Breaking News
light_mode
Beranda » Artikel » Guru Sekumpul, Muktamar NU 1984 dan “Jin Majapahit”

Guru Sekumpul, Muktamar NU 1984 dan “Jin Majapahit”

  • account_circle Najmi Fuady
  • calendar_month Kamis, 25 Jun 2026
  • visibility 55
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Najmi Fuady* — Dalam salah satu potongan ceramahnya, (Alm) Abah Guru Sekumpul (K.H. Muhammad Zaini, Sekumpul, Martapura, Kalsel) pernah bercerita mengenai kedekatan beliau dengan berbagai kalangan, mencakup berbagai lapisan masyarakat dari tingkat RT hingga Presiden. Beliau bahkan juga berteman dengan golongan jin, karena di antara jin tersebut, ada yang memeluk agama Islam.

Namun, beliau menjelaskan bahwa jumlah jin Islam terhitung sedikit. Golongan di luar itu jauh lebih mendominasi. Kondisi ini membuat jin Islam sering kali kesulitan karena harus menghadapi tekanan dari sesama kaumnya yang lain.

Beliau kemudian menceritakan peristiwa menjelang Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) di Situbondo pada tahun 1984. Saat itu, Kiai As’ad Syamsul Arifin mulai terganggu oleh serangan “jin dari majapahit”.

Upaya yang dilakukan Kiai As’ad dan umat Islam di wilayah Jawa kala itu sudah tidak mampu mengatasi gangguan tersebut. Akhirnya, Kiai As’ad pun meminta bantuan kepada Abah Guru Sekumpul untuk menurunkan pasukan “jin” dari Martapura untuk membantu NU, tapi ternyata juga tidak cukup kuat. Permintaan bantuan “jin” dari Hadramaut pun juga dilakukan, tapi belum juga membuahkan hasil.

Keadaan baru berubah setelah bantuan didatangkan dari Abu Dhabi, tempat yang diyakini sebagai lokasi istana seluruh jin di dunia. Kehadiran bantuan ini membuat Muktamar NU akhirnya dapat berlangsung dengan lancar dari awal hingga akhir.

Kisah mengenai gangguan jin majapahit yang merepotkan para ulama dari berbagai wilayah ini mungkin merupakan cara Abah Guru Sekumpul dalam membingkai konflik internal NU secara metaforis. Realitasnya, organisasi tersebut memang sedang mengalami ketegangan yang serius kala itu.

Kiai As’ad menjadi tokoh sentral dalam peristiwa di Situbondo tersebut. Melalui cerita yang disampaikan, Abah Guru Sekumpul menggambarkan situasi ketika Kiai As’ad menghadapi dilema konflik di tubuh NU yang tidak mudah diatasi sendirian. Dibutuhkan kehadiran para kiai besar dari berbagai daerah serta simpul-simpul eksternal untuk duduk bersama agar muktamar bisa berjalan lancar.

Betapa tidak, Muktamar NU di Situbondo pada Desember 1984 membuat NU terbelah menjadi menjadi dua, yakni kubu Cipete di bawah pimpinan Ketua Umum PBNU KH Idham Chalid, dan kubu Situbondo yang dimotori oleh KHR As’ad Syamsul Arifin bersama kelompok muda seperti KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Gus Dur dan Abah Guru Sekumpul

Menurut berbagai sumber, hal ini terjadi lantaran adanya perebutan pengaruh di dalam tubuh PBNU setelah wafatnya Rais Aam KH Bisri Syansuri pada tahun 1980.

Di saat yang bersamaan, pemerintah Orde Baru menekan setiap organisasi kemasyarakatan untuk menerima Pancasila sebagai asas tunggal. Intervensi-intervensi politik dari pihak penguasa inilah yang kemungkinan diibaratkan oleh Abah Guru sebagai gangguan dari jin Majapahit. Ketegangan ini bahkan sempat memicu kedua kubu untuk menggelar Musyawarah Nasional secara terpisah.

Perselisihan besar tersebut akhirnya mulai mereda lewat jalur diplomasi, yang dalam isi ceramah dianalogikan sebagai kedatangan bantuan “jin dari Abu Dhabi”. Pada 10 September 1984, tujuh ulama besar berkumpul di rumah KH Hasyim Latief di Sidoarjo dan menandatangani Maklumat Keakraban.

Para tokoh tersebut adalah KH As’ad Syamsul Arifin, KH Ali Ma’shum, KH Idham Chalid, KH Machrus Aly, KH Masjkur, KH Saifuddin Zuhri, dan KH Achmad Siddiq. Kesepakatan inilah yang kemudian membuka jalan bagi terselenggaranya muktamar yang damai dan berjalan lancar.

Tentu tidak ada yang bisa memastikan apa maksud sebenarnya dari ceramah Abah Guru saat menyampaikan cerita keterlibatan para jin ini pada muktamar kala itu.

Ada kemungkinan Abah Guru memang sedang membicarakan jin dalam arti harfiah, atau beliau sengaja menggunakan istilah kiasan untuk melunakkan penyebutan para tokoh dan alur konflik agar lebih mudah dipahami oleh masyarakat luas.

Namun, satu hal yang pasti, para ulama khos terkenal memiliki tradisi panjang dalam menggunakan lapisan makna saat berkomunikasi. Bahasa kiasan digunakan sebagai metode untuk menyampaikan hal-hal sensitif tanpa harus melukai pihak mana pun secara langsung.

Penulis

Banjarese, Nahdliyin, Madridista, Alumnus Interdisciplinary Islamic Studies UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Meminati Studi Sosiologi dan Perilaku Informasi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Menalar Sebuah Kebenaran dan Kejujuran

    Menalar Sebuah Kebenaran dan Kejujuran

    • calendar_month Minggu, 28 Jun 2026
    • account_circle Romario
    • visibility 29
    • 0Komentar

    Oleh: Romario* — Kata benar dan salah adalah dua kata sederhana untuk menentukan apakah suatu tindakan, pikiran, dan pemahaman benar atau salah. Tapi bagaimanakah kita menentukan bahwa sesuatu itu benar dan salah? Di sinilah debat panjang para filsuf terjadi, pertanyaan dasar ini menjadi pondasi dalam menentukan tindakan, pikiran, dan pemahaman. Ada begitu banyak aliran dalam filsafat, […]

  • Foto Karya AI Untuk Tulisan Ini

    PBNU 2021 – 2026 Dalam Sorotan Publik

    • calendar_month Rabu, 10 Jun 2026
    • account_circle M Syarbani Haira
    • visibility 59
    • 0Komentar

    Oleh : M Syarbani Haira* — JIKA mencermati dengan seksama, kepengurusan PBNU pimpinan Gus Yahya (GY), masa khidmat 2021 – 2026, satu-satunya kepengurusan PBNU yang mendapatkan sorotan publik, begitu tajam. Ironisnya, sorotan itu bukan hanya dalam dimensi yang positive konstruktive, melainkan sebaliknya, cenderung negative destruktive. Berbagai kritik dan koreksi, hujatan dan sumpah serapah, kerapkali terdengar dari […]

  • Sipil Yang Lemah? Penyebab ASN Tidak Ikut Upacara Kemerdekaan di Istana Negara?

    Sipil Yang Lemah? Penyebab ASN Tidak Ikut Upacara Kemerdekaan di Istana Negara?

    • calendar_month Rabu, 15 Jul 2026
    • account_circle Lintang Narendra
    • visibility 41
    • 0Komentar

    Oleh: Lintang Narendra* — Sejak kecil, masyarakat Indonesia terbiasa melihat seragam sebagai tanda kekuatan. Seragam TNI dan Polri hadir dalam upacara, berita, film, baliho, acara kenegaraan, pengamanan, penanganan bencana, sampai kegiatan di sekolah. Tubuh yang tegap, langkah yang sama, suara komando yang keras, pangkat di pundak, dan senjata yang dibawa menciptakan kesan yang mudah ditangkap: […]

  • Algoritma vs Budaya: Krisis Identitas Anak Muda Indonesia

    Algoritma vs Budaya: Krisis Identitas Anak Muda Indonesia

    • calendar_month Sabtu, 30 Mei 2026
    • account_circle Alfinnor Effendy
    • visibility 41
    • 0Komentar

    Oleh : Alfinnor Effendy* — Perubahan zaman selalu melahirkan dua kemungkinan sekaligus: kemajuan dan kehilangan. Kemajuan menghadirkan teknologi, kemudahan akses informasi, serta peluang yang sebelumnya tidak pernah dibayangkan. Namun di saat yang sama, perubahan juga berpotensi membuat manusia kehilangan arah, tercerabut dari akar budayanya, bahkan mengalami krisis makna dalam menjalani kehidupan. Indonesia hari ini sedang […]

  • Ulasan Buku Surrounded By Idiots: Bisakah Kita Membaca Perilaku Manusia?

    Ulasan Buku Surrounded By Idiots: Bisakah Kita Membaca Perilaku Manusia?

    • calendar_month Minggu, 12 Jul 2026
    • account_circle Romario
    • visibility 23
    • 0Komentar

    Oleh: Romario* — Awal mulanya buku ini ditulis Thomas karena ada seorang pemimpin perusahaan yang marah dengan pegawainya, lalu menganggap orang-orang sekitarnya sebagai idiot. Dari sinilah Thomas tergerak membaca perilaku manusia. Dalam buku ini, ia membagi perilaku manusia dalam empat warna, yakni Merah, Kuning, Hijau dan Biru, dan setiap orang bisa saja dominan di salah satu […]

  • Kebohongan Itu Dimulai dari Sistem Pendidikan

    Kebohongan Itu Dimulai dari Sistem Pendidikan

    • calendar_month Senin, 6 Jul 2026
    • account_circle Romario
    • visibility 32
    • 0Komentar

    Oleh: Romario* — Selama bergelut dalam dunia pendidikan ada satu hal yang penulis sadari, bahwa sistem pendidikan begitu rumit dan penuh kebohongan. Ada satu bagian yang penulis paling tidak sukai dan rasanya menjadi Bullshit Job seperti kata David Breegeer, yakni soal akreditasi atau istilah lainnya Borang. Bahkan borang ini punya plesetan singkatan Bohong dan ngarang, […]

expand_less