Ulasan Buku Kiat Menjadi Diktator: Ketika Pemimpin Gila Berkuasa
- account_circle Romario
- calendar_month Minggu, 19 Jul 2026
- visibility 37
- comment 0 komentar
- print Cetak

Sumber gambar: diambil dari cover asli buku kemudian disesuaikan ukurannya dengan bantuan AI
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Oleh: Romario* — Membaca buku Kiat Sukses Menjadi Diktator karya Mikal Hem, membuatku terperangah, heran, dan sungguh tak masuk logika. Buku ini mengumpulkan bagaimana pemimpin-pemimpin gila berkuasa.
Dalam buku ini Soeharto sebagai presiden kedua di Indonesia termasuk pemimpin gila, di barisan pemimpin gila, dirinya mendapat predikat pemimpin terkorup di dunia.
Selain Soeharto ada begitu banyak nama pemimpin gila yang kebijakannya sungguh di luar nalar, ada yang mengaku Tuhan persis seperti Firaun, ada yang membangun kota, ada yang memperbanyak gundik, menentukan hari sesukanya, mewajibkan membaca buku karangannya, mendirikan patung, memiliki pakaian mewah, memiliki baju mewah, dan berbagai lainnya, bagi pemimpin gila batasnya hanyalah imajinasi tersendiri.
Ada satu kesamaan para pemimpin gila, mereka tidak peduli dengan kesengsaraan rakyat, suka dipuja-puji, dan hanya mementingkan dirinya sendiri.
Salah satu cara terbaik pemimpin gila untuk berkuasa adalah melakukan kudeta, lalu menghabisi oposisi, dan menguasai seluruh milik negara yang berarti semua menjadi mutlak baginya.
Bagi pemimpin gila, nyawa rakyat tidaklah berarti jika ada yang membangkang dan coba-coba melawan maka bersiaplah nyawa akan hilang dalam sekejap.
Dalam buku ini pemimpin gila itu di antaranya Idi Amin dari Uganda, Moammar Khadafi dari Libya, Robert Mugabe dari Zimbabwe, Kim Il Sung dari Korea Utara, Nusultan Nazarbayev dari Kazakhstan, François Duvalier (dijuluki “Papa Doc”) dari Haiti, Mobutu Sese Seko dari Kongo. Bagi mereka segala hal bisa dilakukan selama menjadi pemimpin dan batasnya hanyalah imajinasi.
Idi Amin misalnya, dia menjuluki dirinya dengan berbagai macam sebutan seperti Yang Mulia Presiden Seumur Hidup, Presiden Seluruh Hewan di Bumi dan Ikan di Laut, Penakluk Kerajaan Inggris di Afrika pada umumnya dan Uganda Pada Khususnya.
Idi Amin bahkan pernah mengusir komunitas Asia yang terdiri dari ribuan warga India dan Pakistan hanya karena perkara mimpi, dan berakibat pada lumpuhnya ekonomi negara.
Idi Amin pun sampai menargetkan pembersihan untuk orang terpelajar, jurnalis, dan tokoh agama, menghabisi etnik-etnik yang sebelumnya loyal dengan Presiden Milton Obote.
Moammar Khadafi adalah pemimpin yang tidak kalah gila, selama memimpin ia telah melakukan kekerasan seksual terhadap perempuan dan gadis remaja bahkan jumlahnya mencapai ratusan hingga ribuan. Para gadis ini diculik begitu saja, dan dilecehkan oleh si pemimpin gila.
Bahkan Khadafi dengan sengaja menjadikan perempuan sebagai pengawal militernya untuk bisa dia melayani seks dirinya.
Anak Khadafi bernama Hannibal tidak kalah gilanya, dengan uang dari bapaknya ia membeli berbagai vila di berbagai negara, meniduri berbagai perempuan, hingga dengan mudahnya menyiksa orang-orang.
Kim Il Sung pemimpin dari Korea Utara tak kalah gilanya, ia menjadikan dirinya laksana dewa, fotonya harus dipajang di setiap rumah, membersihkan lawan politiknya, hingga memicu perang terhadap Korea Selatan yang menewaskan banyak orang.
Setelah mati pun Kim Il Sung tetap menjadi Presiden Abadi, dan kematian mengharuskan rakyat menangis histeris.
Begitupun dengan Nusultan Nazarbayev yang tak kalah gilanya, membuat kebijakan dengan membangun ibu kota dari nol, namanya diabadikan sebagai nama ibu kota, nama bandara, dan nama-nama jalan protokol, serta menulis buku tentang dirinya yang menjadi bacaan wajib bagi rakyatnya.
François Duvalier (dijuluki “Papa Doc”) dari Haiti, sebagai pemimpin Papa Doc menggabungkan ilmu Voodoo dengan kepemimpinannya.
Ilmu gaib Voodoo ini membuat rakyat Haiti tunduk kepada Papa Doc karena dia dipercayai memiliki kemampuan mengutuk dan mencelakai dari jarak jauh, dengan ini dia mampu melakukan berbagai hal termasuk membungkam lawan politiknya.
Di Kongo, Presiden Mobutu pernah berkata “Aku sudah berkuasa di Zaire selama 30 tahun, dan aku tidak pernah membangun jalan satu pun,” kata Mobutu. “Kau tahu kenapa aku melakukannya, karena nanti mereka bisa dengan lancar menangkapmu,” tandas lelaki yang dijuluki The Rumble in the Jungle itu.
Kala pemimpin gila ini berkuasa, sungguh mengerikan apa yang terjadi.
Mereka sungguh tidak peduli terhadap rakyat apa lagi kepentingan rakyat, yang ada bagi mereka adalah kepentingan diri sendiri, siapa pun yang tak setuju maka dengan mudah ditindas oleh aparat, bahkan hilang nyawa begitu saja.
Kebijakan mereka hanya mementingkan diri sendiri, memperkaya diri sendiri, yang pastinya tak akan peduli dengan kepentingan rakyat
Penulis Romario
Dosen IAIN Langsa yang hobi membaca buku. Meminati Psikologi, Sosiologi, Filsafat, dan Studi Islam

Saat ini belum ada komentar