Breaking News
light_mode
Beranda » Artikel » Memenangkan Lomba Karya Tulis Ilmiah AL-QUR’AN

Memenangkan Lomba Karya Tulis Ilmiah AL-QUR’AN

  • account_circle M Syarbani Haira
  • calendar_month Minggu, 31 Mei 2026
  • visibility 31
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

By : M Syarbani Haira – Menurut jadwal yang terpublish, pertengahan Juni ini, tepatnya dari tanggal 18 hingga 26 Juni 2026, pemerintah provinsi Kalimantan Selatan, bersama LPTQ (Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an) Kalimantan Selatan akan melaksanakan event tahunan, Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) nasional yang ke-37 Tingkat provinsi Kalimantan Selatan.

Sesuai jadwal yang sudah disepakati LPTQ Kalimantan Selatan, lokasi MTQ kali ini, atau tuan rumahnya dipercayakan kepada pemerintah kabupaten Barito Kuala (Batola). Tuan rumah MTQ dilakukan secara bergiliran, tahun kemarin (MTQ ke-36) kebetulan dipercayakan kepada pemerintah kabupaten Banjar.

Menurut publikasi panitia, direncanakan berbagai cabang lomba disebar di beberapa titik utama di kawasan Kota Marabahan. Panggung utama, sekaligus tempat perlombaan cabang Tilawah Remaja dan Dewasa, dilaksanakan di Lapangan “25 Desember”. Sementara cabang Tilawah Anak-anak, Tartil dan Cacat Netra dilangsungkan di Mesjid Al-Istiqamah.

Cabang Tahfiz Al-Qur’an dan beberapa cabang lainnya akan dilaksanakan di Gedung SKB dan Kantor DPRD kabupaten Batola. Khusus Cabang Tafsir, dengan beberapa variable lainnya, dilakukan di Mesjid Agung Al-Anwar, Marabahan.

Tidak lupa panitia juga akan memanfaatkan sejumlah fasilitas pendidikan, seperti MAN 1 Barito Kuala, SMAN 1 Marabahan, dan SMKN 1 Marabahan, untuk perlombaan cabang lainnya, seperti Hadist, Khat atau Kaligrafi hingga Lomba Karya Tulis Ilmiyah (LKTI) Al-Qur’an.

Pengalaman Jurnalistik  

Meski pernah menjadi pembaca Tilawatil Al-Qur’an RRI Nusantara III Yogyakarta di awal tahun 1980-an, saya tidak meneruskan bakat untuk menjadi qari. Lomba Tingkat Desa sekali pun juga belum pernah diikuti. Kala itu, selain rajin membaca banyak buku (sebuah tuntutan bagi tiap mahasiswa), saya sangat menggandrungi dunia jurnalistik. Dunia tulis menulis. Saya terus melatih diri untuk menjadi penulis, sebuah pekerjaan yang kala itu tidak banyak yang meminatinya. Kala itu sejumlah mahasiswa senior kerap mengisi lembaran media massa, misalnya (untuk Yogyakarta) ada nama Faisal Ismail (alm), Slamet Effendy Yusuf (alm), Affan Gafar (alm), Imam Anshary Shaleh, dsb. Sementara di Jakarta, ada sejumlah nama beken, misalnya Fachry Aly, Azzumardi Azra (alm), Mahrus Irsyam, dan sejumlah nama hebat, yang saya sudah mulai lupa.

Dari mereka itulah yang telah menginspirasi, yang kemudian, saya mulai bisa menulis di sejumlah media massa. Mulai dari media lokal seperti Kedaulatan Rakyat (Yogyakarta), Masa Kini, Majalah ARENA, Suara Merdeka (Semarang), Surya (Surabaya), Mingguan Salemba Jakarta, hingga media nasional seperti Harian Merdeka, Harian Prioritas dan Media Indonesia (pimpinan Surya Paloh), bahkan Harian Kompas di Jakarta.

Banyak sekali manfaat bisa menulis di media massa ini. Pertama, nama saya dikenal banyak orang, bahkan oleh orang-orang hebat sekali pun. Terbukti, saat test wawancara untuk menjadi dosen di IAIN Antasari, Drs. HM. Asy’ari, MA (Rektor IAIN, almarhum, lahul fatihah), yang harusnya mewawancarai malah cuma nanya bagaimana perjalanan bisa menulis di media massa? Hampir satu jam dialog berlangsung, ujungnya cuma bilang, nanti jika sudah menjadi dosen, sering-sering menulis di media, sebagai dosen IAIN.

Kedua, dapat uang, honor sebagai penulis. Besaran uang sebagai penulis ini memang tak ada yang baku. Dulu itu saya pernah menerima honor menulis cuma Rp 50 ribu, tetapi ada juga yang sudah memberikan honor hingga Rp 2 juta per tulisan. Tidak dibayar pun sudah biasa. Sama sekali tidak mengurangi semangat saya untuk menulis.

Ketiga, kerap diundang menjadi peserta seminar, atau malah menjadi nara  sumber. Menjadi peserta seminar itu ada yang memperoleh salary (honor), ada pula yang tidak. Begitu pula menjadi nara sumber, sami mawon keadaannya. Jika menjadi nara sumber undangan mahasiswa, malah saya yang mentraktis mereka makan di warung … ha ha .. ini antara lain suka dukanya seorang penulis.

Foto : Dokument MTQ

Foto Bersama Para Majelis Hakim MTQ

Keuntungan lain bisa menulis itu, nama pribadi umumnya menjadi terkenal, dan semakin dikenal. Banyak orang yang hanya tahu nama, tetapi tidak pernah ketemu orangnya. Tetapi yang paling berkesan ketika nama saya termasuk yang diundang ke Australia (meski Bahasa Inggris saya masih jadul), untuk sharing opini atas nama aktivis umat beragama. Saya juga diundang dalam Kongres aktivis NGO internasional kawasan Asia Pasifik di Malaysia tahun 1999. Hanya berbekal nama yang kala itu dianggap peduli, bahkan ahli dibidangnya.

Tidak hanya itu, saya bahkan bisa memperoleh fellowshif untuk meneruskan studi magister hingga doktor, dari Ford Foundation, Amerika Serikat. Bermula saya ditawari jaringan mereka yang ada di Indonesia, setelah mereka membaca tulisan saya mengenai “Kesehatan Reproduksi Perspektif Islam”, diawal 1990-an.

Hingga hari ini saya masih kerapkali menjadi trainer karya tulis, khususnya di kalangan mahasiswa. Khusus untuk  warga PMII, dilakukan sejak di Yogyakarta, hingga Banjarmasin. Belakangan, juga kerap diundang pengurus LPTQ dari berbagai kabupaten kota, untuk melatih atau berbagi pengalaman bagi calon peserta lomba KTI Al-Qur’an, salah satu Cabang dalam MTQ.

Menuju Juara LKTI

Pengalaman memberikan bimbingan, training center (TC), untuk karya tulis ilmiah bagi calon peserta MTQ cabang KTI al-Qur’an, sejujurnya relative delimatis. Karena, ini dugaan saja, mereka mengundang itu agar peserta yang mereka ikutkan bisa menang lomba, sesuai cabangnya. Jika calon pesertanya memang genuine dan brilliant sejak awal, mudah untuk menang. Namun jika hanya modal semangat, maka di situlah problemanya.

Jika dibanding dengan proses pengalaman pribadi mampu menjadi penulis, baik artikel popular, ilmiah, jurnal atau buku, selain ikut bimbingan sejumlah tokoh, latihan pribadi justru sangat penting. Ini sangat diterminant. Dan jika untuk mengikuti lomba, seperti LKTI ini, maka harus kita pelajari dengan baik regulasinya. And last but not least, tradisi membaca merupakan prioritas utama.

Terkait regulasi ini, pada tahun 2009 LPTQ Nasional pernah melaksanakan Musyawarah Perhakiman, dengan melibatkan sejumlah pakar, yang hasilnya dituangkan dalam buku berjudul “Pedoman Musabaqah Al-Qur’an”, yang kemudian diterbitkan Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam. Buku ini memuat acuan pelaksanaan MTQ, untuk semua cabang. Mulai dari tata cara hingga kisi penilaian. Saya sudah pelajari buku secara detail, khususnya yang terkait dengan Cabang KTI Al-Qur’an.

Ternyata, dengan 6 dewan hakim yang ditugaskan, tiap 2 orang akan menilai 3  aspek utama. Pertama, soal materi dan bobot makalah. Kedua, kaidah dan gaya Bahasa. Ketiga, soal logika dan organisasi pesan. Jika ada peserta yang unggul dalam 3 hal ini, maka yang bersangkutan berhak untuk mengikuti babak final. Sedang yang kurang siap, otomatis akan tersisih.

Peserta yang unggul saat penyisihan, dia berhak mengikuti babak final, untuk mendapatkan juara I, II dan III, serta juara harapan. Saat final ini dilakukan presentasi. Modal utama presentasi ini adalah kemampuan tampil bicara di muka publik. Mampu menjawab secara logis, argumentative. Bisa saja pesertanya cerdas dan brilliant, tetapi gagal presentasi, maka dia berpeluang gagal, tersisih.

Saat diminta untuk memberikan pelatihan, dengan waktu yang hanya beberapa jam pertemuan, maka hal pertama yang selalu untuk didorong memberikan spirit, bahwa kalian harus menang. Ini ditanamkan sebisanya. Berikutnya, kisi yang ada itulah yang selalu dipacu dan gelorakan.

Alhamdulillah, beberapa peserta yang pernah dibimbing, memiliki talenta yang baik. Mereka punya tekad untuk menang, Dan, nyatanya menang benaran. Meski mungkin kemenangannya itu karena kekuatan dirinya sendiri, orang tua, sahabat, atau pelatih lainnya. Karena saya terlibat, maka kadang ada juga yang bilang “ini berkat sampean” ujar beberapa suppoternya … ha ha ha …. ini ke-ge-er-an … !!!

Selamat berlatih adik-adik calon peserta MTQ Cabang KTI Al-Qur’an. Orang yang punya niat baik akan mendapatkan balasan yang terbaik. Keikhlasan dan ketulusan menjadi support untuk memenangkannya. Bismillah, wa syukrillah, tawakkaltu alallah, lomba KTI bagian dari perintah Allah dalam Al-Qur’an, amar makruf nahi munkar. Wallahu a’lam bis-sawab … !!!

Avatar photo

Penulis

Pekerja Sosial, Jurnalis, dan Pengamat Sosial. Aktif di networking NGO internasional, for humanity, empowering society, peace and justice. Menekuni Demografi - Geografi, al-Bidayah wa an-Nihayah.

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Lebih Cepat Belum Tentu Lebih Baik

    Lebih Cepat Belum Tentu Lebih Baik

    • calendar_month Jumat, 10 Jul 2026
    • account_circle Romario
    • visibility 11
    • 0Komentar

    Oleh: Romario* — Jargon “Lebih Cepat, Lebih Baik” sudah seharusnya dipertanyakan, benarkah lebih cepat lebih baik? Kadang lebih cepat malah membuat berantakan dan tidak selalu baik. Kehadiran internet telah menambah kecepatan untuk mendapatkan informasi, tapi informasi yang didapat tidak selalu baik, bahkan sering kali keliru. Dalam situasi serba cepat saat ini, kita seperti berada di […]

  • Menyongsong Muktamar: Sejumlah Tokoh Berkibar, Inilah Profil Singkat dan Peta Kekuatan Pimpinan PBNU Mendatang

    Menyongsong Muktamar: Sejumlah Tokoh Berkibar, Inilah Profil Singkat dan Peta Kekuatan Pimpinan PBNU Mendatang

    • calendar_month Jumat, 29 Mei 2026
    • account_circle Chatib Nourie Syaher
    • visibility 79
    • 0Komentar

    Oleh: Chatib Nourie Syaher , Catatan dari Kairo, Mesir – Menjelang Muktamar ke-35 NU tahun 2026, saya mengikuti pemberitaan melalui berbagai media dan diskusi dengan sejumlah mahasiswa serta tokoh NU di Mesir. Tulisan Purwanto M. Ali, aktivis NU dan Ketua PP GP Ansor 2005–2011, melalui media Facebook, Jumat, 29 Mei 2026, sangat menginspirasi. Mantan aktivis […]

  • Pancasila Setelah Upacara Selesai

    Pancasila Setelah Upacara Selesai

    • calendar_month Rabu, 3 Jun 2026
    • account_circle Alfinnor Effendy
    • visibility 20
    • 0Komentar

    Oleh: Alfinnor Effendy — Setiap tahun, di tanggal 1 Juni, kita kerap melaksanakan kegiatan yang nyaris serupa. Di halaman kantor pemerintahan, sekolah, kampus, hingga berbagai institusi, ramai-ramai digelar upacara peringatan hari lahir Pancasila dengan penuh khidmat. Teks Pancasila dibacakan, pidato kebangsaan disampaikan, dan media sosial dipenuhi kutipan para pendiri bangsa. Pada hari itu, Pancasila seolah […]

  • Mengajak Wahid Hasyim ‘Membaca’ NU Kini

    Mengajak Wahid Hasyim ‘Membaca’ NU Kini

    • calendar_month Minggu, 7 Jun 2026
    • account_circle Najmi Fuady
    • visibility 70
    • 0Komentar

    Oleh: Najmi Fuady* — Beberapa waktu lalu, saya membaca sebuah tulisan berjudul Mengapa Saya Memilih NU yang beredar di Facebook. Penulisnya adalah Allahyarham K.H. Wahid Hasyim, putra dari pendiri Nahdlatul Ulama, Hadratussyekh K.H. Hasyim Asy’ari, sekaligus ayah dari K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Majalah Gema Muslimin menerbitkan tulisan tersebut pada November 1953 di tahun pertamanya. […]

  • Kebenaran dan Kepentingan

    Kebenaran dan Kepentingan

    • calendar_month Sabtu, 23 Mei 2026
    • account_circle Najmi Fuady
    • visibility 79
    • 0Komentar

    Selama tujuan masih jauh dari genggaman, manusia akan mencari banyak cara untuk mendekatinya. Ada yang mengejar kekayaan, jabatan, pengaruh, rasa aman, atau sekadar pengakuan. Caranya pun bermacam-macam. Ada yang bekerja sangat keras, ada yang membangun relasi, ada pula yang memilih memuji dan ada juga yang hanya diam menahan pendapatnya. Bukan karena itu adalah kebenaran, melainkan […]

  • Guru Sekumpul, Muktamar NU 1984 dan “Jin Majapahit”

    Guru Sekumpul, Muktamar NU 1984 dan “Jin Majapahit”

    • calendar_month Kamis, 25 Jun 2026
    • account_circle Najmi Fuady
    • visibility 40
    • 0Komentar

    Oleh: Najmi Fuady* — Dalam salah satu potongan ceramahnya, (Alm) Abah Guru Sekumpul (K.H. Muhammad Zaini, Sekumpul, Martapura, Kalsel) pernah bercerita mengenai kedekatan beliau dengan berbagai kalangan, mencakup berbagai lapisan masyarakat dari tingkat RT hingga Presiden. Beliau bahkan juga berteman dengan golongan jin, karena di antara jin tersebut, ada yang memeluk agama Islam. Namun, beliau menjelaskan […]

expand_less