Bias Integritas dengan Artificial Intelligence dan Originilitas Karya Akademik
- account_circle Eko Wahyu Nur Sofianto
- calendar_month Kamis, 9 Jul 2026
- visibility 23
- comment 0 komentar
- print Cetak

Sumber gambar: diilustrasikan oleh AI
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Oleh: Eko Wahyu Nur Sofianto* — Menjelang musim pengisian Beban Kinerja Dosen (BKD), istri bertanya kepada saya, “Apakah ada artikel?”. Saya menjawab ada dan saya beri tautan URL artikel.
Istri saya mencecar berbagai pertanyaan tentang artikel yang mendadak tiba-tiba ada dan penelitian bukan bibliometric, Systematic Literature Review (SLR), atau Narrative Review. Dengan berbagai diskusi dan pertimbangan akhirnya istri saya bilang, saya tidak mau dimasukkan nama di situ karena artikel terkesan fiktif.
Saya kemudian tertawa dan berkata bahwa artikel itu memang fabrikasi dari data yang dulu ada kemudian saya poles agar menjadi artikel, tentunya dengan bantuan Artificial Intelligence (AI). Saya berkata nanti akan saya minta editor take down dan saya ganti dengan artikel lain. Akhirnya saya diberi tausiah oleh istri bahwa etika dan integritas adalah barang yang berharga di era digital dan AI.
Saya memang mencoba tulisan fabrikasi itu bisa terbaca atau tidak, mengingat ada kasus viral tentang fabrikasi data penelitian dan diterima menjadi pemakalah di internasional bahkan bisa berjalan-jalan gratis. Ternyata memang benar AI bisa membantu membuat desain penelitian seperti data dengan kuantitatif nyaris sempurna.
Bukan sulap bukan sihir, semua data yang awalnya hanya sampel uji pre-test saya masukkan menjadi data “amazing” dan menghasilkan data yang bagus bahkan seolah-olah valid. Saya berjanji bahwa setelah ini tidak ada lagi coba-coba dengan fabrikasi data dengan AI, baik dipublikasikan atau analisis data. Apalagi saya sebagai pengelola jurnal, jelas istri saya sewaktu memberikan tausiah. Memang saya menggunakan itu untuk membuktikan fabrikasi dari artikel yang viral saat itu.
Waktu berlalu dan masih di musim BKD, ada artikel yang saya diminta mengecek oleh editor jurnal. Artikel yang saya cek sudah selesai revisi dan tiba saatnya cek similarity, begitu saya cek similarity hasilnya tidak sampai di atas 20% tetapi RED Flag Integrity.
Mengetahui hal itu, langsung saya komunikasikan kepada Editor in Chief untuk memeriksa kembali dan mengecek revisi yang telah dikerjakan. Kecurigaan saya karena revisi yang lumayan dari reviewer akhirnya mengambil jalan pintas dengan AI dan tipu daya menyembunyikan teks dari pemeriksaan similarity. Dua hal menjelang musim BKD berkaitan dengan AI menjadi pengalaman saya baik sebagai author maupun editor.
Berkaca dari kedua hal tersebut, memang menjadi bias batas mana orisinalitas dan integritas pada sebuah artikel di era AI. Bersyukur saya diselamatkan oleh istri saya karena bila tidak, akan menjadi sebuah kejahatan akademik.
Berbeda dengan plagiasi yang memang mengambil artikel orang lain dengan pengakuan tulisan sendiri. Integritas di era AI menjadi satu hal yang tidak bisa dianggap sebagai plagiasi, tapi penyalahgunaan AI sebagai kejahatan akademik.
Fabrikasi data sama dengan manipulasi data, secara akademik bisa berakibat fatal. Data yang dianggap benar bisa berakibat panjang pada penggunaan literatur dan sitasi data lainnya. Integritas penggunaan AI akan berakibat fatal dan menghasilkan kesalahan jamak dari para peneliti dan author lainnya yang mengutip data dan hasil penelitian.
Era digital dengan era serba instan di era modern membuat semua orang berpikir pragmatis demi menghasilkan sebuah karya yang bergengsi dan kebutuhan artikel. Bagi saya selaku orang awam yang mencoba-coba fabrikasi dan terlihat data keren, saya lupa bahwa artikel fabrikasi akan menjadi rujukan dan sitasi banyak orang.
Kebutuhan artikel dengan kesibukan lain seorang dosen menjadi penyebab mengejar target artikel sebagai syarat memenuhi atau tidak dalam pengisian sistem BKD. Godaan fabrikasi dan mudahnya penggunaan AI membuat orang mudah menyalahgunakan AI pada sebuah artikel atau karya tulis lainnya.
Etika AI Declare
Era penggunaan AI disikapi oleh persatuan editor seluruh dunia atau kita ketahui Committee on Publication Ethics dengan mengatur bagaimana batas penggunaan AI dan sitasi rujukan yang digunakan bila menggunakan AI sebagai alat bantu.
Beberapa jurnal juga diminta menuliskan AI Declare sebagai bentuk informasi batasan penggunaan AI dan apa yang tidak boleh dilakukan oleh author. Polemik penggunaan AI akan menjadi bola salju bila author juga mencari celah untuk memanfaatkan AI dalam menulis dengan berbagai macam cara.
Fabrikasi data berbeda dengan fabrikasi logam pada sebuah penelitian. Fabrikasi logam dilakukan untuk menjadi barang siap jadi dan dimanfaatkan, sedangkan fabrikasi data membuat analisis data mentah menjadi selera author.
Hampir sama dengan memaksakan agar data menjadi normal dan homogen, tetapi fabrikasi data merupakan data mentah yang dapat dianalisis sesuai dengan keinginan author. Sebelum era AI, mungkin fabrikasi data dilakukan secara manual oleh beberapa “author” untuk mendapatkan data yang bagus hasilnya.
Fabrikasi data makin marak dengan penggunaan AI yang makin familier baik di kalangan mahasiswa, dosen, atau peneliti. Kehadiran AI dalam membantu menulis tidak bisa kita pungkiri, tetapi cara dan pemanfaatannya dibatasi.
Orisinalitas Era AI
Beberapa pertanyaan muncul dari banyak akademisi, lantas di mana orisinalitas kita sebagai peneliti dan penulis sebuah karya akademik bila semua ide dan hal lainnya bisa dibantu oleh AI?
Maka tentu jawabnya adalah bagaimana interpretasi data dengan analisis yang lebih komprehensif daripada hanya sekadar menggabungkan rujukan yang berkaitan dengan penelitian atau artikel kita. Interpretasi menunjukkan perbedaan penelitian kita dengan orang lain dan dari sisi kebaruan hasil penelitian yang telah kita lakukan.
Apakah AI bisa membantu interpretasi? Tentu jawabnya bisa, tetapi interpretasi AI lebih detail pada data yang dimiliki, bukan pada kemampuan evaluasi dan kreasi yang bisa kita ciptakan pada analisis data.
Orisinalitas selanjutnya adalah tanggung jawab penulis untuk menyatakan secara jujur batasan mana penggunaan AI dan analisis secara mandiri.
Sesuai dengan perkataan orang bijak bahwa “Zaman tidak bisa dilawan tetapi bisa diajak berkawan”, maka selayaknya kita memanfaatkan AI sebagai alat bantu, tidak lain dan bukan sebagai pengganti kreativitas dan kemampuan otak lainnya. Mari kita bijak menggunakan AI agar tidak terjebak dalam bias integritas dan orisinalitas.
Penulis Eko Wahyu Nur Sofianto
Mahasiswa S3 Pendidikan IPA Universitas Sebelas Maret Dosen Tadris Fisika UIN Antasari Banjarmasin dan Anggota Relawan Jurnal Indonesia

Saat ini belum ada komentar