Breaking News
light_mode
Beranda » Artikel » Menalar Sebuah Kebenaran dan Kejujuran

Menalar Sebuah Kebenaran dan Kejujuran

  • account_circle Romario
  • calendar_month Minggu, 28 Jun 2026
  • visibility 30
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Romario* — Kata benar dan salah adalah dua kata sederhana untuk menentukan apakah suatu tindakan, pikiran, dan pemahaman benar atau salah. Tapi bagaimanakah kita menentukan bahwa sesuatu itu benar dan salah?

Di sinilah debat panjang para filsuf terjadi, pertanyaan dasar ini menjadi pondasi dalam menentukan tindakan, pikiran, dan pemahaman. Ada begitu banyak aliran dalam filsafat, dan lebih rinci filsafat membagi hal tersebut dalam tiga pembahasan.

Pertama, ontologi berbicara soal apa yang Ada, Kedua Epistemologi berbicara darimana sumber ilmu pengetahuan, Ketiga aksiologi berbicara soal nilai.

Apakah itu kebenaran? Pertanyaan ini selalu menghampiri filsuf dari zaman Yunani hingga kini.

Apakah kebenaran bersifat subjektif atau objektif, yakni apakah kebenaran tiap-tiap orang berbeda-beda atau semua orang memiliki kebenaran yang sama. Kita akan ambil soal jujur, sebuah sifat yang benar karena menyampaikan secara terus terang, tidak berbohong, dan curang.

Sifat jujur dalam pandangan subjektif, ya tergantung pada situasinya, jika menguntungkan kita akan jujur, tapi jika tidak menguntukan yang lebih baik berbohong.

Perihal ini lah yang ditentang Socrates, menurutnya kebenaran itu bersifat objektif, termasuk kejujuran, tidak peduli dimanapun kejujuran adalah sesuatu yang benar, dan berbohong adalah perbuatan yang salah.

Bahkan Socrates menempatkan kejujuran sebagai kebajikan tertinggi, dalam kejujuran seseorang yang tahu batas intelektualnya adalah orang yang jujur yakni mengetahui apa yang sebenarnya dia tidak ketahui.

Kejujuran juga adalah selaranya antara pengetahuan dan tindakan, orang yang tahu bohong itu buruk, maka tidak akan melakukan kebohongan,dan terakhir jujur kepada diri sendiri untuk tidak berpura-pura dalam segala tindakan.

Kebenaran yang dirumuskan Socrates adalah kebenaran yang didialogkan dengan berbagai orang, sehingga orang-orang berpikir tentang kebenaran yang telah mereka percayai.

Dalam hal kebenaran, Socrates selalu menyaring informasi, apakah informasinya benar, baik, dan bermanfaat, jika tidak maka ia tidak mau menerima informasi tersebut.

Bahkan kebenaran yang telah Socrates sampaikan membuat para penguasa gelisah, karena dia mengajar anak muda untuk berpikir, apakah benar apa yang sudah dilakukan oleh penguasa. Dan sebab ini Socrates dituduh meracuni pikiran anak muda, sehingga ia dihukum minum racun.

Murid Socrates, bernama Plato merumuskan lagi soal kebenaran, bagi Plato kebenaran sejati ada di alam ide, sebuah kebenaran yang hakiki. Pada dasarnya apa yang terlihat di dunia hanyalah tiruan dari apa yang hakiki.

Kebenaran bisa dicapai melalui akal, jalurnya adalah ilmu. Kebenaran bisa diraih jika ilmu mencukupi, dan untuk mendapatkan ilmu seseorang perlu belajar, maka Plato mendirikan institusi pendidikan akademia.

Dari sinilah muncul berbagai filsuf yang merumuskan lagi dan mengembangkan soal kebenaran.

Dari Plato, muncul lagi murid jenius bernama Aristoteles, menurutnya kebenaran itu bukanlah hakikat tapi bisa dibuktikan dari keberadaannya di alam semesta.

Sesuatu dikatakan benar jika ia memang begitu faktanya di alam semesta, dan soal jujur sangat erat kaitannya, karena kejujuran mengatakan kebenaran apa adanya, ungkapkan apa yang seharusnya. Kebohongan hanya menjadi tindakan yang salah, karena tidak sesuai dengan faktanya, tidak bisa menjadi pembuktian.

Sebelum Nabi Muhammad diangkat menjadi rasul, beliau dikenal sebagai Al-Amin yang dapat dipercaya atau disebut jujur.

Sikap inilah yang membuktikan risalah kebenaran yang disampaikan Nabi Muhammad Saw ketika mendapatkan wahyu, bahwa kejujuran yang telah menjadi laku beliau selama hidup, telah jadi pembuktian bahwa apa yang dikatakan adalah sebuah kebenaran.

Kejujuran ini pula yang menjadi panduan penting dalam ajaran Islam, bahwa kejujuran dimulai dari niat, perkataan, dan tindakan. Keselarasan inilah yang membentuk orang jujur yang menyampaikan kebenaran.

Lalu bagaimana dengan situasi sekarang, saat slogan “Berani jujur, Hebat!” menggema dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), bahwa perilaku tidak jujur begitu menggeliat di kalangan pejabat, tak hanya yang berdasi tapi juga yang berpeci.

Mau bagaimanapun tindakan ketidakjujuran adalah sebuah perilaku yang salah. Tak ada kebenaran yang bisa dibenarkan oleh perbuatan tidak jujur.

Tidak peduli apakah yang tidak jujur beragama Islam atau tidak, seorang Gus atau tidak, semuanya tetap salah. Tak ada logika dan pemahaman yang bisa membenarkan tindakan tersebut.

Jika sekalipun ada orang yang berkata bahwa seandainya kamu diberi jabatan pun juga tidak jujur, maka tindakan tersebut tetaplah salah dan tak bisa dibenarkan. Logika tersebut, bisa disebut dengan cacat logika, membuat hal yang salah dianggap benar.

Hanya orang-orang jujur yang bisa menyampaikan kebenaran, dan kebenaran terbukti dari sebuah kejujuran. Sudah sepatutnya juga orang yang tidak jujur tidak perlu dibela, karena bertentangan dengan nalar kebenaran.

Avatar photo

Penulis

Dosen IAIN Langsa yang hobi membaca buku. Meminati Psikologi, Sosiologi, Filsafat, dan Studi Islam

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ulasan Buku Kiat Menjadi Diktator: Ketika Pemimpin Gila Berkuasa

    Ulasan Buku Kiat Menjadi Diktator: Ketika Pemimpin Gila Berkuasa

    • calendar_month Minggu, 19 Jul 2026
    • account_circle Romario
    • visibility 37
    • 0Komentar

    Oleh: Romario* — Membaca buku Kiat Sukses Menjadi Diktator karya Mikal Hem, membuatku terperangah, heran, dan sungguh tak masuk logika. Buku ini mengumpulkan bagaimana pemimpin-pemimpin gila berkuasa. Dalam buku ini Soeharto sebagai presiden kedua di Indonesia termasuk pemimpin gila, di barisan pemimpin gila, dirinya mendapat predikat pemimpin terkorup di dunia. Selain Soeharto ada begitu banyak […]

  • HGB Summarecon Bogor, OTT KPK, dan Posisi Nusron Wahid: Siapa Berwenang, Siapa Bertanggung Jawab?

    HGB Summarecon Bogor, OTT KPK, dan Posisi Nusron Wahid: Siapa Berwenang, Siapa Bertanggung Jawab?

    • calendar_month 19 jam yang lalu
    • account_circle Purwanto M. Ali
    • visibility 26
    • 0Komentar

    Oleh: Purwanto M. Ali Tulisan ini dimaksudkan agar publik dapat memahami konstruksi perkara OTT KPK terkait pengurusan HGB Summarecon di Kabupaten Bogor secara benar, utuh, dan proporsional. Hal ini penting karena terdapat beberapa peristiwa hukum berbeda yang kerap dibicarakan seolah-olah merupakan satu rangkaian yang sama: penerbitan HGB, sengketa tanah, pemblokiran sertifikat, pembukaan blokir, pemecahan HGB, […]

  • Ulasan Buku Sekolah Itu Candu: Mempertanyakan Lagi Fungsi Sekolah

    Ulasan Buku Sekolah Itu Candu: Mempertanyakan Lagi Fungsi Sekolah

    • calendar_month Jumat, 10 Jul 2026
    • account_circle Romario
    • visibility 18
    • 0Komentar

    Oleh: Romario* — Kata sekolah berasal dari bahasa Latin skhole, scola, scolae, atau schola yang artinya waktu luang yang digunakan untuk belajar. Pada mulanya sekolah berfungsi sebagai waktu luang anak-anak. Untuk mengisi kegiatan anak-anak, dikirimlah mereka kepada orang yang terpelajar untuk menambah pengetahuan, belajar menulis, membaca, dan berhitung. Seiring waktu, sekolah menjadi tempat yang terlembagakan, […]

  • Moderasi Beragama dan Algoritma Media Sosial: Mengapa Dakwah NU dan Muhammadiyah Tertinggal di YouTube?

    Moderasi Beragama dan Algoritma Media Sosial: Mengapa Dakwah NU dan Muhammadiyah Tertinggal di YouTube?

    • calendar_month Sabtu, 27 Jun 2026
    • account_circle Romario
    • visibility 59
    • 0Komentar

    Oleh: Romario* — NU dan Muhammadiyah adalah dua organisasi Islam yang sudah lama eksis di Indonesia. Secara historis baik NU dan Muhammadiyah terlibat dalam urusan negara bangsa serta memiliki anggota yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia serta menjadi wajah Moderasi Beragama. Seiring perkembangan teknologi dan masuknya gerakan Islam transnasional memberi ancaman bagi NU dan […]

  • Algoritma vs Budaya: Krisis Identitas Anak Muda Indonesia

    Algoritma vs Budaya: Krisis Identitas Anak Muda Indonesia

    • calendar_month Sabtu, 30 Mei 2026
    • account_circle Alfinnor Effendy
    • visibility 41
    • 0Komentar

    Oleh : Alfinnor Effendy* — Perubahan zaman selalu melahirkan dua kemungkinan sekaligus: kemajuan dan kehilangan. Kemajuan menghadirkan teknologi, kemudahan akses informasi, serta peluang yang sebelumnya tidak pernah dibayangkan. Namun di saat yang sama, perubahan juga berpotensi membuat manusia kehilangan arah, tercerabut dari akar budayanya, bahkan mengalami krisis makna dalam menjalani kehidupan. Indonesia hari ini sedang […]

  • Mereset Meritokrasi Muktamar NU 2026

    Mereset Meritokrasi Muktamar NU 2026

    • calendar_month Kamis, 18 Jun 2026
    • account_circle Syaipul Adhar
    • visibility 85
    • 0Komentar

    Oleh: Syaipul Adhar, M.E., Nahdliyyin Kultural Banua —  Sejatinya, agenda Muktamar PBNU 2026, yang dihelat agustus akan datang, tidaklah sekadar seremonial memilih ketua umum saja. Lebih besar dari itu, ia adalah momentum untuk menata ulang, mereset arah organisasi agar semakin kuat, inklusif, dan mampu merepresentasikan seluruh kekuatan Nahdlatul Ulama dari Sabang sampai Merauke. NU memang […]

expand_less