KH. Muhammad Wildan Salman, Kandidat AHWA dari Bumi Kalimantan
- account_circle Chatib Nourie Syaher
- calendar_month Kamis, 2 Jul 2026
- visibility 34
- comment 0 komentar
- print Cetak

K.H. Muhammad Wildan Salman, Rais Syuriah PWNU Kalimantan Selatan
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Oleh: Chatib Nourie Syaher* – The Nusantara Insight – Di tengah kesibukan menjalani studi di Al-Azhar University, Mesir, saya menyempatkan diri untuk memonitor perkembangan jam’iyyah Nahdlatul Ulama yang akan mengadakan “aruh ganal” Muktamar ke-35 awal Agustus 2026 mendatang.
Perkumpulan NU yang terkenal sebagai benteng pendukung ASWAJA (Ahlussunnah wal-jamaah) di Nusantara ini memiliki ikon yang menarik dan brilliant, yakni perkumpulan yang selalu mengedepankan semangat tawasuth, tasamuh, tawazun dan ‘adalah.
Tawasuth adalah sebuah manhaj tentang hubungan antar manusia yang didasari oleh sikap yang moderat, berada di tengah-tengah, tidak cenderung ke kanan atau ke kiri. Maka itu NU terkenal dengan pejuang manhaj Islam wasathiyah, bisa dan mampu menghargai semua pihak.
Tasamuh, merupakan cabang akhlak, perilaku manusia, yang menekankan sikap toleransi, saling menghargai, dan penuh rasa kelapangan dada dalam menyikapi perbedaan. Semangat dari manhaj ini adalah persatuan, saling menghormati dan tidak memaksakan kehendak.
Tawazun, sebuah sikap dan prinsip yang seimbang, selaras, serta proporsional. Maka itu NU akan selalu menyeimbangkan antara kepentingan dunia dan akhirat, jasmani dan rohani, serta antara hak dan kewajiban. Dalam konteks relasi social, maka NU sangat menjaga keharmonisan antara hablum minallah, hablum minannas, dan hablum manil ‘alam.
Sedang ‘adalah merupakan sebuah pemikiran yang merujuk pada pemahaman yang mendasar tentang konsep keadilan (al-‘adl). Konsep ini menjadi sifat Allah SWT, kemudian menjadi kewajiban manusia, untuk selalu membangun keseimbangan, antara kebutuhan, porsi dan hak.
Rais Syuriah PWNU Kalsel
Meski dilanda sejumlah prahara sejak 2019 lalu, PWNU Kalimantan Selatan sudah sangat tepat mempercayakan jabatan Rais Syuriah kepada Yang Mulia, Guru hebat yang mengagumkan, yang tegas dan berintegritas, yakni Kyai Haji Muhammad Wildan Salman.
Putera Allah Yarham Guru Salman Djalil, Rais Syuriah NU Kalimantan Selatan periode tahun 1960-an ini termasuk yang konsisten dalam pemikiran jam’iyyah NU, bagaimana bersikap, berpikir dan bertindak. Dalam penelusuran saya dari berbagai publikasi, serta berbagai ceramah beliau, Guru Wildan (demikian biasa dipanggil), sangat menekankan agar manhaj NU itu harus mengakar kuat di masyarakat. Untuk apa ? Kata beliau, karena tradisi keilmuan pesantren tradisional memiliki sanad keilmuan yang jelas.
Atas dasar itu, maka pimpinan Pesantren Tahfidz Darussalam Martapura ini berpesan agar NU tak hanya hadir sebagai organisasi social belaka, melainkan juga harus menjadi pejuang di garda depan dalam menjaga pemikiran keagamaan Ahlussunnah wal-jamaah (Aswaja).
Bagi Guru Wildan, penguatan Aqidah merupakan sesuatu yang urgent. Terlebih di era yang semakin konpleks belakangan ini, maka nilai Aswaja menjadi relevan. Bisa membendung, dan memberikan petunjuk serta arahan pada perjalanan dan perkembangan umat.
Selain itu, Guru Wildan menambahkan, agar sanad keilmuan (yakni rantai keilmuan dari guru ke murid yang tersambung hingga Rasulullah SAW) harus terjaga dengan baik. Ulama-ulama Banjar sangat menjaga prinsip ini, termasuk dalam masalah amaliah seperti zikir dan ibadah lainnya.
Menyongsong jangka panjang, Guru Wildan melihat langkah NU sangat relevan. Kenapa? Karena NU rajin dan konsisten dalam melakukan kaderisasi. Secara struktur dan periodik, NU punya badan kaderisasi dalam 3 jenjang, berupa PD-PKPNU (dasar), PMKNU (menengah) dan AKN (Akademi Kepemimpinan Nasional) NU, jenjang pengkaderan paling tinggi. Untuk penguatan wawasan ulama, NU juga punya PPWK (Program Pendidikan Kader Ulama), yang direncanakan pertengahan Juli ini akan dilaksanakan di Kalimantan Selatan.
Sebagai Rais Syuriah NU, Guru Wildan kerapkali menyampaikan harapan agar jajaran pengurus NU, baik yang di provinsi (wilayah), kabupaten kota (cabang), hingga MWC NU (kecamatan) dan Ranting (desa dan kelurahan), bahkan pada level konsentrasi-konsentrasi (Anak Ranting) seperti masjid dan pondok pesantren, untuk secara Ikhlas dan tulus menjaga NU, berikut manhaj dan pemikiran keagamaannya.
“Kita ber-NU, bukan untuk mencari hidup. Tetapi kita justru bertekad untuk menghidupkan NU itu sendiri”, ungkap ulama yang hamper 25 tahun tinggal di pusat syi’arul Islam, Mekkah al-Mukaramah.
Kiprah nyata Guru Wildan dalam memelihara dan menjaga Aswaja adalah dengan beberapa kali membawa sejumlah santri, di atas 300 santri, melakukan kunjungan dan seminar ke-NU-an ke beberapa pesantren di pulau Jawa, khususnya Jombang, Jawa Timur. “Para santri itu pemimpin masa depan. Mereka harus diberi wawasan dan pengetahuan, berikut pengalaman” ucap beliau kepada sejumlah aktivis NU saat berkunjung ke kediaman beliau, di kawasan Sakumpul, Martapura.

Guru Wildan Saat Silaturahim dengan Rais Aam PBNU
Layak Menjadi AHWA
Awal Agustus mendatang, NU akan menyelenggarakan Muktamar ke-35. Sayangnya, meski sudah didahului Munas dan Konbes, perkumpulan ulama ini belum bisa menetapkan lokasi. Dari pemandangan yang terlihat di depan, atau di belakang, nampak ada perguncingan politik antar faksi-faksi yang kini sedang menjadi elite NU.
Diberitakan, faksi incumbent Gus Yahya cs mendesain agar muktamar diselenggarakan di Lirboyo. Saking semangatnya kelompok ini, Katib Syuriah PBNU KH Ahmad Said Asrori saat memimpin sidang munas langsung saja mengatakan jika Lirboyo sebagai lokasi muktamar. Karena bukan berasal dari kesepakatan, kontan saja menimbulkan protes hadirin, dan dengan sangat terpaksa yang bersangkutan mencabut keputusan tersebut.
Faksi kedua para pendukung Rais ‘Aam KH Miftahul Achyar. Umumnya jajaran syuriah NU berada di kelompok ini. Kelompok inilah yang tahun 2025 lalu sudah memakzulkan Ketua Umum PBNU Gus Yahya, karena terdeteksi menjadi semacam “orang” nya zionis, karena telah mendatangkan intelektual pendukung zionis asal Amerika Serikat dalam event AKN NU.
Faksi ketiga, kelompok-kelompok yang bertekad menyetop langkah Ketum PBNU, Gus Yahya. Pertemuan alumni PMII di Jakarta 2025 lalu, dan cairnya relasi Cak Imim (PKB/Menko), Nusron Wahid (Golkar/Menteri ATR), dan Nasaruddin Umar (Menteri Agama), menjadi indikasi Gerakan ini. Terlebih bergabungnya Gus Iful (Menteri Sosial/Sekjen PBNU), mendukung kelompok ini. Ini otomatis akan memperkuat gerakan tersebut.
Bagaimana dengan AHWA? Lembaga ini baru dipakai kembali saat Muktamar NU di Jombang 2015, setelah muktamar ke 27 di Situbondo, 1984. AHWA wadah ulama untuk memilih Rais Aam, yang syarat utamanya kyai pesantren, dan punya pesantren. Masalahnya, Gus Yahya mulai membatasi calon AHWA hanya dari kelompok tertentu saja, dengan alasan yang nampak dibuat-buat.
Narasi Gus Yahya yang membatasi calon AHWA hanya dari lokasi tertentu saja, dengan alasan yang patut dibahas bersama, memupuskan harapan aktivis NU luar Jawa, seperti dari Bumi Kalimantan, Sulawesi dan Sumatera. Bagaimana pun, syuriah NU luar Jawa, seperti Kalimantan, sehebat apa pun pesantrennya, tentu tak akan sebesar pesantren di Jawa. Inilah problemanya. Harusnya tokoh dan aktivis NU kembali ke jati diri sebagai pejuang ASWAJA, di mana manhajnya harus selalu mengedepankan semangat tawasuth, tasamuh, tawazun dan ‘adalah.
AHWA Ber-Keadilan
Jika manhaj ini diakui, dan dijalankan, maka peluang almukaram Kyai Haji Guru Muhammad Wildan Salman, Rais Syuriah PWNU Kalsel, sangat memenuhi syarat menjadi salah satu anggota AHWA. AHWA yang ber-keadilan, Jawa dan luar Jawa. Secara sanad keluarga, beliau merupakan keturunan dari ulama Banjar terkemuka, Syekh Muhammad Arsyad al-Banjary.
Sedangkan jika dicermati dari sanad keilmuan, baik saat ngaji di Martapura atau ketika nyantri di Madrasah Darul Ulum (Mekkah, Arab Saudi) beliau murid langsung dari beberapa ulama hebat, misalnya Syekh Yasin Isa Al-Fadani, Sayed Muhammad Alwi Al Maliki, Syekh M Akbar Al-Faqistani, dan sejumlah ulama terkemuka selama 23 tahun studi di Saudi Arabia.
Setelah nyantri di Saudi Arabia, sempat meneruskan studi di Universitas Mujamma’ Abunnur, Damaskus, Suriah. Hanya saja, ulama berpengaruh di Kalsel ini harus meninggalkan bangku kuliah di Damaskus, karena panggilan keluarga, untuk kembali ke kampung halaman, di Martapura, kabupaten Banjar.
Meski begitu, beliau juga sempat berguru dengan sejumlah ulama Nusantara, seperti Kyai Syarwani Abdan (Bangil), Kyai Hamid (Pasuruan), dan sejumlah ulama terkemuka di Martapura. Tentu tak ketinggalan Guru Sekumpul, Kyai Muhammad Zaini Ghani (Guru Ijay), dan orang tuanya sendiri, KH. Salman Djalil.
Dalam hal sanad keilmuan, Guru Wildan ini relative terdepan. Itu sebabnya beliau pernah dipercaya menjadi pengajar selama di Mekkah, antara lain menjadi asisten guru di Masjidil Haram, mengajar di Markaz Kepolisian Haji Mekkah, juga di markaz Angkatan Udara Saudi Arabia Thaif.
Sepulang dari Arab Saudi, langsung mendirikan Pesantren Darussalam Tahfidzul di Martapura. Pesantren ini kini memiliki santri yang terus membludak. Beliau juga mendirikan Madrasah Ilmu Al-Qur’an sejak 2000, sekaligus menjadi tenaga pengajarnya.
Melihat jejak rekam pendidikan, dan track record pengabdian, telah menggambarkan betapa salah satu juriat dari ulama besar Kalimantan Syekh Arsyad Al-Banjary ini memiliki keilmuan dengan sanad yang terstruktur. Dari sini, maka layak sekali jika muktamirin jam’iyyah Nahdlatul Ulama yang ke-35 besok, menempatkan beliau sebagai salah satu anggota AHWA yang akan memilih Rais Aam Syuriah PBNU.
Mantan Kepala Kantor Kementerian Agama Kalteng, Dr. H. Noor Fahmy, MM, sepakat jika Rais Syuriah PWNU Kalsel ini menjadi salah satu tim AHWA. Hal senada juga disampaikan Rais Syuriah PWNU Kalteng, KH. Dr. Chairuddin Halim. Beliau bahkan optimistic jika Guru Wildan dipercaya menjadi AHWA.
Wacana ini menjadi pe-er besar yang harus ditindak-lanjuti elite PWNU Kalsel lainnya, seperti Katib Syuriah PWNU Kalsel, Prof. Dr. KH. Fathurrahman Azhary, dan Ketua Tanfidziah PWNU Kalsel, Dr. KH. Muhammad Tambrin.
Saya dan rekan-rekan, sahabat-sahabat para mahasiswa Al-Azhar di Mesir, yang berasal dari Bumi Kalimantan support sekali agenda ini. Karena ini moment munculnya permata Kalimantan dalam percaturan “Bola Dunia dan Bintang Sembilan”, menyongsong masa depan. Terlebih tak lama lagi, Bumi Kalimantan akan menjadi Ibu Kota negara (IKN) Nusantara. Selamat ber-Muktamar, Hindari Konflik dan Pertengkaran … !!!
Penulis Chatib Nourie Syaher
Mahasiswa Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. Fakultas Syariah wal Qanun | Pengamat Sosial

Saat ini belum ada komentar