Jejak Ulama Timur Tengah: Bagaimana Perannya Membentuk Wajah Islam Indonesia?
- account_circle Romario
- calendar_month Senin, 1 Jun 2026
- visibility 34
- comment 2 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Oleh : Romario* — Ustaz populer yang terkenal di media sosial banyak berasal dari alumni Timur Tengah. Contohnya, Ustaz Hanan Attaki (alumni Mesir), Ustaz Abdul Somad (alumni Mesir, Maroko, dan Sudan), Ustaz Adi Hidayat (alumni Libya), dan Khalid Basalamah (alumni Madinah).
Latar belakang pendidikan Islam yang mereka tempuh di Timur Tengah menjadikan otoritas keagamaan mereka diakui oleh masyarakat. Jika ditarik mundur ke belakang, peristiwa ini bukanlah hal baru.
Dalam buku Azyumardi Azra berjudul Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII, disebutkan sejumlah ulama belajar ke Timur Tengah, utamanya di Mekah dan Madinah. Mereka belajar tafsir, hadis, fikih, kalam, dan tasawuf kepada banyak ulama yang otoritatif. Sanad keilmuan mereka diambil dari sejumlah ulama muhadis dan tarekat.
Mekah dan Madinah pada masa itu adalah tempat berkumpulnya ulama dari berbagai penjuru yang mendirikan rabithah (perkumpulan majelis keilmuan). Di sinilah sejumlah ulama Nusantara belajar langsung kepada ulama-ulama otoritatif.
Jaringan Keilmuan Abad ke-17
Pada abad ke-17, ada tiga ulama yang berasal dari jaringan Timur Tengah, yakni Nuruddin Ar-Raniry, Abdur Rauf As-Singkili, dan Yusuf Al-Makassari. Ketiga ulama ini memainkan peran besar dalam perkembangan Islam di Indonesia.
Perkembangan neo-sufi di Timur Tengah turut memengaruhi ketiga ulama tersebut.Neo-sufi berupaya mencari titik temu antara syariat dan tasawuf. Tasawuf yang dipelajari bersifat aktivisme untuk memperbaiki perilaku, bukan tasawuf yang hidup menyendiri.
Kedatangan Nuruddin Ar-Raniry di Aceh menjadikannya mufti kesultanan pada masa Sultan Iskandar Tsani. Dominasi ajaran wujudiah yang dipraktikkan Hamzah Fansuri dan Syamsudin Sumatrani pada masa Sultan Ali Mughayat Syah dan Sultan Iskandar Muda dikritik keras oleh Nuruddin Ar-Raniry.

Sumber foto: Wikipedia
Menurut Nuruddin Ar-Raniry, ajaran wujudiah mengandung kesesatan. Hal ini membuat Sultan Iskandar Tsani memaksa pengikut Hamzah Fansuri untuk bertobat. Namun, karena mereka berpegang teguh pada ajaran tersebut, mereka dihukum mati dan buku-buku karya Hamzah Fansuri dibakar di depan Masjid Baiturrahman.
Pada dekade selanjutnya, saat Abdur Rauf As-Singkili menjadi mufti kesultanan pada masa Sultanah Safiatuddin, ia mengkritik tindakan Nuruddin Ar-Raniry yang menyesatkan kaum wujudiah serta melakukan pembunuhan dan pembakaran buku. Meski tidak setuju dengan wujudiah, Abdur Rauf memilih jalan yang lebih damai.
Sikap ini ia dapatkan dari guru utamanya, Al-Qusyasyi dan Ibrahim al-Kurani, yang memiliki pandangan untuk mempertemukan pemahaman yang bertentangan dengan cara yang damai.
Yusuf Al-Makassari adalah ulama yang belajar di Timur Tengah dengan guru yang sama dengan Abdur Rauf As-Singkili, yakni Al-Qusyasyi dan Ibrahim al-Kurani. Sesudah belajar di Timur Tengah, Yusuf Al-Makassari menjadi mufti di Banten saat Kesultanan dikuasai Sultan Ageng Tirtayasa.
Sebagai ulama, ia ikut berjuang menghadapi Belanda ketika terjadi perang antara Sultan Ageng Tirtayasa dan pihak Belanda. Yusuf Al-Makassari akhirnya diasingkan ke Sri Lanka. Pengasingan ini tidak menyurutkan semangat pengikutnya untuk belajar kepada beliau. Situasi ini mengkhawatirkan Belanda sehingga mereka mengasingkan Yusuf Al-Makassari lebih jauh ke Afrika.
Ulama Nusantara Abad Ke-18
Ketiga ulama abad ke-17 tersebut meninggalkan sejumlah karya berupa kitab dan tafsir. Beberapa kitab ditulis dalam bahasa Arab-Melayu untuk mempermudah masyarakat Muslim di Nusantara. Pada fase selanjutnya, karya mereka berpengaruh terhadap ulama pada abad ke-18.
Sejumlah ulama jaringan Timur Tengah yang berpengaruh pada abad ke-18 adalah Abdul Samad Al-Palimbani, Muhammad Arsyad Al-Banjari, Nafis Al-Banjari, dan Dawud bin Abdullah Al-Fatani. Sama seperti ulama abad ke-17, mereka belajar Islam di Mekah, Madinah, serta beberapa wilayah Timur Tengah lainnya. Sejumlah karya yang mereka tulis berpengaruh besar terhadap perkembangan Islam di Nusantara.
Abdul Samad Al-Palimbani selama belajar di Mekah dan Madinah tidak kembali ke Nusantara. Karyanya banyak dipelajari kaum Muslim Nusantara dan ia gencar mengimbau jihad untuk melawan Belanda. Al-Palimbani memiliki guru yang masyhur, di antaranya Abdulkarim al-Sammani, Muhammad bin Sulayman al-Kurdi, dan Abdul Mu’im al-Damanhuri. Dalam karyanya, Al-Palimbani berupaya menjembatani ajaran tasawuf Ibnu Arabi dan Al-Ghazali.
Muhammad Arsyad Al-Banjari adalah ulama yang menjadi mufti di Kesultanan Banjar, Kalimantan Selatan. Ia memiliki guru yang sama dengan Abdul Samad Al-Palimbani, yaitu al-Sammani, al-Damanhuri, Sulayman al-Kurdi, dan Atha Allah al-Mashri.

Sumber Foto: Wikipedia
Ketika menjadi mufti di Kesultanan Banjar, Muhammad Arsyad sering berkonsultasi kepada gurunya, Sulaiman al-Kurdi, terkait perkara yang beliau hadapi. Selama menjadi mufti, Muhammad Arsyad memperkuat doktrin Islam di Kalimantan Selatan dengan mendirikan lembaga pendidikan dan pengadilan Islam. Ia sempat mengeluarkan fatwa sesat terhadap Haji Abdul Hamid Abulung yang membuat penduduk bingung, hingga akhirnya ia dihukum mati oleh Sultan Banjar.
Selain Muhammad Arsyad, tokoh terkenal lainnya di Kalimantan Selatan adalah Muhammad Nafis Al-Banjari. Ia lebih dikenal sebagai ulama tasawuf yang terkenal dengan karya Al-Durr al-Nafis. Kitab tersebut dicetak di Kairo, Mekah, dan berbagai wilayah Nusantara. Bukunya memuat ajaran neo-sufi yang menekankan aktivisme hingga pernah dilarang oleh Belanda karena memicu kaum Muslim Nusantara berjihad.
Dawud Al-Fatani adalah ulama abad ke-18 yang berpengaruh, walaupun berasal dari Patani, Thailand Selatan. Sebanyak 57 karyanya berpengaruh besar terhadap ulama Nusantara. Ia mengabdikan hidupnya di Haramain dan banyak muridnya berasal dari Nusantara. Isnad keilmuannya bersambung dengan Muhammad Nafis Al-Banjari, Muhammad Arsyad Al-Banjari, Al-Palimbani, sampai Sulaiman al-Kurdi.
Pada pertengahan abad ke-18, situasi Haramain dikuasai oleh pemahaman Muhammad bin Abdul Wahhab yang didukung oleh Kerajaan Arab Saudi. Sejak saat itu, Haramain didominasi oleh pengikut Muhammad bin Abdul Wahhab yang bertujuan memurnikan Islam dengan mengembalikan pemahaman Islam berdasar Al-Qur’an dan hadis secara tekstual.
Kondisi ini memengaruhi corak Islam di Nusantara. Terutama setelah kepulangan tiga haji Minangkabau dari Mekah, yaitu Haji Miskin, Haji Sumanik, dan Haji Piobang, yang bertemu dengan Tuanku Nan Renceh. Mereka melakukan pembaruan Islam secara radikal, membakar surau yang dianggap bidah, dan menyebarkan ajaran Wahabi. Peristiwa ini membuat bangsawan dan penghulu khawatir, lalu meminta bantuan Belanda, hingga terjadilah Perang Padri.
Di Haramain, ada ulama Nusantara yang sangat berpengaruh melanjutkan tradisi jaringan ulama, yaitu Ahmad Khatib al-Minangkabawi. Beliau memiliki banyak murid dari Nusantara, di antaranya Haji Rasul (ayah Buya Hamka), Muhammad Jamil Jambek, Sulaiman Ar-Rasuli (pendiri PERTI), Hasyim Asyari (pendiri NU), dan Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah).
Khatib al-Minangkabawi berjasa mengenalkan karya Muhammad Abduh. Awalnya, ia berniat agar murid-muridnya kritis terhadap pemikiran Abduh, akan tetapi beberapa muridnya justru mengikuti ajaran Muhammad Abduh dan berangkat ke Mesir.
Ajaran Muhammad Abduh kemudian mewarnai hadirnya pemikiran reformis-modernis di Nusantara. Di Minangkabau, Haji Rasul dan Muhammad Jamil Jambek mendirikan sekolah Islam modern, Sumatera Thawalib. Di Jawa, Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah, lalu membangun sekolah Islam modern, rumah sakit, dan sejumlah panti asuhan.
Islam Transnasional dan Tantangan Kontemporer
Pada perkembangan selanjutnya, sejumlah Muslim Nusantara masih belajar ke Timur Tengah, terutama ke Mesir dan Yaman, yang melahirkan sejumlah tokoh dan ulama berpengaruh. Meski pada masa Orde Baru, Perguruan Tinggi Islam yang awalnya mengikuti Al-Azhar mengubah paradigmanya mengikuti studi Islam di Barat, para mahasiswa yang belajar ke Timur Tengah tetap ada.
Jaringan ini juga membawa pemahaman Islam transnasional dari Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir, Salafi, dan lain-lain. Masifnya gerakan dakwah kampus, terutama di perguruan tinggi umum, menjadi wadah penyebaran ide-ide Hasan Al-Banna dan Sayyid Qutb yang bercorak tarbawi dari Mesir, ide Taqiyuddin Al-Nabhani yang bercorak tahriri dari Yordania, dan Salafi dari Mekah serta Madinah.
Di kutub ekstrem, jaringan Timur Tengah ini sempat berhubungan dengan Al-Qaeda, di mana doktrin ajaran mereka masuk melalui Jamaah Islamiyah. Keinginan mereka mendirikan negara Islam diwarnai dengan aksi kekerasan dan teror, termasuk bom bunuh diri. Ajaran-ajaran Al-Qaeda kemudian bertransformasi menjadi ISIS. Melalui internet, mereka merekrut sejumlah orang Indonesia untuk diajak ke Suriah, yang pada akhirnya menjadi korban.
Sampai saat ini, keberadaan Islam di Indonesia tidak lepas dari jaringan ulama Timur Tengah. Kaum Muslim yang setiap tahunnya menuntut ilmu di Timur Tengah, seperti di Mesir, Madinah, Yaman, dan Libya, turut mewarnai corak keberagamaan yang kemudian diadopsi dan berkembang di Indonesia.
Penulis Romario
Dosen IAIN Langsa yang hobi membaca buku. Meminati Psikologi, Sosiologi, Filsafat, dan Studi Islam

Dahsyat..
7 Juni 2026 12:25keren, turut menambah khazanah pengetahuan sejarah Islam global dan nusantara
1 Juni 2026 09:32