Breaking News
light_mode
Beranda » Topik Hangat » Dan Jamaah NU pun Ikut Terlena Materialisme

Dan Jamaah NU pun Ikut Terlena Materialisme

  • account_circle M Syarbani Haira
  • calendar_month Rabu, 27 Mei 2026
  • visibility 65
  • comment 1 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Catatan dari Bumi Kalimantan

Saya hadir bumi ini tiga tahun setelah Pemilu 1955. Event ulang tahun tak pernah diperingati khusus. Malah negara yang melakukannya, bersamaan dengan Peringatan Hari Pendidikan Nasional. Sejak lahir, hingga hari ini, umat Islam dari berbagai penjuru dunia setiap saat usai shalat atau pertemuan silaturahim, mendoakan saya bersama umat Islam lainnya, agar mendapatkan Rahmat dari Allah SWT. Apalagi kedua orang tua dan keluarga lainnya, juga guru-guru, selalu mendoakan agar saya menjadi anak yang baik, berbakti pada orang tua, agama dan bangsa.

Alhamdulillah secara umum doa dan harapan itu sudah terpenuhi. Perjalanan karier saya menjadi pendidik, ustadz atau guru, di sebuah kampus  negeri. Saya aktif di NU, bahkan mendirikan Universitas NU yang mulai digagas sejak 2007, tetapi baru berhasil dioperasionalkan 2014. Ironisnya, hanya dalam hitungan tahun, tepatnya 6 atau 7 tahun, kampus ini dikuasai para pendatang asing, yang  sama sekali tak terlibat dalam proses pendirian.

Saya menjadi bagian jam’iyyah NU, perkumpulan keagamaan yang didirikan para ulama, antara lain Kyai Hasyim Asy’ari, Kyai Wahab Hasbullah, Kyai Bisri Syansuri dan sejumlah ulama hebat lainnya, sejak dari kandungan. Kenapa ? Karena bapak saya, di kampung dipanggil Mu’alim KH Muhammad Ramli Anang, menjadi aktivis Pandu NU sejak beliau sekolah, entah ketika di Amuntai (Hulu Sungai Utara), Nagara (Hulu Sungai Selatan), Gontor (Ponorogo, Jawa Timur). Kemudian menjadi Ketua Ranting Partai NU di akhir tahun 1960-an hingga awal 1970-an. Pimpinan PCNU HSU sejak 1980-an, hingga beliau wafat di usia 92 tahun 2020 silam, karena factor usia. Jabatan beliau terakhir, Mustasyar PCNU HSU. Demikian pula dengan mama, yang selalu membersamai Jemaah Muslimat dalam berbagai pertemuan, di desanya.

Saya pribadi sempat menjadi anggota IPNU. Sejak 1977-1978 menjadi aktivis PMII Cabang Yogyakarta. Setelah malang melintang sebagai aktivis PMII dan pers mahasiswa, mulai 1984 saya terjun ke pers umum, pernah bertugas di Surabaya, Jakarta, dan di Banjarmasin. Sebelumnya, sat di Yogyakarta pernah memimpin Lembaga pers mahasiswa.

Saat Kembali ke kota “seribu Sungai”, saya kembali diajak membantu sahabat-sahabat PMII, dan NU. Apalagi setelah saya menjadi dosen di IAIN Antasari, sejak itu saya kembali aktif membantu NU, khususnya pasca “Khittah 1926” pada Muktamar NU ke-27 di Situbondo, Jawa Timur 1984.  Hingga 2007 terpilih menjadi Ketua Tanfidziah PWNU Kalsel dua periode, masa khidmat 2007-2012 dan 2012-2017. Tak hanya itu, pada Muktamar NU ke-34 di Lampung Desember 2021, dipercaya menjadi salah satu Katib Syuriah PBNU periode 2021 – 2026.

***

Selama ber-NU, saya mengamati betul sikap, langkah dan perilaku jamaah NU, baik yang structural, maupun yang kultural. Sejak era Orde Lama, hingga sekitar 25 tahun era Orde Baru, baik yang structural mau pun yang kultural, nampak sekali terlihat keikhlasan dan ketulusan jamaah dalam ber-NU. Pada 1970, setahun sebelum Pemilu 1971 (Pemilu pertama era Soeharto), bapak saya sebagai Ketua Partai NU di kampung, mengadakan event Lailatul Ijtima’, mendatangkan sejumlah tokoh NU dari kota. Untuk suksesnya event ini, warga  ramai-ramai urunan, ada yang membawa kelapa, sayur, ayam, lombok, beras, dll nya, untuk menyiapkan makanan jamaah yang hadir.

Saya kagum, tumpukan ayam kampung yang sudah disembelih meng”gunung”, mereka ramai-ramai membersihkan, dan memasaknya. Mereka bikin “tungku” buat “mangawah” nasi, sedang kaum muslimat memasak sayur dan lauk. Semangat mensukseskan NU dalam Pemilu 1971 itu luar biasa, gotong royong besar yang pernah saya saksikan untuk NU. Karena pasca itu, aparat tak lagi mengijinkan. Apalagi para kepala kampung dan hansip yang dibentuk negara, melarangnya. Tahun 1970-an dan 1980-an adalah era yang lumayan reprisive dialami NU.

Apalagi salah satu kontestan di era Orde Baru, PPP dengan benteng utama NU bisa mengalahkan partai pemerintah di tiga provinsi, seperti  Atjeh, Jakarta, dan Kalimantan Selatan. Karena kejadian tersebut, Jenderal Besar Soeharto makin garang. Puncaknya, terjadilah “polarisasi” di tubuh NU1982, antara “Kubu Cipete” (politisi, seperti Chalid Mawardi cs) vs “Kubu Situbondo”, Jawa Timur (jajaran ulama, Syuriah PBNU, seperti Kyai Ali Maksum cs). Dua kubu ini baru mulai sirna setelah NU melaksanakan Muktamar di Situbondo, Jawa Timur 1984.

Salah satu keputusan besar Muktamar NU ke-30 itu kembalinya NU sebagai jam’iyyah, dengan icon “Khittah NU 1926”. Dengan icon ini, maka sejak itu elite partai, khususnya pasca Partai NU yang bubar 1973, jam’iyyah NU yang semula hanya didominasi PPP, maka semua orang partai memiliki peluang yang sama untuk menjadi pengurus NU. Sejak 1984 itu, mulai ada orang Golkar dan PDI yang  aktif di NU, namun tidak bisa sebagai elite utama.

Keunggulan jamaah NU dalam berbagai event tetap terpelihara dengan baik. Keswadayaan jamaah menjadi ciri khas utama. Orang NU jika sedang ada event, selalu urunan. Mereka hadir ke arena, seperti Munas atau Muktamar, dengan dana sendiri. Dana swadaya, selain kas NU yang didapat dari sumbangan, dan politisi NU. Saya masih ingat bapak saya, dan beberapa tokoh NU banua lainnya, jika harus pergi ke pulau Jawa menghadiri event NU, umumnya naik kapal laut, mengingat kala itu naik pesawat merupakan barang mewah.

***

Bersamaan dengan kemajuan pembangunan di era orde baru, dengan pertumbuhan ekonomi yang lumayan signifikan di atas 6 %, secara global faham materialismekapitalisme sudah mulai menyentuh ketenangan warga di negeri ini. Bangsa Indonesia, di mana di dalamnya termasuk jamaah NU, mulai kerasukan faham materialisme kapitalisme ini. Sejak itu, jamaah NU mulai menikmati dinamika materialisme, bersama bangsa Indonesia lainnya. Secara ekonomi, beberapa tokoh NU juga mengalami transformasi, dengan munculnya kaum “aghniya”, untuk tidak menyebut “konglomerat”.

Para aghniya itu, yang sebagian di antara mereka ada yang minus religiusitas-nya, menjadi bahagia jika sudah mensedeqahkan sebagian harta kekayaannya untuk para tokoh NU, yang memang dikenal sebagai tokoh agama (ulama). Demikian juga para pejabat (umara), setali tiga uang. Sejak itu, setidaknya sejak 1990-an, ada ulama NU yang menjadi semacam “piaraan” kaum aghniya dan umara. Mereka tak segan-segan menggelontorkan dolar miliknya, untuk ulama “piaraan”-nya. Hebatnya, jam’iyyah NU pun mendapatkan dampaknya. Hampir semua kebutuhan event NU bisa tertutupi. Untuk sekarang misalnya, jika ingin menghadiri muktamar, NU banua bisa mengirim delegasinya lebih dari satu pesawat. Ini transformasi gaya hidup yang luar biasa. Ini bisa positif tetapi sebaliknya bisa pula berdimensi negative.

Dinamika ini sekaligus merubah potret dan profil aktivis NU. Kaum shufi, dan ulama khos, yang selalu tulus dan Ikhlas, memilih leave atau tidak dipakai di NU. Kemudian masuklah kaum pragmatis ke tubuh NU. Dalam catatan saya, menjelang Muktamar NU 1994 di Cipasung, Tasikmalaya, Jawa Barat, memang mulai terasa adanya godaan materialism dan pragmatism ini.

Salah satu ciri dari kaum pragmatis ini, mereka berebut untuk menjadi pemimpin NU. Tetapi tak pernah dari mereka itu untuk berebut atau berlomba-lomba memakmurkan NU. Ada pengurus NU yang hanya hidup di tiga musim”. Pertama, musim konferensi wilayah atau cabang, karena mereka ingin menjadi elite. Kedua, musim muktamar, karena mereka bisa pergi menghadiri arena dengan fasilitas naik pesawat, dan pulangnya, dapat berkah. Ketiga, event pilkada, pemilu dan pilpres.

Di luar ketiga event tersebut, mereka ngaso lagi. Jam’iyyah NU menjadi wujuduhu ka’adamihi.  Lihat saja, setelah mereka memimpin NU, tak ada asset baru yang jadi kenangan. Ironisnya, justru yang terjadi ada pula pasca selesai memimpin NU, asset NU malah hilang. Jamaah NU itu sendiri memilih diam, sehingga kemungkinan besar asset-asset NU bisa hilang semuanya. Kecuali jika ada di antara mereka itu tetap peduli dengan NU, berikut asset-asetnya.

Menjelang Muktamar NU ke-35 tahun 2026 ini, gerakan kasak-kusuk para elite NU mulai terdengar dan hidup kembali. Setelah hamper 5 tahun sunyi dan senyap, sekarang mereka mulai bergerilya, bikin acara seperti silaturahim Keluarga Besar NU. Kebetulan mereka itu memiliki jaringan internasional, sehingga pendanaannya tidak pernah ada masalah. Dia bisa membayar tiket pesawat berapa pun orang yang akan berangkat. Tidak hanya itu, usai acara dan menjelang pulang, mereka pun membagi berkah kepada warga NU yang hadir.

Sebagai orang yang lumayan lama aktif di NU, saya memahami betul fenomena ini. Tanpa bermaksud menyombongkan diri, jika ada undangan yang difasilitasi keberkahan ini dinilai destruktive, maka saya tak akan menghadirinya. Karena saya tetap berpikir untuk NU masa depan. Saya tak dapat membayangkan, apa yang akan terjadi, jika saja elite NU selamanya terlena oleh faham materialism pragmatism ini. Kelompok ini jelas kali terlihat tak pernah ada dari mereka itu yang mikir bagaimana agar NU itu menjadi lebih genuine dan briliant. Punya asset yang terkait dengan kemajuan ekonomi, pendidikan, social dan kesehatan. Buktinya selama kepemimpinan mereka, tak ada karya apa pun untuk NU.

Kita menyadari bumi ini akan diisi oleh dua pola kehidupan yang kadang head to head, berhadap-hadapan. Ada yang baik dan ada yang sebaliknya. Dua-duanya akan tumbuh subur. Semoga saja kelompok generasi NU masa depan adalah kelompok yang berpikir positif masih dominan. Jika tidak, menunggu waktu saja kehancuran perkumpulan ulama berlogo “Bola Dunia” ini. Wallahu’alam bis-sawab … !!!

Penulis, Pernah Menjadi Pengurus NU, dan Berniat Mengabdi Untuk NU

Avatar photo

Penulis

Pekerja Sosial, Jurnalis, dan Pengamat Sosial. Aktif di networking NGO internasional, for humanity, empowering society, peace and justice. Menekuni Demografi - Geografi, al-Bidayah wa an-Nihayah.

Komentar (1)

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Menelusuri Berita Populer: Dari Politik Hingga Kesehatan

    Menelusuri Berita Populer: Dari Politik Hingga Kesehatan

    • calendar_month Sabtu, 23 Mei 2026
    • account_circle Developer
    • visibility 40
    • 0Komentar

    Memahami Berita Populer Di era digital ini, berita populer menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari. Berita yang mencakup berbagai kategori seperti politik, teknologi, budaya, dan kesehatan sangat diperlukan untuk menjaga kita tetap terinformasi tentang isu terkini. Mengikuti berita terbaru tidak hanya memberikan wawasan baru, tetapi juga membentuk pandangan kita terhadap dunia. Kategori Berita yang Penting […]

  • suasana sidang pleno

    Munas NU, dari Musyawarah Menuju Konflik: Mengapa Ber-Sengketa, Kaum Muda Saling Menyalahkan

    • calendar_month Sabtu, 27 Jun 2026
    • account_circle M Syarbani Haira
    • visibility 15
    • 0Komentar

    By : M. Syarbani Haira – Perkumpulan Nahdlatul Ulama baru saja menyelenggarakan Munas, dan  Konbes. Ini sebuah pehelatan menyongsong Muktamar, yang telah disepakati akan dilaksanakan awal Agustus 2026. Munas membahas banyak hal, khususnya terkait dengan materi, lokasi, waktu, dan lainnya. Ternyata, meski ini perkumpulan para ulama, mereka tidak bisa musyawarah. Terjadi konflik, walau tidak fisik. […]

  • Mantan Aktivis PMII Jember

    Paradoks NU: Ketika Membesar, Jangan Sampai Kehilangan Akar

    • calendar_month Senin, 1 Jun 2026
    • account_circle Eko Ernada
    • visibility 25
    • 0Komentar

    Oleh : Eko Ernada, Grad.Dipl.IR, Ph.D.*  –  Ketika para kiai mendirikan Nahdlatul Ulama (NU) pada 1926, sulit membayangkan bahwa organisasi yang lahir dari jaringan pesantren, langgar, dan komunitas-komunitas lokal itu kelak menjelma menjadi salah satu organisasi Islam terbesar di dunia. Dari ruang-ruang sederhana tempat para ulama mendiskusikan masa depan umat, NU tumbuh menjadi kekuatan sosial-keagamaan […]

  • Selamat PSG, Tapi Tolong Jangan Tiga Kali

    Selamat PSG, Tapi Tolong Jangan Tiga Kali

    • calendar_month Minggu, 31 Mei 2026
    • account_circle Najmi Fuady
    • visibility 90
    • 0Komentar

    Oleh: Najmi Fuady* — Baiklah. Selamat kepada Paris Saint-Germain yang telah berhasil mempertahankan gelar Liga Champions untuk kedua kalinya secara berturut-turut tadi malam. Mengalahkan Arsenal di Budapest lewat adu penalti, setelah Gabriel Magalhães mengirimkan tendangan terakhirnya ke luar mistar, menghadiahkan kemenangan 4-3 kepada Les Parisiens. Luar biasa memang, saya sangat bahagia. Tapi bohong. Sejujurnya, saya […]

  • Foto Pribadi

    Profil KH Zulfa Mustofa, Kandidat Ketua Umum PBNU 2026-2031

    • calendar_month Kamis, 9 Jul 2026
    • account_circle Noura Dalla Adilla
    • visibility 15
    • 0Komentar

    Jakarta – The Nusantara Insight : Hiruk pikuk Munas NU mengenai lokasi muktamar, berakhir sudah. PBNU, melalui rapat gabungan Syuriah dan Tanfidziah, melaksanakan pertemuan khusus, yang dihadiri lengkap. Termasuk tim survei yang sudah turun ke lapangan. PBNU akhirnya memutuskan jika Muktamar NU ke-35 ini, akan dilaksanakan di Pesantren Tambak Beras, Jombang, Jawa Timur. Event 5 […]

  • Foto : Dokument MTQ

    Memenangkan Lomba Karya Tulis Ilmiah AL-QUR’AN

    • calendar_month Minggu, 31 Mei 2026
    • account_circle M Syarbani Haira
    • visibility 30
    • 0Komentar

    By : M Syarbani Haira – Menurut jadwal yang terpublish, pertengahan Juni ini, tepatnya dari tanggal 18 hingga 26 Juni 2026, pemerintah provinsi Kalimantan Selatan, bersama LPTQ (Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an) Kalimantan Selatan akan melaksanakan event tahunan, Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) nasional yang ke-37 Tingkat provinsi Kalimantan Selatan. Sesuai jadwal yang sudah disepakati LPTQ Kalimantan […]

expand_less