Breaking News
light_mode
Beranda » Artikel » Menalar Sebuah Kebenaran dan Kejujuran

Menalar Sebuah Kebenaran dan Kejujuran

  • account_circle Romario
  • calendar_month Minggu, 28 Jun 2026
  • visibility 17
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Romario* — Kata benar dan salah adalah dua kata sederhana untuk menentukan apakah suatu tindakan, pikiran, dan pemahaman benar atau salah. Tapi bagaimanakah kita menentukan bahwa sesuatu itu benar dan salah?

Di sinilah debat panjang para filsuf terjadi, pertanyaan dasar ini menjadi pondasi dalam menentukan tindakan, pikiran, dan pemahaman. Ada begitu banyak aliran dalam filsafat, dan lebih rinci filsafat membagi hal tersebut dalam tiga pembahasan.

Pertama, ontologi berbicara soal apa yang Ada, Kedua Epistemologi berbicara darimana sumber ilmu pengetahuan, Ketiga aksiologi berbicara soal nilai.

Apakah itu kebenaran? Pertanyaan ini selalu menghampiri filsuf dari zaman Yunani hingga kini.

Apakah kebenaran bersifat subjektif atau objektif, yakni apakah kebenaran tiap-tiap orang berbeda-beda atau semua orang memiliki kebenaran yang sama. Kita akan ambil soal jujur, sebuah sifat yang benar karena menyampaikan secara terus terang, tidak berbohong, dan curang.

Sifat jujur dalam pandangan subjektif, ya tergantung pada situasinya, jika menguntungkan kita akan jujur, tapi jika tidak menguntukan yang lebih baik berbohong.

Perihal ini lah yang ditentang Socrates, menurutnya kebenaran itu bersifat objektif, termasuk kejujuran, tidak peduli dimanapun kejujuran adalah sesuatu yang benar, dan berbohong adalah perbuatan yang salah.

Bahkan Socrates menempatkan kejujuran sebagai kebajikan tertinggi, dalam kejujuran seseorang yang tahu batas intelektualnya adalah orang yang jujur yakni mengetahui apa yang sebenarnya dia tidak ketahui.

Kejujuran juga adalah selaranya antara pengetahuan dan tindakan, orang yang tahu bohong itu buruk, maka tidak akan melakukan kebohongan,dan terakhir jujur kepada diri sendiri untuk tidak berpura-pura dalam segala tindakan.

Kebenaran yang dirumuskan Socrates adalah kebenaran yang didialogkan dengan berbagai orang, sehingga orang-orang berpikir tentang kebenaran yang telah mereka percayai.

Dalam hal kebenaran, Socrates selalu menyaring informasi, apakah informasinya benar, baik, dan bermanfaat, jika tidak maka ia tidak mau menerima informasi tersebut.

Bahkan kebenaran yang telah Socrates sampaikan membuat para penguasa gelisah, karena dia mengajar anak muda untuk berpikir, apakah benar apa yang sudah dilakukan oleh penguasa. Dan sebab ini Socrates dituduh meracuni pikiran anak muda, sehingga ia dihukum minum racun.

Murid Socrates, bernama Plato merumuskan lagi soal kebenaran, bagi Plato kebenaran sejati ada di alam ide, sebuah kebenaran yang hakiki. Pada dasarnya apa yang terlihat di dunia hanyalah tiruan dari apa yang hakiki.

Kebenaran bisa dicapai melalui akal, jalurnya adalah ilmu. Kebenaran bisa diraih jika ilmu mencukupi, dan untuk mendapatkan ilmu seseorang perlu belajar, maka Plato mendirikan institusi pendidikan akademia.

Dari sinilah muncul berbagai filsuf yang merumuskan lagi dan mengembangkan soal kebenaran.

Dari Plato, muncul lagi murid jenius bernama Aristoteles, menurutnya kebenaran itu bukanlah hakikat tapi bisa dibuktikan dari keberadaannya di alam semesta.

Sesuatu dikatakan benar jika ia memang begitu faktanya di alam semesta, dan soal jujur sangat erat kaitannya, karena kejujuran mengatakan kebenaran apa adanya, ungkapkan apa yang seharusnya. Kebohongan hanya menjadi tindakan yang salah, karena tidak sesuai dengan faktanya, tidak bisa menjadi pembuktian.

Sebelum Nabi Muhammad diangkat menjadi rasul, beliau dikenal sebagai Al-Amin yang dapat dipercaya atau disebut jujur.

Sikap inilah yang membuktikan risalah kebenaran yang disampaikan Nabi Muhammad Saw ketika mendapatkan wahyu, bahwa kejujuran yang telah menjadi laku beliau selama hidup, telah jadi pembuktian bahwa apa yang dikatakan adalah sebuah kebenaran.

Kejujuran ini pula yang menjadi panduan penting dalam ajaran Islam, bahwa kejujuran dimulai dari niat, perkataan, dan tindakan. Keselarasan inilah yang membentuk orang jujur yang menyampaikan kebenaran.

Lalu bagaimana dengan situasi sekarang, saat slogan “Berani jujur, Hebat!” menggema dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), bahwa perilaku tidak jujur begitu menggeliat di kalangan pejabat, tak hanya yang berdasi tapi juga yang berpeci.

Mau bagaimanapun tindakan ketidakjujuran adalah sebuah perilaku yang salah. Tak ada kebenaran yang bisa dibenarkan oleh perbuatan tidak jujur.

Tidak peduli apakah yang tidak jujur beragama Islam atau tidak, seorang Gus atau tidak, semuanya tetap salah. Tak ada logika dan pemahaman yang bisa membenarkan tindakan tersebut.

Jika sekalipun ada orang yang berkata bahwa seandainya kamu diberi jabatan pun juga tidak jujur, maka tindakan tersebut tetaplah salah dan tak bisa dibenarkan. Logika tersebut, bisa disebut dengan cacat logika, membuat hal yang salah dianggap benar.

Hanya orang-orang jujur yang bisa menyampaikan kebenaran, dan kebenaran terbukti dari sebuah kejujuran. Sudah sepatutnya juga orang yang tidak jujur tidak perlu dibela, karena bertentangan dengan nalar kebenaran.

Avatar photo

Penulis

Dosen IAIN Langsa yang hobi membaca buku. Meminati Psikologi, Sosiologi, Filsafat, dan Studi Islam

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Rabithah Melayu Banjar Sembelih Hewan Qurban Bantuan Kapolri

    Rabithah Melayu Banjar Sembelih Hewan Qurban Bantuan Kapolri

    • calendar_month Rabu, 27 Mei 2026
    • account_circle Sahran Saukhan
    • visibility 51
    • 2Komentar

    BANJARMASIN – Keluarga besar Rabithah Melayu Banjar melaksanakan penyembelihan hewan qurban bantuan dari Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo pada Rabu (27/5/2026). Kegiatan sosial keagamaan ini berlangsung khidmat di Jalan Rahayu, Sungai Lulut, Kota Banjarmasin, segera setelah pelaksanaan ibadah Salat Idul Adha. Rabithah Melayu-Banjar sendiri merupakan perkumpulan kemasyarakatan melayu-banjar yang berfokus pada peningkatan empowering society, […]

  • Foto Karya AI Untuk Tulisan Ini

    PBNU 2021 – 2026 Dalam Sorotan Publik

    • calendar_month Rabu, 10 Jun 2026
    • account_circle M Syarbani Haira
    • visibility 42
    • 0Komentar

    Oleh : M Syarbani Haira* — JIKA mencermati dengan seksama, kepengurusan PBNU pimpinan Gus Yahya (GY), masa khidmat 2021 – 2026, satu-satunya kepengurusan PBNU yang mendapatkan sorotan publik, begitu tajam. Ironisnya, sorotan itu bukan hanya dalam dimensi yang positive konstruktive, melainkan sebaliknya, cenderung negative destruktive. Berbagai kritik dan koreksi, hujatan dan sumpah serapah, kerapkali terdengar dari […]

  • Sejumlah Kandidat Ketum PBNU Dialog dengan Delegasi Kalsel di Kediri

    Sejumlah Kandidat Ketum PBNU Dialog dengan Delegasi Kalsel di Kediri

    • calendar_month Minggu, 21 Jun 2026
    • account_circle Najmi Fuady
    • visibility 18
    • 0Komentar

    KEDIRI – Suasana di kompleks Pondok Pesantren Al-Falah, Ploso, Mojo, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, terlihat lebih sibuk dari biasanya saat menjadi tuan rumah Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama 2026. Sebagai warga Banjar yang sedang menyelesaikan studi di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, saya ikut memonitor atensi dan keterlibatan elite PWNU […]

  • Bias Integritas dengan Artificial Intelligence dan Originilitas Karya Akademik

    Bias Integritas dengan Artificial Intelligence dan Originilitas Karya Akademik

    • calendar_month Kamis, 9 Jul 2026
    • account_circle Eko Wahyu Nur Sofianto
    • visibility 23
    • 0Komentar

    Oleh: Eko Wahyu Nur Sofianto* — Menjelang musim pengisian Beban Kinerja Dosen (BKD), istri bertanya kepada saya, “Apakah ada artikel?”. Saya menjawab ada dan saya beri tautan URL artikel. Istri saya mencecar berbagai pertanyaan tentang artikel yang mendadak tiba-tiba ada dan penelitian bukan bibliometric, Systematic Literature Review (SLR), atau Narrative Review. Dengan berbagai diskusi dan […]

  • Kebenaran dan Kepentingan

    Kebenaran dan Kepentingan

    • calendar_month Sabtu, 23 Mei 2026
    • account_circle Najmi Fuady
    • visibility 79
    • 0Komentar

    Selama tujuan masih jauh dari genggaman, manusia akan mencari banyak cara untuk mendekatinya. Ada yang mengejar kekayaan, jabatan, pengaruh, rasa aman, atau sekadar pengakuan. Caranya pun bermacam-macam. Ada yang bekerja sangat keras, ada yang membangun relasi, ada pula yang memilih memuji dan ada juga yang hanya diam menahan pendapatnya. Bukan karena itu adalah kebenaran, melainkan […]

  • Sipil Yang Lemah? Penyebab ASN Tidak Ikut Upacara Kemerdekaan di Istana Negara?

    Sipil Yang Lemah? Penyebab ASN Tidak Ikut Upacara Kemerdekaan di Istana Negara?

    • calendar_month Rabu, 15 Jul 2026
    • account_circle Lintang Narendra
    • visibility 10
    • 0Komentar

    Oleh: Lintang Narendra* — Sejak kecil, masyarakat Indonesia terbiasa melihat seragam sebagai tanda kekuatan. Seragam TNI dan Polri hadir dalam upacara, berita, film, baliho, acara kenegaraan, pengamanan, penanganan bencana, sampai kegiatan di sekolah. Tubuh yang tegap, langkah yang sama, suara komando yang keras, pangkat di pundak, dan senjata yang dibawa menciptakan kesan yang mudah ditangkap: […]

expand_less