Breaking News
light_mode
Beranda » Artikel » Doomscrolling dan Generasi Z: Ancaman Nyata bagi Kesehatan Mental Anak Indonesia

Doomscrolling dan Generasi Z: Ancaman Nyata bagi Kesehatan Mental Anak Indonesia

  • account_circle Romario
  • calendar_month Kamis, 9 Jul 2026
  • visibility 36
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Romario* — Kesehatan mental telah menjadi permasalahan internasional, termasuk juga di Indonesia. Salah satu penyebab paling besar adalah penggunaan smartphone dan media sosial.

Perubahan dari dunia analog ke dunia maya, tidak hanya mengubah kemajuan zaman namun juga meningkatnya permasalahan mental.

Dari penelitian yang dilakukan Jonathan Haidth dalam bukunya Generasi Cemas, menunjukan bahwa banyak remaja kecanduan dengan smartphone sehingga tidak bisa mengontrol diri, dalam kasus ekstrim sampai melukai diri sendiri hingga melakukan bunuh diri.

Hadirnya media sosial seperti Facebook, Instagram, Tik Tok, Twitter (Sekarang “X”), dan lain-lain, telah menjadi aplikasi yang tak terpisahkan bagi generasi Z, semua akun tersebut telah menawarkan hiburan tanpa batas dan waktu.

Adanya fitur posting, like, dan komentar membuat media sosial betah untuk diakses terus menerus. Segala informasi dan yang viral menjadi konsumsi sehari-hari bagi generasi Z.

Perbedaan mendasar generasi sebelumnya dan generasi Z, adalah kehadiran smartphone yang sudah dirasakan ketika masih anak-anak, sehingga generasi Z dikenal dengan digital native yakni cepat memahami piranti digital.

Dalam buku Stolen Focus karya Johann Hari menceritakan bahwa penemu fitur scrolling menyesal atas temuannya, karena yang pada awalnya memudahkan pengguna agar lebih mudah melihat postingan, perlahan menjadi masalah ketika akhirnya pengguna tidak bisa berhenti untuk scroll terus menerus atau sekarang diistilahkan dengan doomscrolling.

Perusahaan media sosial pun dengan sengaja menampilkan postingan yang disukai oleh pengguna, sehingga sulit untuk berhenti. Masalah pun sudah digugat oleh sejumlah orang ke ranah hukum, karena perusahaan media sosial dengan memanipulasi pengguna.

Film dokumenter berjudul Social Delima menggambarkan bagaimana perusahaan media sosial memperhatikan pengguna dengan menyarankan apa yang disukai dan mengarahkan untuk membeli barang yang dikehendaki, dan menempatkan iklan dari pola pencarian yang dilakukan oleh pengguna.

Hal ini membuat algoritma media sosial pengguna bekerja dengan cara filter bubble, menampilkan apa yang paling disukai pengguna, sehingga sulit untuk berhenti.

Dampak paling mengerikan dari kehadiran media sosial ini adalah menggejalanya brain root yakni menurunnya kemampuan kognitif seseorang.

Saking berbahayanya media sosial, beberapa negara menerapkan aturan pelarangan bagi anak di bawah 16 menggunakan media sosial, bahkan di Indonesia melalui Komdigi baru-baru ini disahkan soal aturan anak di bawah 16 tahun tidak boleh menggunakan media sosia.

Kehancuran pada anak begitu destruktif, dari mulai kecanduan, ketidakmampuan meregulasi emosi, meniru perilaku orang dewasa, hingga yang paling ekstrim melakukan pelecehan seksual dengan teman-temannya. Hingga hal ini mengaburkan batas antara anak dan orang dewasa.

Akibat dari media sosial pula, kemampuan anak dalam bersosial perlahan berkurang, bahkan adab sopan santun pun terkikis, kehadiran game online yang tidak memperdulikan anak-anak dan dewasa, serta pertemuan dengan pemain anonim, menimbulkan banyak bahasa-bahasa yang tak pantas dan digunakan oleh anak-anak.

Game online pun dimanfaat para predator anak untuk memanipulasi anak-anak melakukan hal-hal yang tak pantas.

Maka, sudah sepatutnya orang dewasa menjaga anak-anak dari kecanduan media sosial, apalagi memberikan paparan layar terus menerus.

Dalam buku Mendidik Anak di Era Digital karya Yee-Jin Shin, dijelaskan bahwa anak yang terpapar layar pada saat remaja tidak memiliki kemampuan dalam mengendalikan emosi.

Sudah seharusnya juga sekolah menerapkan aturan pelarangan penggunaan smartphone di sekolah, agar anak-anak bisa bersosial sesama teman-temannya.

Dalam hal ini, Jonathan Haidt dalam buku Generasi Cemas telah melakukan percobaan terhadap sekolah untuk tidak memperbolehkan penggunaan smartphone saat di sekolah, dan percobaan tersebut berhasil menurunkan rasa kecemasan siswa, yang sebelumnya cukup tinggi saat sekolah membiarkan smartphone digunakan.

Avatar photo

Penulis

Dosen IAIN Langsa yang hobi membaca buku. Meminati Psikologi, Sosiologi, Filsafat, dan Studi Islam

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • ronaldo dkk

    “Ayat-ayat Cinta Ronaldo-Messi dan Anarkisme Mbappe-Haaland”

    • calendar_month Kamis, 25 Jun 2026
    • account_circle M Syarbani Haira
    • visibility 32
    • 0Komentar

    “Ayat-ayat Cinta Ronaldo-Messi dan Anarkisme Mbappe-Haaland” By : M Syarbani Haira – Sahabat … !!! Kekaguman dan kecintaan terhadap aktor mesin bola dunia selama tiga, bahkan empat decade terakhir ini, membuat saya harus melanggar tata krama penulisan dunia jurnalistik. Judul berita CNN Indonesia, edisi Kamis, 23 Juni 2026, “Ayat-ayat Cinta Ronaldo-Messi dan Anarkisme Mbappe-Haaland” saya […]

  • Usulan AHWA 2026

    Jangan Biarkan Semangat Separatisme Muncul di NU

    • calendar_month Kamis, 18 Jun 2026
    • account_circle M Syarbani Haira
    • visibility 29
    • 0Komentar

    Jangan Biarkan Semangat Separatisme Muncul di NU By : M Syarbani Haira – The Nusantara Insight – Jam’iyah Nahdlatul Ulama dikenal sebagai perkumpulan yang memiliki fondasi perjuangan. Ia bisa dikatakan semacam manhaj, sudut pandang, bahkan pola pikir. Di antara manhaj NU itu adalah mengekor pada apa yang menjadi nilai (value) Ahlussunnah wal-jamaah (Aswaja). Jika saja […]

  • Paradoks NU: Ketika Membesar, Jangan Sampai Kehilangan Akar

    Paradoks NU: Ketika Membesar, Jangan Sampai Kehilangan Akar

    • calendar_month Senin, 1 Jun 2026
    • account_circle Eko Ernada
    • visibility 37
    • 0Komentar

    Oleh : Eko Ernada, Grad.Dipl.IR, Ph.D.*  –  Ketika para kiai mendirikan Nahdlatul Ulama (NU) pada 1926, sulit membayangkan bahwa organisasi yang lahir dari jaringan pesantren, langgar, dan komunitas-komunitas lokal itu kelak menjelma menjadi salah satu organisasi Islam terbesar di dunia. Dari ruang-ruang sederhana tempat para ulama mendiskusikan masa depan umat, NU tumbuh menjadi kekuatan sosial-keagamaan […]

  • Nasionalisme yang Kehilangan Cermin : Ketika Retorika Kebangsaan Tidak Lagi Sejalan dengan Perilaku

    Nasionalisme yang Kehilangan Cermin : Ketika Retorika Kebangsaan Tidak Lagi Sejalan dengan Perilaku

    • calendar_month Sabtu, 13 Jun 2026
    • account_circle Alfinnor Effendy
    • visibility 28
    • 0Komentar

    Oleh : Alfinnor Effendy* —  Di negeri ini, kata nasionalisme sering kali terdengar begitu nyaring. Ia diucapkan dalam pidato-pidato resmi, diteriakkan dalam upacara-upacara seremonial, ditulis dalam slogan-slogan besar yang memenuhi ruang publik. Namun, pertanyaan yang jarang diajukan adalah apakah nasionalisme cukup diukur dari seberapa sering seseorang mengucapkannya? Sejarah mengajarkan bahwa nasionalisme bukanlah perkara kata-kata. Ia adalah […]

  • Algoritma vs Budaya: Krisis Identitas Anak Muda Indonesia

    Algoritma vs Budaya: Krisis Identitas Anak Muda Indonesia

    • calendar_month Sabtu, 30 Mei 2026
    • account_circle Alfinnor Effendy
    • visibility 41
    • 0Komentar

    Oleh : Alfinnor Effendy* — Perubahan zaman selalu melahirkan dua kemungkinan sekaligus: kemajuan dan kehilangan. Kemajuan menghadirkan teknologi, kemudahan akses informasi, serta peluang yang sebelumnya tidak pernah dibayangkan. Namun di saat yang sama, perubahan juga berpotensi membuat manusia kehilangan arah, tercerabut dari akar budayanya, bahkan mengalami krisis makna dalam menjalani kehidupan. Indonesia hari ini sedang […]

  • Mengajak Wahid Hasyim ‘Membaca’ NU Kini

    Mengajak Wahid Hasyim ‘Membaca’ NU Kini

    • calendar_month Minggu, 7 Jun 2026
    • account_circle Najmi Fuady
    • visibility 93
    • 0Komentar

    Oleh: Najmi Fuady* — Beberapa waktu lalu, saya membaca sebuah tulisan berjudul Mengapa Saya Memilih NU yang beredar di Facebook. Penulisnya adalah Allahyarham K.H. Wahid Hasyim, putra dari pendiri Nahdlatul Ulama, Hadratussyekh K.H. Hasyim Asy’ari, sekaligus ayah dari K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Majalah Gema Muslimin menerbitkan tulisan tersebut pada November 1953 di tahun pertamanya. […]

expand_less