Breaking News
light_mode
Beranda » Artikel » Menyongsong Muktamar: Sejumlah Tokoh Berkibar, Inilah Profil Singkat dan Peta Kekuatan Pimpinan PBNU Mendatang

Menyongsong Muktamar: Sejumlah Tokoh Berkibar, Inilah Profil Singkat dan Peta Kekuatan Pimpinan PBNU Mendatang

  • account_circle Chatib Nourie Syaher
  • calendar_month Jumat, 29 Mei 2026
  • visibility 101
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Chatib Nourie Syaher , Catatan dari Kairo, Mesir – Menjelang Muktamar ke-35 NU tahun 2026, saya mengikuti pemberitaan melalui berbagai media dan diskusi dengan sejumlah mahasiswa serta tokoh NU di Mesir. Tulisan Purwanto M. Ali, aktivis NU dan Ketua PP GP Ansor 2005–2011, melalui media Facebook, Jumat, 29 Mei 2026, sangat menginspirasi. Mantan aktivis PMII ini panjang lebar bicara soal peta kekuatan dan profil figur.

Sebagai koresponden The Nusantara Insight untuk wilayah Mesir khususnya, serta Timur Tengah pada umumnya, secara khusus saya mempublikasikan sebagian dari narasi yang disampaikannya, disertai dengan profil dan peta calon Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) Muktamar NU ke-35.

Agustus 2026 nanti, ormas Islam terbesar di dunia ini segera akan melaksanakan perubahan kepemimpinan melalui Muktamar yang ke-35.

Menurut Purwanto Ali, berdasarkan dinamika politik organisasi, jejak rekam kepemimpinan, dan konsolidasi antar-kekuatan utama di tubuh NU, muncul susunan tokoh sentral yang diprediksi akan memegang tampuk pimpinan.

Adapun susunan perkiraan dan profil tokoh sentral PBNU 2026–2031:

Pertama, Rais Aam Syuriyah PBNU, KH Miftachul Akhyar. Beliau lahir di Surabaya, 30 Juni 1953. Ulama senior yang saat ini menjabat sebagai Rais Aam PBNU periode 2021–2026; pengasuh Pondok Pesantren Miftachus Sunnah, Surabaya; pernah belajar di sejumlah pesantren ternama seperti Tambakberas Jombang, Sidogiri Pasuruan, dan Lasem Rembang. Ahli di bidang fikih, tafsir, dan tasawuf. Sebelum menjadi Rais Aam Syuriyah PBNU, beliau pernah menjabat Rais Syuriyah PCNU Surabaya, Rais Syuriyah PWNU Jawa Timur, dan Wakil Rais Aam PBNU.

Kedua, Katib Aam Syuriyah PBNU, Prof. Dr. KH Muhammad Nuh. Beliau lahir di Sidoarjo, 1959. Guru Besar Teknik Elektro Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya; pernah menjabat sebagai Menteri Pendidikan Nasional dan Menteri Komunikasi dan Informatika RI; saat ini menjabat sebagai Rais Syuriyah PBNU.

Beliau kombinasi langka: ulama, akademisi, sekaligus negarawan. Dianggap tepat untuk memperkuat Syuriyah sebagai pemegang otoritas tertinggi dalam menentukan keilmuan, hukum, dan fatwa.

Ketiga, Ketua Umum Tanfidziyah PBNU: Prof. Dr. KH Nasarudin Umar. Lahir di Ujung-Bone, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, 23 Juni 1959. Beliau Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan pernah menjadi Wakil Menteri Agama RI.

Dikenal sebagai ulama intelektual, pemikir, dan ahli studi Islam kontemporer; memiliki gaya komunikasi yang terbuka, rasional, namun senantiasa menjaga akar tradisi keilmuan NU. Sosoknya mewakili corak keulamaan perkotaan yang terbuka terhadap wawasan global namun tetap berpijak pada prinsip Ahlussunnah wal Jama’ah.

Kiai ulama ini mendapat dukungan kuat dari kalangan intelektual, kampus, pesantren perkotaan, serta wilayah-wilayah di luar Pulau Jawa.

Keempat, Sekretaris Jenderal Tanfidziyah PBNU, Drs. H. Saifullah Yusuf. Beliau lahir di Pasuruan, 1964. Politisi dan birokrat ulung yang akrab disapa Gus Ipul; mantan Wakil Gubernur Jawa Timur; saat ini menjabat Sekretaris Jenderal PBNU dan juga Menteri Sosial RI.

Dikenal sebagai ahli strategi manajemen organisasi dan politik; memiliki gaya kerja yang cepat, lugas, dan sangat dekat dengan akar rumput serta struktur kepengurusan di tingkat daerah. Jaringan pengaruhnya merata dan kuat di seluruh struktur PWNU dan PCNU, baik di Jawa Timur maupun di seluruh wilayah luar Jawa.

Akan tetapi, atas dasar keseimbangan wilayah, analisis tersebut bisa berubah, khususnya untuk jabatan Katib Aam. Atas beberapa alasan, jabatan Katib Aam bisa diduduki beberapa figur di bawah ini:

Pertama, Prof. Dr. KH Asrorun Ni’am Sholeh, MA, domisili Jakarta/Jawa Barat (Depok). Pria kelahiran Nganjuk, 31 Mei 1976, sejak muda berkiprah dan berdomisili di Jakarta–Depok. Berpengalaman dua periode sebagai Katib Syuriyah PBNU, Guru Besar Hukum Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Pengasuh Ponpes Al-Nahdlah Depok.

Kedua, Prof. Dr. KH Yasrul Huda, MA, asal domisili Sumatera Barat, Padang Pariaman. Jabatan saat ini: Wakil Rais Aam Syuriyah PBNU, Guru Besar UIN Imam Bonjol Padang, Pengasuh Pesantren Darul Ulum Sumatera Barat, mantan Ketua PWNU Sumatera Barat.

Ketiga, Dr. KH Abdul Ghafur Maimoen, MA, asal Jawa Tengah (Pekalongan/Rembang). Jabatan saat ini: Rais Syuriyah PBNU, Pengasuh Ponpes Maimoen Zubair/Al-Anwar 3 Semarang/Rembang, Ulama Penghubung NU Wilayah Kalimantan, Ahli Ushul Fikih dan Studi Islam Lintas Budaya.

Di luar analisis Purwanto Ali di atas, muncul pula beberapa nama untuk menduduki jabatan Katib Syuriyah atau Sekjen PBNU, berdasar usulan dan suara aktivis NU dari Bumi Kalimantan:

Pertama, Dr. KH Farid Wadjidie, MA. Tokoh NU dan PMII Kaltim ini pernah menjadi Kakanwil Kemenag Kaltim, Ketua Tanfidziyah PWNU Kaltim, dan Wakil Gubernur Kalimantan Timur.

Kedua, Dr. KH Fauzan Shaleh, M.Ag., mantan Ketua Tanfidziah PCNU Kabupaten Banjar. Ia juga pernah menjadi Wakil Bupati dan kini salah satu pimpinan NU di Kalsel.

Ketiga, Dr. HM Wahyudie F. Dirun, S.P., MM., Ketua Tanfidziyah PWNU Kalteng. Pengusaha pers ini sukses mengantarkan NU Kalteng sejak lima tahun yang lalu.

Keempat, H. Muhammad Suhardi, MA. Mantan aktivis PMII Kalteng ini pada periode yang lalu menjadi Sekretaris PWNU Kalimantan Tengah, dan menjadi Ketua IKA PMII Kalteng.

Kelima, H. Alwan Saputra, S.Pi., MM., Ketua Tanfidziyah PWNU Kalimantan Tenggara.

Sementara beberapa nama lain yang semakin populer dan masuk menjadi kandidat kuat sebagai calon Ketua Umum Tanfidziyah PBNU, di antaranya:

Pertama, Gus Salam (KH Abdussalam Shohib), dikenal sebagai penggerak MLB NU. Cucu pendiri NU KH Bisri Syansuri ini sekarang merupakan pengasuh Pesantren Manbaul Ma’arif Denanyar, Jombang. Basis dukungannya ada di Sumatera, pulau Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan Papua serta Nusa Tenggara

Kedua, KH Zulfa Musthafa. Saat ini beliau menjadi salah satu Wakil Ketua Umum PBNU. Penulis beberapa kitab dan syair berbahasa Arab ini mendapat dukungan dari Sumatera, Jawa, Kalimantan, hingga Papua. Ia juga dikenal sebagai salah satu keturunan Syeikh Nawawi Banten.

Ketiga, KH Muhammad Yusuf Chudari (Gus Yusuf), pengasuh Pesantren Tegalrejo, Magelang. Sejumlah alumni PMII menjadi penggerak untuk kesuksesan Gus Yusuf ini.

Kandidat AHWA

Hal lain yang perlu diketahui publik dan masyarakat luas adalah siapa saja yang bakal menjadi anggota AHWA dalam Muktamar NU ke-35 mendatang. Berikut profil kandidat tim AHWA yang akan menetapkan Rais Aam Syuriyah PBNU:

  1. KH Miftachul Akhyar, Rais Aam PBNU sekarang (profil telah dijelaskan di atas).

  2. KH Afifuddin Muhajir, Wakil Rais Aam PBNU. Beliau juga Pengasuh Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Situbondo, Jawa Timur.

  3. KH Muhammad Wildan Salman, Rais Syuriyah PWNU Kalsel. Beliau pengasuh Pesantren Tahfidz “Darussalam”, Martapura, Kalimantan Selatan.

  4. AG. Dr. KH Baharuddin HS, Rais Syuriyah PWNU Sulsel. Beliau pengasuh Pesantren “An-Nahdhah”, Makassar, Sulawesi Selatan.

  5. KH Ubaidillah Shodaqoh (Mbah Ubed). Beliau Rais Syuriyah PWNU Jawa Tengah, Pengasuh Pesantren “al-Itqon” Semarang. Karier di NU dimulai dari pengurus MWC NU.

  6. Dari kawasan Sumatera: KH Ali Akbar Marbun. Beliau merupakan pengasuh Pesantren Al-Kautsar Al-Akbar, Medan, Sumatera Utara.

  7. Masih dari Sumatera: Tgk. H. Nuruzzahri (Abu Mudi). Beliau berasal dari Bireuen, yang didorong-dorong warga NU kawasan Aceh.

  8. Masih ada kemungkinan beberapa Rais Syuriyah PWNU lainnya yang diusulkan, antara lain dari PWNU Jakarta dan PWNU Banten.

Demikian laporan dan estimasi kami dari Kairo, Mesir, sebagai bagian dari upaya meramaikan dan menyemarakkan Muktamar NU ke-35 tahun 2026 bulan Agustus mendatang.

Catatan penting lainnya yang kerap disuarakan oleh masyarakat dan warga NU: jangan sampai ada lagi pimpinan NU mendatang, yang secara laten ternyata adalah buzzer zionis Israel.

Avatar photo

Penulis

Mahasiswa Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. Fakultas Syariah wal Qanun | Pengamat Sosial

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Tak Ada Yang Lebih Revolusioner Dari Seorang Pembaca Buku

    Tak Ada Yang Lebih Revolusioner Dari Seorang Pembaca Buku

    • calendar_month Selasa, 23 Jun 2026
    • account_circle Romario
    • visibility 28
    • 0Komentar

    Oleh: Romario* — Ada kesalahan besar soal bagaimana media menggambarkan pembaca buku, seseorang yang berkacamata sambil mendekap sebuah buku. Padahal pembaca buku adalah orang-orang revolusioner, mereka datang dengan gagasan yang meruntuhkan apa yang telah dipercayai begitu saja. Mereka menelurkan keindahan dan kebrutalan dalam balutan sastra, bahkan menulis sajak-sajak yang bisa saja mengganggu penguasa. Pendiri Republik ini adalah […]

  • Pancasila Setelah Upacara Selesai

    Pancasila Setelah Upacara Selesai

    • calendar_month Rabu, 3 Jun 2026
    • account_circle Alfinnor Effendy
    • visibility 28
    • 0Komentar

    Oleh: Alfinnor Effendy — Setiap tahun, di tanggal 1 Juni, kita kerap melaksanakan kegiatan yang nyaris serupa. Di halaman kantor pemerintahan, sekolah, kampus, hingga berbagai institusi, ramai-ramai digelar upacara peringatan hari lahir Pancasila dengan penuh khidmat. Teks Pancasila dibacakan, pidato kebangsaan disampaikan, dan media sosial dipenuhi kutipan para pendiri bangsa. Pada hari itu, Pancasila seolah […]

  • Dan Jamaah NU pun Ikut Terlena Materialisme

    Dan Jamaah NU pun Ikut Terlena Materialisme

    • calendar_month Rabu, 27 Mei 2026
    • account_circle M Syarbani Haira
    • visibility 76
    • 1Komentar

    Catatan dari Bumi Kalimantan Saya hadir bumi ini tiga tahun setelah Pemilu 1955. Event ulang tahun tak pernah diperingati khusus. Malah negara yang melakukannya, bersamaan dengan Peringatan Hari Pendidikan Nasional. Sejak lahir, hingga hari ini, umat Islam dari berbagai penjuru dunia setiap saat usai shalat atau pertemuan silaturahim, mendoakan saya bersama umat Islam lainnya, agar […]

  • Mengajak Wahid Hasyim ‘Membaca’ NU Kini

    Mengajak Wahid Hasyim ‘Membaca’ NU Kini

    • calendar_month Minggu, 7 Jun 2026
    • account_circle Najmi Fuady
    • visibility 92
    • 0Komentar

    Oleh: Najmi Fuady* — Beberapa waktu lalu, saya membaca sebuah tulisan berjudul Mengapa Saya Memilih NU yang beredar di Facebook. Penulisnya adalah Allahyarham K.H. Wahid Hasyim, putra dari pendiri Nahdlatul Ulama, Hadratussyekh K.H. Hasyim Asy’ari, sekaligus ayah dari K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Majalah Gema Muslimin menerbitkan tulisan tersebut pada November 1953 di tahun pertamanya. […]

  • KH. Muhammad Wildan Salman, Kandidat AHWA dari Bumi Kalimantan

    KH. Muhammad Wildan Salman, Kandidat AHWA dari Bumi Kalimantan

    • calendar_month Kamis, 2 Jul 2026
    • account_circle Chatib Nourie Syaher
    • visibility 55
    • 0Komentar

    Oleh: Chatib Nourie Syaher* – The Nusantara Insight – Di tengah kesibukan menjalani studi di Al-Azhar University, Mesir, saya menyempatkan diri untuk memonitor perkembangan jam’iyyah Nahdlatul Ulama yang akan mengadakan “aruh ganal” Muktamar ke-35 awal Agustus 2026 mendatang. Perkumpulan NU yang terkenal sebagai benteng pendukung ASWAJA (Ahlussunnah wal-jamaah) di Nusantara ini memiliki ikon yang menarik dan […]

  • Di Persimpangan Jalan: Kependidikan atau Industri?

    Di Persimpangan Jalan: Kependidikan atau Industri?

    • calendar_month Jumat, 29 Mei 2026
    • account_circle Eko Wahyu Nur Sofianto
    • visibility 65
    • 0Komentar

    Oleh: Eko Wahyu Nur Sofianto* — Beberapa hari ini, media diramaikan dengan wacana “Penutupan Program Studi (Prodi) Kependidikan” yang digulirkan oleh pemerintah. Dalam hal ini yaitu Kementerian Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi (Kemdiktisaintek) yang menyatakan bahwa Prodi Kependidikan atau Pendidikan menghasilkan lulusan yang melebihi kebutuhan sehingga angka keterserapannya rendah. Berbagai pernyataan masyarakat bermunculan di media […]

expand_less