Saya Tidak Dapat Sapinya, tapi Saya Punya Pendapat
- account_circle Najmi Fuady
- calendar_month Jumat, 29 Mei 2026
- visibility 100
- comment 1 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Oleh: Najmi Fuady* — Negeri ini memang luar biasa. Soal sapi saja bisa jadi bahan debat nasional berhari-hari, bahkan bisa jadi berminggu-minggu. Padahal sapinya sendiri sudah habis dimakan.
Waktu pertama kali baca beritanya, saya pikir Pak Presiden lagi panen raya atau memang punya peternakan pribadi yang selama ini tidak diliput media.
Rupanya tidak begitu. 1.098 ekor sapi kurban atas nama Presiden Prabowo ternyata dibeli dari APBN. Sekitar Rp100 miliar. Dan seketika, pergulatan netizen pun dimulai.
Saya iseng coba hitung kira-kira dapat berapa kalau dibagi rata ke seluruh warga Indonesia. Hasilnya sekitar Rp380-an per orang. Tidak cukup buat beli sate satu tusuk. Tapi ya sudah, bukan itu intinya.
Yang menarik, ya ini, reaksi publik setelahnya. Orang-orang langsung terbelah jadi dua kubu, seperti biasa, seperti sudah ada jadwalnya.
Kubu pertama protes. Alasannya kurban itu harusnya ibadah pribadi, harusnya pakai uang sendiri, dan kenapa baru dijelaskan belakangan kalau ini pakai APBN? Banyak yang merasa seperti tiba-tiba diberitahu bahwa dapat bonus hari raya tapi ternyata dipotong dari gajih bulan depan.
Kubu kedua santai. Katanya ini program resmi, sudah ada sejak pemerintahan sebelumnya, ada pos anggarannya, MUI juga sudah bilang sah secara syar’i. Bahkan ada haditsnya bahwa pemimpin memang boleh kurban dari kas negara untuk kemaslahatan umat. Gitu..
Dua kubu ini kalau disuruh debat sampai besok pun juga tidak akan ketemu. Bukan karena satu pihak salah dan yang lainnya benar. Tapi karena mereka sedang mendebatkan hal yang berbeda.
Yang satu bertanya soal kepantasan. Yang lain menjawab soal legalitas. Seperti ada yang tanya “enak tidak?” lalu dijawab “halal kok.”
Lalu siapa yang benar? Mungkin dua-duanya.
Tapi, mungkin bukan itu pertanyaan yang tepat. Yang lebih tepat, dari sekian banyak cara membelanjakan Rp100 miliar untuk rakyat, apakah ini yang paling berdampak? Saya tidak tahu. Mungkin anda yang lebih tahu.
Penulis Najmi Fuady
Banjarese, Nahdliyin, Madridista, Alumnus Interdisciplinary Islamic Studies UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Meminati Studi Sosiologi dan Perilaku Informasi

waw, barusan tadi malam juga mau nulis ini. banyak topik soal ini yang layak dibahas. Segera kita rampung kan, melengkapi catatan ini
29 Mei 2026 05:55