Ulasan Buku Psikoanalisis dan Agama: Apakah Agama Jawaban Bagi Kecemasan Manusia?
- account_circle Romario
- calendar_month Rabu, 22 Jul 2026
- visibility 18
- comment 0 komentar
- print Cetak

Sumber gambar: cover asli buku dengan sedikit penyesuaian ukuran untuk keperluan gambar headline
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Oleh: Romario* — Sebelum mengulas buku ini, penulis mendefinisikan terlebih dahulu apa itu psikoanalisis.
Jadi, psikoanalisis adalah analisis terhadap jiwa. Teori ini dikemukakan oleh Sigmund Freud, ia memiliki gagasan bahwa yang menggerakkan perilaku manusia bukanlah rasional tapi irasional yakni terletak di alam bawah sadar.
Apa yang kita lakukan sehari-hari, lebih banyak dikendalikan oleh alam bawah sadar dibanding sadar. Pada alam bawah sadar ini tersimpan: hasrat, libido, nafsu, keinginan, masa lalu, yang mewujud dalam bentuk perilaku, dan apabila tidak dikendalikan maka ia menjadi lepas tak terkendali.
Setidaknya ada tiga struktur kepribadian yang membentuk perilaku manusia. Pertama id, bagian inilah yang menjadi letak alam bawah sadar.
Yang kedua ego, yang mewujudkan atau tidak apa yang berasal dari id. Yang ketiga superego, suatu tataran norma, moral, nilai yang menuntun seseorang, dan superego inilah yang menjaga id agar tidak lepas kontrol.
Selama melakukan diagnosis kepada pasien-pasiennya, Sigmund menjumpai banyak sekali orang-orang yang mengalami gangguan mental. Bahkan menurutnya dalam buku Psikopatologi Sehari-hari, semua orang mengalami gangguan mental meski dalam skala kecil, hal ini tidak lepas dari situasi masa kecil, peristiwa yang traumatis, atau sesuatu yang menyakitkan.
Dalam teori psikoanalisis, Sigmund Freud tidak hanya membahas soal manusia, tapi juga tentang agama.
Freud punya gagasan yang mengguncangkan, menurutnya agama adalah ilusi, karena membuat manusia tergantung dan menjadi penakut. Dan bagi Freud, agamalah yang membuat seseorang mengalami apa yang disebut sebagai gangguan mental.
Pembahasan tersebut kemudian dikritik oleh sahabatnya Freud, yakni Carl Gustav Jung.
Dia berpendapat bahwa agamalah yang menjadi tempat seseorang dalam mengatasi kecemasan, dan agama bukan penyebab gangguan jiwa, tapi agama sebagai tempat kesehatan mental.
Bagi Jung, tak ada orang yang tak beragama, jika dia pun mendeklarasikan dirinya tidak bertuhan, maka pikirannyalah yang ia jadikan sebagai “agama”. Pemaparan Jung soal ini terbentang dalam buku Psikologi dan Agama.
Pada buku inilah Erich Fromm sebagai pengagum Freud, masuk untuk menjelaskan posisi psikoanalisis dan agama, sekaligus menyanggah pernyataan dari Carl Gustav Jung, serta meluruskan apa yang dimaksudkan oleh Sigmund Freud.
Bagi Fromm, seorang psikoanalis berarti adalah “dokter jiwa”, posisinya menyerupai pendeta, tapi bukan berarti menggantikan pendeta. Namun psikoanalisis menganalisis realitas manusia di balik agama yang dia anut, apakah dijalani dengan cinta dan kebenaran, atau hanya dogmatis saja.
Dalam bab Freud dan Jung, Fromm menjelaskan bahwa kritik Freud terhadap agama terletak pada institusi agama yang melarang pemikiran kritis serta moralitas yang diletakkan pada keyakinan Tuhan, maka semakin seseorang tidak yakin akan Tuhan maka semakin tergerus nilai-nilai moralitas.
Inilah yang membuat Freud menuliskan buku berjudul Masa Depan Sebuah Ilusi.
Bagi Freud, norma yang ideal adalah persaudaraan, kebebasan, dan kebenaran. Dengan meninggalkan agama, maka manusia terlepas dari sosok “bapak” dan mendidik dirinya sendiri menghadapi realitas kehidupan yang terjadi.
Sedang Jung berpendapat bahwa tidak mungkin orang-orang beragama mengalami gangguan mental, yang berarti ada begitu banyak orang yang mengalami gangguan mental.
Jung juga mendefinisikan bahwa ada yang namanya pengalaman religius, pemahaman bahwa ada yang melampaui dalam pengontrolan diri, lebih dalam Jung berpendapat bahwa hal tersebut ada di bawah alam sadar bersama, yang lebih dalam dibanding alam bawah sadar kolektif.
Dan, Fromm mengkritik pernyataan tersebut karena kebenaran tidak ditentukan oleh seberapa banyak orang memercayainya, tapi bisa saja kebenaran berasal dari pemikiran tunggal.
Bagi Fromm, pandangan yang menyatakan bahwa Freud musuh agama dan Jung adalah kawan agama, adalah sebuah pernyataan yang terlalu menyederhanakan masalah.
Padahal apa yang ingin dicapai Freud soal nalar, kebenaran, kasih persaudaraan, pengurangan penderitaan, independensi, dan tanggung jawab adalah bentuk inti etis agama-agama besar seperti ajaran-ajaran Konfusius, Lao-Tse, Buddha, Rasul, dan Yesus.
Freud mengkritik aspek keyakinan pada Tuhan yang akhirnya malah mengabaikan inti etis agama, karena tergerusnya keyakinan.
Pada bagian selanjutnya Fromm membedakan antara agama otoriter dan agama humanistik.
Pada agama otoriter didefinisikan sebagai segala tindakan dilakukan oleh kekuatan yang lebih tinggi, hingga perlu sebuah penghormatan, kepatuhan, dan penyembahan.
Sedangkan dalam agama humanistik segala hal terpusat pada manusia untuk memahami dirinya, orang sekitar, dan posisinya dalam semesta.
Bagi agama otoriter kepatuhan adalah sebuah kewajiban sedangkan ketidakpatuhan adalah sebuah dosa.
Berbeda dengan agama humanistik yang memandang bahwa cinta dan pemikiran adalah upaya manusia untuk mencapai kekuatan yang besar, yang dalam hal ini lebih dekat kepada kelompok mistisisme.
Secara singkatnya, agama otoriter memiliki implikasi untuk melawan, menaklukkan, dan membungkam yang berbeda, sedang dalam agama humanistik akan memiliki implikasi untuk memandang manusia sebagai saudara dan saling mengasihi dan menyayangi.
Pada bagian penutup dijelaskan tentang apakah psikoanalisis mengancam agama?
Maka Fromm menjawabnya dengan penjelasan soal perbedaan agama otoriter dan agama humanistik, serta perbedaan antara agama di Barat dan agama di Timur, yang membuat penjelasan soal mengancam agama perlu dirinci lagi, agama mana yang terancam.
Peran agama di era modern semakin terlihat akan kebutuhan masyarakat akan sebuah bentuk ritual dan pencarian akan spiritual.
Penulis Romario
Dosen IAIN Langsa yang hobi membaca buku. Meminati Psikologi, Sosiologi, Filsafat, dan Studi Islam

Saat ini belum ada komentar