Breaking News
light_mode
Beranda » Resensi » Ulasan Buku Surrounded By Idiots: Bisakah Kita Membaca Perilaku Manusia?

Ulasan Buku Surrounded By Idiots: Bisakah Kita Membaca Perilaku Manusia?

  • account_circle Romario
  • calendar_month Minggu, 12 Jul 2026
  • visibility 24
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Romario* — Awal mulanya buku ini ditulis Thomas karena ada seorang pemimpin perusahaan yang marah dengan pegawainya, lalu menganggap orang-orang sekitarnya sebagai idiot. Dari sinilah Thomas tergerak membaca perilaku manusia.

Dalam buku ini, ia membagi perilaku manusia dalam empat warna, yakni Merah, Kuning, Hijau dan Biru, dan setiap orang bisa saja dominan di salah satu warna atau setidaknya memiliki dua warna dalam kepribadiannya.

Secara garis besar, merah dan kuning adalah tipe aktif, sedang hijau dan biru tipe pasif, lalu merah dan biru berorientasi hasil, sedang hijau dan kuning berorientasi hubungan.

Pertama, orang bertipe merah, cara mudah mengenalinya adalah cara bicaranya yang to the point, mereka tidak suka basa-basi, dan tak peduli apakah kamu tersinggung, bagi orang merah yang terpenting adalah masalah selesai atau hasil bisa dicapai.

Orang dengan tipe ini sangat visioner, ia sudah menetapkan target sebelum rapat dimulai, ia sangat optimis dan tidak suka kelambatan atau basa-basi omong kosong.

Kedua, orang bertipe kuning, cara mudah mengenalnya dia adalah orang paling populer, biasanya paling banyak omong, dia bisa membuat orang lain tertawa dan menceritakan berbagai hal.

Orang tipe ini sangat ramah dan mudah sekali memiliki teman. Dibanding merah yang bertujuan hasil, kuning bertujuan hubungan maka mereka menjaga perasaan.

Tapi, tipe kuning sering kali punya imajinasi yang tinggi tapi kurang dalam eksekusi, bahasa lainnya cuman omong tinggi.

Ketiga, orang bertipe hijau, ini adalah tipe kebanyakan orang, biasanya pendiam, tapi mudah jadi pendengar yang baik, orang bertipe hijau gampang menolong orang.

Tipe ini juga tidak suka dengan konflik lebih suka dengan ketenangan, karena jika ada konflik maka ada perubahan besar, dan mereka tidak menyukai itu.

Tapi dalam urusan pekerjaan mereka bisa diandalkan serta punya orientasi terhadap hubungan sehingga jadi menyenangkan.

Keempat, orang bertipe biru, ini adalah orang yang sangat teliti dan begitu detail, kita bisa mengenali bagaimana cara sikapnya yang untuk menilai bahwa sesuatu telah keliru.

Bagi seorang biru ketelitian adalah kunci, segala hal harus logis, teratur, akurat, dan terstruktur.

Mereka berorientasi pada penyelesaian masalah, dan seorang biru tidak mengatakan hal yang tidak penting, bagi mereka diam adalah emas.

Setiap warna memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, dan bisa saja konflik jika saling bertemu.

Merah dan Hijau adalah kombinasi yang sangat berlawanan, saat merah menghendaki segalanya cepat dan bergerak, Hijau cenderung menyesuaikan dulu, mempersiapkan apa yang harus dikerjakan, dan mudah tersinggung dengan ucapan merah yang to the point.

Begitu juga pasangan Kuning dan Biru, seorang kuning banyak sekali berbicara dan mengawang-awang akan ide yang ingin dicapainya. Di sinilah yang tak disukai biru, mereka tak suka dengan ide yang mengawang, semuanya harus realistis, terukur, dan detail pada apa yang ingin dicapai.

Memahami emosi mereka juga sangatlah penting. Merah adalah tipe yang langsung mengatakan apa yang dipikirkan, hingga bentuk kemarahan bagi mereka bukan kemarahan, itu hanyalah cara mereka berkomunikasi mengungkapkan pendapat dengan meninggikan suara.

Sedangkan orang kuning menyampaikan kemarahannya dengan ekspresif, tatapan mata yang intens, bahasa tubuh yang tidak sabaran, namun keuntungan orang kuning yang ceria akan cepat merasa bersalah jika telah melampiaskan amarah dan akan bersikap baik kembali.

Lalu Hijau adalah tipe pemarah yang mendendam, mereka tak akan menyampaikan apa yang ada di pikirannya, tapi diam-diam akan menjauhi, menghindar, dan tak memedulikan.

Sedangkan orang Biru mengekspresikan kemarahannya dengan keluhan, terutama jika sebuah pekerjaan tak berjalan teratur, atau ada sesuatu yang keliru, mereka akan menggerutu dengan apa yang terjadi.

Buku ini menarik untuk membaca perilaku orang sekitar yang ternyata punya gaya yang berbeda-beda, setidaknya ini menjadi panduan dasar untuk menghadapi berbagai perilaku manusia, baik si Merah, Kuning, Hijau dan Biru.

Meski letak kelemahan buku ini adalah penyederhanaannya bagi setiap warna, dan membayangkan setiap orang bisa saja memiliki dua warna atau tiga warna.

Tapi menarik, penulis buku ini menguji coba setiap warna bergabung dalam satu kelompok sesuai warnanya, namun yang terjadi adalah kekacauan. Kelompok merah saling teriak dan marah, kelompok kuning malah asyik ngobrol mengawang, kelompok hijau malah diam tanpa tahu siapa yang memimpin, sedang kelompok biru hening mencatat setiap topik.

Maka idealnya setiap warna saling berpadu untuk membentuk kelompok yang harmoni.

Avatar photo

Penulis

Dosen IAIN Langsa yang hobi membaca buku. Meminati Psikologi, Sosiologi, Filsafat, dan Studi Islam

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Tak Ada Yang Lebih Revolusioner Dari Seorang Pembaca Buku

    Tak Ada Yang Lebih Revolusioner Dari Seorang Pembaca Buku

    • calendar_month Selasa, 23 Jun 2026
    • account_circle Romario
    • visibility 28
    • 0Komentar

    Oleh: Romario* — Ada kesalahan besar soal bagaimana media menggambarkan pembaca buku, seseorang yang berkacamata sambil mendekap sebuah buku. Padahal pembaca buku adalah orang-orang revolusioner, mereka datang dengan gagasan yang meruntuhkan apa yang telah dipercayai begitu saja. Mereka menelurkan keindahan dan kebrutalan dalam balutan sastra, bahkan menulis sajak-sajak yang bisa saja mengganggu penguasa. Pendiri Republik ini adalah […]

  • Foto Keluarga : SH

    In Memorium Haji Muhammad Shaleh

    • calendar_month Minggu, 31 Mei 2026
    • account_circle M Syarbani Haira
    • visibility 59
    • 0Komentar

    By : M Syarbani Haira – Minggu pagi, akhir Mei 2026, sekitar pukul 08.00 wita, notifikasi HP saya berbunyi. Ternyata kabar duka. Salah satu adik sepupu saya, Haji Muhammad Shaleh, meninggal dunia, dalam usia sekitar 52 tahun. Pria kelahiran desa Tayur kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) ini meninggalkan seorang isteri dan beberapa anak, untuk selama-lamanya. […]

  • Saya Tidak Dapat Sapinya, tapi Saya Punya Pendapat

    Saya Tidak Dapat Sapinya, tapi Saya Punya Pendapat

    • calendar_month Jumat, 29 Mei 2026
    • account_circle Najmi Fuady
    • visibility 117
    • 1Komentar

    Oleh: Najmi Fuady* — Negeri ini memang luar biasa. Soal sapi saja bisa jadi bahan debat nasional berhari-hari, bahkan bisa jadi berminggu-minggu. Padahal sapinya sendiri sudah habis dimakan. Waktu pertama kali baca beritanya, saya pikir Pak Presiden lagi panen raya atau memang punya peternakan pribadi yang selama ini tidak diliput media. Rupanya tidak begitu. 1.098 […]

  • Mereset Meritokrasi Muktamar NU 2026

    Mereset Meritokrasi Muktamar NU 2026

    • calendar_month Kamis, 18 Jun 2026
    • account_circle Syaipul Adhar
    • visibility 84
    • 0Komentar

    Oleh: Syaipul Adhar, M.E., Nahdliyyin Kultural Banua —  Sejatinya, agenda Muktamar PBNU 2026, yang dihelat agustus akan datang, tidaklah sekadar seremonial memilih ketua umum saja. Lebih besar dari itu, ia adalah momentum untuk menata ulang, mereset arah organisasi agar semakin kuat, inklusif, dan mampu merepresentasikan seluruh kekuatan Nahdlatul Ulama dari Sabang sampai Merauke. NU memang […]

  • Ulasan Buku Sekolah Itu Candu: Mempertanyakan Lagi Fungsi Sekolah

    Ulasan Buku Sekolah Itu Candu: Mempertanyakan Lagi Fungsi Sekolah

    • calendar_month Jumat, 10 Jul 2026
    • account_circle Romario
    • visibility 18
    • 0Komentar

    Oleh: Romario* — Kata sekolah berasal dari bahasa Latin skhole, scola, scolae, atau schola yang artinya waktu luang yang digunakan untuk belajar. Pada mulanya sekolah berfungsi sebagai waktu luang anak-anak. Untuk mengisi kegiatan anak-anak, dikirimlah mereka kepada orang yang terpelajar untuk menambah pengetahuan, belajar menulis, membaca, dan berhitung. Seiring waktu, sekolah menjadi tempat yang terlembagakan, […]

  • Ulasan Serial Teach You A Lesson: Kala Sekolah Tak Bisa Lagi Diatur

    Ulasan Serial Teach You A Lesson: Kala Sekolah Tak Bisa Lagi Diatur

    • calendar_month Minggu, 19 Jul 2026
    • account_circle Romario
    • visibility 29
    • 0Komentar

    Oleh: Romario* — Bullying atau perundungan sudah semakin meningkat di kalangan siswa. Tidak hanya perundungan sesama siswa, tapi sudah menyasar dari siswa kepada guru. Kejadian soal perundungan sering kali viral di media sosial, berbagai bentuk perundungan bisa kita lihat, dari memukuli korban, menarik rambut korban, mencaci maki korban, menendang korban, hingga peristiwa ini membuat korban […]

expand_less