Tak Ada Yang Lebih Revolusioner Dari Seorang Pembaca Buku
- account_circle Romario
- calendar_month Selasa, 23 Jun 2026
- visibility 19
- comment 0 komentar
- print Cetak

Membaca adalah melawan | Sumber Dok: Generated by AI
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Oleh: Romario* — Ada kesalahan besar soal bagaimana media menggambarkan pembaca buku, seseorang yang berkacamata sambil mendekap sebuah buku.
Padahal pembaca buku adalah orang-orang revolusioner, mereka datang dengan gagasan yang meruntuhkan apa yang telah dipercayai begitu saja. Mereka menelurkan keindahan dan kebrutalan dalam balutan sastra, bahkan menulis sajak-sajak yang bisa saja mengganggu penguasa.
Pendiri Republik ini adalah seorang pembaca buku. Soekarno menghabiskan banyak sekali buku untuk diselesaikan, bahkan coretan-coretannya tertuang dalam buku, betapa tekunnya Soekarno membaca.
Semua bacaan itu, lalu ia tuangkan dalam tulisan-tulisan di koran yang mengkritik tajam kolonial Belanda. Hingga kini bukunya berjudul Di Bawah Bendera Revolusi adalah bukti hasil bacaan Soekarno.
Jika Soekarno begitu berapi-api, ada Hatta yang begitu tenang dan tertib membaca buku, bahkan siap dipenjara asal bersama buku. Dalam pengasingannya, Hatta membawa buku hingga beberapa peti.
Sebelum membaca buku, Hatta membersihkan diri terlebih dahulu. Dari bacaannya ia menulis berjilid-jilid Demokrasi Kita.
Dari Penjara ke Penjara itulah judul buku bapak republik yang dilupakan namun kini sering dibicarakan, Tan Malaka. Ia telah membaca banyak buku, bahkan ia hafalkan begitu saja.
Melalui buku banyak sekali gagasan yang telah ia tuangkan, bahkan menginspirasi Soekarno. Buku Aksi Massa adalah karangannya yang menggugah Soekarno, lalu Madilog adalah bukunya yang membongkar mitos-mitos yang bersemayam dalam negara bangsa.
Di era kediktatoran Orde Baru, saat sang Jenderal Soeharto memimpin, membaca buku adalah sungguh sangat revolusioner. Bahkan jika buku yang dibaca terlarang maka bisa dicap sebagai subversif, yakni orang yang menentang negara.
Menjadi pembaca buku dalam era ini sangat membuat bergidik ngeri. Sang Jenderal lebih senang jika masyarakat membaca buku-buku, film, dan musik hiburan.
Pikiran tak bisa dibendung. Buku Tetralogi Buru, sebuah novel karya sastrawan Pramoedya Ananta Toer, jadi bacaan yang berbahaya di era sang diktator.
Pada masa sebelum diasingkan ke Pulau Buru, Pramoedya adalah pembaca yang begitu rajin, bahkan dengan tekun mengarsipkan. Ia membaca karya sastra internasional seperti John Steinbeck dan Maxim Gorky dan menerjemahkannya.
Saat berada di pengasingan, Pramoedya punya waktu untuk menuangkan semua pengetahuan dan bacaannya dalam Tetralogi Buru.
“Hanya ada satu kata: Lawan!” begitulah penggalan puisi si penyair cadel. Ia membaca buku-buku juga melihat situasi atas ketimpangan yang terjadi pada masa sang diktator memimpin.
Puisinya-puisinya penuh ironi: kehidupan orang miskin, kehidupan buruh, ketidakadilan yang merajalela. Puisinya seperti bunga yang tumbuh di tembok kekuasaan.
Akibat puisinya, sang penyair hilang entah ke mana dan sampai saat ini lenyap begitu saja.
“Gitu aja kok repot,” kata seorang pembaca buku yang menghabiskan waktunya di perpustakaan Mesir dibanding kuliah. Gus Dur adalah sosok pembaca buku yang melahap banyak sekali buku, bahkan dari sastrawan dunia: Leo Tolstoy, Fyodor Dostoyevsky, para filosof, pemikir Muslim.
Gagasan Gus Dur banyak sekali tertuang dalam berbagai tulisan, bahkan ia menggagas “Pribumisasi Islam” dan menulis soal Indonesia sebagai “negara yang bukan-bukan”.
Para pembaca ini telah mengubah banyak hal. Bahkan sampai saat ini gagasannya, esainya, puisi-puisinya terus dibaca terus menerus dan menjadi sebuah inspirasi bagi seorang pembaca buku.
Mereka adalah pembaca buku yang sungguh revolusioner, karena buku telah menumbuhkan ide-ide, pandangan, paradigma, yang mengubah hidup dan pandang pembacanya. Dan salah kaprah jika pembaca dipandang hanya sebagai orang yang berkacamata dan menenteng buku.
Di Jogjakarta, iklim buku begitu hidup dan jadi gaya hidup anak muda. Ada perasaan aneh jika pernah menempuh pendidikan di Jogja tapi tidak menjadi pembaca buku.
Lingkungan yang begitu hidup mendorong untuk membaca buku: berbagai kafe menyediakan buku untuk dibaca, toko buku tumbuh subur, obrolan sesama teman yang tak lepas dari buku, dan bedah buku yang tak pernah sunyi. Maka tak heran, di kota ini tumbuh subur para cerpenis, esais, novelis, bahkan cendekiawan.
Di tengah gempuran internet, menjadi seorang pembaca buku semakin terlihat revolusioner, saat semua orang terbuai, terlena, terseret, dan tenggelam di internet.
Menjadi pembaca buku membuat kita bertahan, berpikir tenang, menikmati keindahan, memilah informasi yang tak jelas arahnya, dan berpikir lebih dalam.
Saat penyelenggara membuat kebijakan semena-mena, menjadi pembaca buku adalah cara untuk menentangnya. Tak ada yang sia-sia: setiap tulisan dan kata-kata yang dilontarkan pembaca adalah peringatan bagi penyelenggara negara.
Ketika seorang penjahat dianggap pahlawan, menjadi pembaca buku adalah cara kita berpegang teguh untuk menentangnya. Saat kekacauan demi kekacauan tak ada habisnya, menjadi pembaca buku adalah cara menyikapi diri untuk membentenginya.
Selalu ada harapan di tengah kekacauan. Bukankah para pembaca buku, bapak republik ini, tumbuh saat kolonial Belanda sedang mengeksploitasi? Mereka dipenjara dan diasingkan, tapi sebagai pembaca buku mereka tetap tak tergoyahkan.
Bukankah pembaca di masa Orde Baru, yang hidup di tangan sang diktator berdarah dingin, pada akhirnya ikut menggulingkan Soeharto dalam pangku kekuasaan?
Kini, menjadi seorang pembaca buku, tetaplah revolusioner. Saat negara sibuk merazia buku, maka teruslah membaca buku.
Penulis Romario
Dosen IAIN Langsa yang hobi membaca buku. Meminati Psikologi, Sosiologi, Filsafat, dan Studi Islam

Saat ini belum ada komentar