Breaking News
light_mode
Beranda » Artikel » Doomscrolling dan Generasi Z: Ancaman Nyata bagi Kesehatan Mental Anak Indonesia

Doomscrolling dan Generasi Z: Ancaman Nyata bagi Kesehatan Mental Anak Indonesia

  • account_circle Romario
  • calendar_month Kamis, 9 Jul 2026
  • visibility 16
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Romario* — Kesehatan mental telah menjadi permasalahan internasional, termasuk juga di Indonesia. Salah satu penyebab paling besar adalah penggunaan smartphone dan media sosial.

Perubahan dari dunia analog ke dunia maya, tidak hanya mengubah kemajuan zaman namun juga meningkatnya permasalahan mental.

Dari penelitian yang dilakukan Jonathan Haidth dalam bukunya Generasi Cemas, menunjukan bahwa banyak remaja kecanduan dengan smartphone sehingga tidak bisa mengontrol diri, dalam kasus ekstrim sampai melukai diri sendiri hingga melakukan bunuh diri.

Hadirnya media sosial seperti Facebook, Instagram, Tik Tok, Twitter (Sekarang “X”), dan lain-lain, telah menjadi aplikasi yang tak terpisahkan bagi generasi Z, semua akun tersebut telah menawarkan hiburan tanpa batas dan waktu.

Adanya fitur posting, like, dan komentar membuat media sosial betah untuk diakses terus menerus. Segala informasi dan yang viral menjadi konsumsi sehari-hari bagi generasi Z.

Perbedaan mendasar generasi sebelumnya dan generasi Z, adalah kehadiran smartphone yang sudah dirasakan ketika masih anak-anak, sehingga generasi Z dikenal dengan digital native yakni cepat memahami piranti digital.

Dalam buku Stolen Focus karya Johann Hari menceritakan bahwa penemu fitur scrolling menyesal atas temuannya, karena yang pada awalnya memudahkan pengguna agar lebih mudah melihat postingan, perlahan menjadi masalah ketika akhirnya pengguna tidak bisa berhenti untuk scroll terus menerus atau sekarang diistilahkan dengan doomscrolling.

Perusahaan media sosial pun dengan sengaja menampilkan postingan yang disukai oleh pengguna, sehingga sulit untuk berhenti. Masalah pun sudah digugat oleh sejumlah orang ke ranah hukum, karena perusahaan media sosial dengan memanipulasi pengguna.

Film dokumenter berjudul Social Delima menggambarkan bagaimana perusahaan media sosial memperhatikan pengguna dengan menyarankan apa yang disukai dan mengarahkan untuk membeli barang yang dikehendaki, dan menempatkan iklan dari pola pencarian yang dilakukan oleh pengguna.

Hal ini membuat algoritma media sosial pengguna bekerja dengan cara filter bubble, menampilkan apa yang paling disukai pengguna, sehingga sulit untuk berhenti.

Dampak paling mengerikan dari kehadiran media sosial ini adalah menggejalanya brain root yakni menurunnya kemampuan kognitif seseorang.

Saking berbahayanya media sosial, beberapa negara menerapkan aturan pelarangan bagi anak di bawah 16 menggunakan media sosial, bahkan di Indonesia melalui Komdigi baru-baru ini disahkan soal aturan anak di bawah 16 tahun tidak boleh menggunakan media sosia.

Kehancuran pada anak begitu destruktif, dari mulai kecanduan, ketidakmampuan meregulasi emosi, meniru perilaku orang dewasa, hingga yang paling ekstrim melakukan pelecehan seksual dengan teman-temannya. Hingga hal ini mengaburkan batas antara anak dan orang dewasa.

Akibat dari media sosial pula, kemampuan anak dalam bersosial perlahan berkurang, bahkan adab sopan santun pun terkikis, kehadiran game online yang tidak memperdulikan anak-anak dan dewasa, serta pertemuan dengan pemain anonim, menimbulkan banyak bahasa-bahasa yang tak pantas dan digunakan oleh anak-anak.

Game online pun dimanfaat para predator anak untuk memanipulasi anak-anak melakukan hal-hal yang tak pantas.

Maka, sudah sepatutnya orang dewasa menjaga anak-anak dari kecanduan media sosial, apalagi memberikan paparan layar terus menerus.

Dalam buku Mendidik Anak di Era Digital karya Yee-Jin Shin, dijelaskan bahwa anak yang terpapar layar pada saat remaja tidak memiliki kemampuan dalam mengendalikan emosi.

Sudah seharusnya juga sekolah menerapkan aturan pelarangan penggunaan smartphone di sekolah, agar anak-anak bisa bersosial sesama teman-temannya.

Dalam hal ini, Jonathan Haidt dalam buku Generasi Cemas telah melakukan percobaan terhadap sekolah untuk tidak memperbolehkan penggunaan smartphone saat di sekolah, dan percobaan tersebut berhasil menurunkan rasa kecemasan siswa, yang sebelumnya cukup tinggi saat sekolah membiarkan smartphone digunakan.

Avatar photo

Penulis

Dosen IAIN Langsa yang hobi membaca buku. Meminati Psikologi, Sosiologi, Filsafat, dan Studi Islam

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Wujud Syukur, Keluarga Besar Bani H. Taberani-Hj. Rusdiana Berqurban di Banjarmasin

    Wujud Syukur, Keluarga Besar Bani H. Taberani-Hj. Rusdiana Berqurban di Banjarmasin

    • calendar_month Rabu, 27 Mei 2026
    • account_circle Sahran Saukhan
    • visibility 32
    • 0Komentar

    BANJARMASIN – Semangat kebersamaan dan gotong royong mewarnai perayaan Idul Adha 1447 H di kediaman H. Taufik Noor, SH, yang berlokasi di kawasan Benua Anyar, Kota Banjarmasin, Rabu (27/5/2026). Pada momen penuh berkah ini, keluarga besar Bani H. Taberani-Hj. Rusdiana melaksanakan penyembelihan satu ekor sapi qurban sebagai wujud syukur dan kepedulian terhadap sesama. Sejak pagi […]

  • Ulasan Buku Surrounded By Idiots: Bisakah Kita Membaca Perilaku Manusia?

    Ulasan Buku Surrounded By Idiots: Bisakah Kita Membaca Perilaku Manusia?

    • calendar_month Minggu, 12 Jul 2026
    • account_circle Romario
    • visibility 6
    • 0Komentar

    Oleh: Romario* — Awal mulanya buku ini ditulis Thomas karena ada seorang pemimpin perusahaan yang marah dengan pegawainya, lalu menganggap orang-orang sekitarnya sebagai idiot. Dari sinilah Thomas tergerak membaca perilaku manusia. Dalam buku ini, ia membagi perilaku manusia dalam empat warna, yakni Merah, Kuning, Hijau dan Biru, dan setiap orang bisa saja dominan di salah satu […]

  • Ulasan Buku Sekolah Itu Candu: Mempertanyakan Lagi Fungsi Sekolah

    Ulasan Buku Sekolah Itu Candu: Mempertanyakan Lagi Fungsi Sekolah

    • calendar_month Jumat, 10 Jul 2026
    • account_circle Romario
    • visibility 5
    • 0Komentar

    Oleh: Romario* — Kata sekolah berasal dari bahasa Latin skhole, scola, scolae, atau schola yang artinya waktu luang yang digunakan untuk belajar. Pada mulanya sekolah berfungsi sebagai waktu luang anak-anak. Untuk mengisi kegiatan anak-anak, dikirimlah mereka kepada orang yang terpelajar untuk menambah pengetahuan, belajar menulis, membaca, dan berhitung. Seiring waktu, sekolah menjadi tempat yang terlembagakan, […]

  • Algoritma vs Budaya: Krisis Identitas Anak Muda Indonesia

    Algoritma vs Budaya: Krisis Identitas Anak Muda Indonesia

    • calendar_month Sabtu, 30 Mei 2026
    • account_circle Alfinnor Effendy
    • visibility 26
    • 0Komentar

    Oleh : Alfinnor Effendy* — Perubahan zaman selalu melahirkan dua kemungkinan sekaligus: kemajuan dan kehilangan. Kemajuan menghadirkan teknologi, kemudahan akses informasi, serta peluang yang sebelumnya tidak pernah dibayangkan. Namun di saat yang sama, perubahan juga berpotensi membuat manusia kehilangan arah, tercerabut dari akar budayanya, bahkan mengalami krisis makna dalam menjalani kehidupan. Indonesia hari ini sedang […]

  • Menelusuri Berita Populer: Dari Politik Hingga Kesehatan

    Menelusuri Berita Populer: Dari Politik Hingga Kesehatan

    • calendar_month Sabtu, 23 Mei 2026
    • account_circle Developer
    • visibility 40
    • 0Komentar

    Memahami Berita Populer Di era digital ini, berita populer menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari. Berita yang mencakup berbagai kategori seperti politik, teknologi, budaya, dan kesehatan sangat diperlukan untuk menjaga kita tetap terinformasi tentang isu terkini. Mengikuti berita terbaru tidak hanya memberikan wawasan baru, tetapi juga membentuk pandangan kita terhadap dunia. Kategori Berita yang Penting […]

  • Lebih Cepat Belum Tentu Lebih Baik

    Lebih Cepat Belum Tentu Lebih Baik

    • calendar_month Jumat, 10 Jul 2026
    • account_circle Romario
    • visibility 11
    • 0Komentar

    Oleh: Romario* — Jargon “Lebih Cepat, Lebih Baik” sudah seharusnya dipertanyakan, benarkah lebih cepat lebih baik? Kadang lebih cepat malah membuat berantakan dan tidak selalu baik. Kehadiran internet telah menambah kecepatan untuk mendapatkan informasi, tapi informasi yang didapat tidak selalu baik, bahkan sering kali keliru. Dalam situasi serba cepat saat ini, kita seperti berada di […]

expand_less