bangsa serta memiliki anggota yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia serta menjadi wajah Moderasi Beragama. Seiring perkembangan teknologi dan masuknya gerakan Islam transnasional memberi ancaman bagi NU dan […]

  • Dampak Degradasi Nilai Tukar Rupiah Terhadap Stabilitas Finansial dan Mental Health Masisir

    Dampak Degradasi Nilai Tukar Rupiah Terhadap Stabilitas Finansial dan Mental Health Masisir

    • calendar_month Sabtu, 6 Jun 2026
    • account_circle Chatib Nourie Syaher
    • visibility 56
    • 0Komentar

    Oleh: Chatib Nourie Syaher, mahasiswa aktif Universitas Al Azhar — Nilai tukar rupiah merupakan salah satu indikator penting dalam perekonomian Indonesia. Pergerakan nilai tukar rupiah memiliki pengaruh yang luas terhadap aktivitas ekonomi masyarakat. Ketika rupiah mengalami depresiasi terhadap mata uang asing, terutama dolar Amerika Serikat (USD), dampaknya tidak hanya dirasakan pada sektor makroekonomi tetapi juga […]

  • Ulasan Buku Surrounded By Idiots: Bisakah Kita Membaca Perilaku Manusia?

    Ulasan Buku Surrounded By Idiots: Bisakah Kita Membaca Perilaku Manusia?

    • calendar_month Minggu, 12 Jul 2026
    • account_circle Romario
    • visibility 6
    • 0Komentar

    Oleh: Romario* — Awal mulanya buku ini ditulis Thomas karena ada seorang pemimpin perusahaan yang marah dengan pegawainya, lalu menganggap orang-orang sekitarnya sebagai idiot. Dari sinilah Thomas tergerak membaca perilaku manusia. Dalam buku ini, ia membagi perilaku manusia dalam empat warna, yakni Merah, Kuning, Hijau dan Biru, dan setiap orang bisa saja dominan di salah satu […]

  • Menelusuri Berita Populer: Dari Politik Hingga Kesehatan

    Menelusuri Berita Populer: Dari Politik Hingga Kesehatan

    • calendar_month Sabtu, 23 Mei 2026
    • account_circle Developer
    • visibility 41
    • 0Komentar

    Memahami Berita Populer Di era digital ini, berita populer menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari. Berita yang mencakup berbagai kategori seperti politik, teknologi, budaya, dan kesehatan sangat diperlukan untuk menjaga kita tetap terinformasi tentang isu terkini. Mengikuti berita terbaru tidak hanya memberikan wawasan baru, tetapi juga membentuk pandangan kita terhadap dunia. Kategori Berita yang Penting […]

expand_less