Mengajak Wahid Hasyim ‘Membaca’ NU Kini
- account_circle Najmi Fuady
- calendar_month Minggu, 7 Jun 2026
- visibility 70
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Oleh: Najmi Fuady* — Beberapa waktu lalu, saya membaca sebuah tulisan berjudul Mengapa Saya Memilih NU yang beredar di Facebook. Penulisnya adalah Allahyarham K.H. Wahid Hasyim, putra dari pendiri Nahdlatul Ulama, Hadratussyekh K.H. Hasyim Asy’ari, sekaligus ayah dari K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur).
Majalah Gema Muslimin menerbitkan tulisan tersebut pada November 1953 di tahun pertamanya. A. Sjahri menyusun naskah itu berdasarkan ceramah Kiai Wahid Hasyim dalam acara ‘Gerakan Pendidikan Politik Muslimin Indonesia’ di Indramayu, sebelum akhirnya risalah stensil NU Cabang Jakarta memuatnya kembali.
Tulisan tersebut memuat perjalanan intelektual Kiai Wahid Hasyim sebelum ia memantapkan Nahdlatul Ulama (NU) sebagai medan perjuangannya. Ia menyusun refleksi ini di tengah ketegangan antara arus modernisme Islam, tuntutan hadirnya wadah berhimpun, serta kuatnya identitas keulamaan tradisional sepanjang era 1930-an hingga 1950-an
Berbagai perhimpunan dan partai Islam mengajak Kiai Wahid Hasyim bergabung saat ia baru pulang dari luar negeri pada April 1934. Namun, ia tidak langsung menerima tawaran tersebut. Selama hampir empat tahun, ia menimbang, menyelidiki, dan membanding-bandingkan organisasi-organisasi itu sebelum akhirnya menjatuhkan pilihan pada Nahdlatul Ulama. Ia menyadari sepenuhnya bahwa saat itu NU bergerak lambat, miskin kaum intelektual, dan kaku. Meskipun begitu, ia tetap memutuskan untuk bergabung.
Bukan Soal Gagah-Gagahan
Kiai Wahid Hasyim menggunakan spirit pembaruan, ketangkasan bersikap, dan kecepatan bertindak sebagai indikator pertama dalam menilai organisasi. Berdasarkan ukuran tersebut, NU jelas kalah karena ia menyebutnya sebagai perhimpunan orang-orang tua yang bergerak lambat, tidak terasa, dan tidak revolusioner.
Namun, semakin dia eksplorasi, ia menemukan fakta lain di lapangan. Organisasi-organisasi pemuda Islam yang lebih ‘radikal’ hanya mampu mendirikan sepuluh cabang di dua karesidenan dalam waktu sepuluh tahun, sementara NU saat itu telah menjalar ke hampir 60 persen wilayah Indonesia. Ia pun menyimpulkan bahwa hasil jauh lebih penting daripada sekadar penampilan yang ditunjukan dalam proses berjuang itu.
Membaca bagian ini rasa-rasanya mengingatkan saya dengan kondisi kita sekarang. Tentang betapa banyak energi yang kita habiskan untuk terlihat progresif, terlihat kritis, terlihat relevan baik itu di media sosial, di majelis taklim, forum-forum diskusi, di panggung-panggung seminar.
Kita fasih berbicara tentang moderasi beragama, deradikalisasi, pelanggaran HAM, kemandirian organisasi, ekonomi umat, transformasi jam’iyah, peran global NU dalam perdamaian dunia dan lain-lain. Tapi sejauh mana wacana itu benar-benar sudah menyentuh kehidupan orang di desa-desa, di pesantren-pesantren kecil, di komunitas yang tidak punya akses ke diskursus kita?
Kiai Wahid Hasyim mengingatkan bahwa ukuran kemajuan bukan pada seberapa gagah kita tampil di panggung, tapi seberapa jauh kebermanfaatan wacana kita di tengah-tengah masyarakat.
Intelektual Banyak, Semangat Kolektifnya Retak
Ukuran kedua yang ia gunakan adalah jumlah orang terpelajar di dalam organisasi. Dan dari sini pun ia mengakui bahwa NU sangat miskin. Mencari akademisi di NU, katanya, seperti mencari penjual es pada pukul satu dini hari.
Namun kemudian ia mendapati sesuatu yang lebih menarik. Banyak organisasi yang justru penuh dengan orang terpelajar malah habis energinya untuk konflik internal.
Mentalitas yang tidak seragam membuat energi organisasi habis oleh perdebatan-perdebatan internal. Sebagai perbandingan, ia menyebut PKI sangat solid karena memiliki mentalitas kolektif yang disiplin.
Kiai Wahid Hasyim pun menyimpulkan bahwa yang menentukan maju-mundurnya sebuah organisasi bukanlah intelektual, melainkan mentalitas, atau dalam bahasa agama yang ia pakai: budi dalam arti yang luas.
Saya merasa ini adalah kritik yang paling relevan untuk NU hari ini, justru karena kondisinya sudah berbalik seratus delapan puluh derajat dari yang Kiai Wahid Hasyim hadapi. Rasa-rasanya NU sekarang tidak lagi kekurangan orang terpelajar. Kita punya doktor, profesor, teknokrat, intelektual publik dan lain-lain. Tapi apakah mentalitas kolektif kita semakin kuat, atau justru makin terfragmentasi?
Perpecahan di dalam tubuh NU belakangan ini, baik yang tampak di permukaan maupun yang berjalan diam-diam di bawahnya, menunjukkan bahwa pertumbuhan jumlah kader terdidik tidak otomatis menghasilkan kohesi. Yang tumbuh bersama intelektualitas itu kadang bukan kesatuan, tapi ego, faksionalisme, dan ambisi yang saling berbenturan.
Kiai Wahid Hasyim sudah memperingatkan ini tujuh puluh tahun yang lalu dan kita rupanya belum memahami itu dengan baik.
Bersikap Keras Bukan Berarti Tertutup
Kiai Wahid Hasyim mencatat ada dua alasan utama yang sering membuat orang luar enggan bergabung dengan NU. Pertama, ia menyebut adanya standar pengetahuan agama yang ketat. Setiap anggota harus “beres” shalatnya, puasanya, kewajiban-kewajiban agamanya. Kedua, ia menyoroti dominasi ulama yang saat itu kerap dianggap sebagai sosok kolot.
Kiai Wahid Hasyim menjawab keberatan pertama dengan menegaskan bahwa di situlah letak kekuatan NU. Menurutnya, organisasi yang ‘mudah’ dalam menerima anggota mungkin bisa berkembang dengan cepat, namun mereka tidak memiliki ketangguhan jangka panjang. Sebaliknya, organisasi yang memiliki standar dan proses penyaringan yang jelas akan menemukan suasana harmonis serta ikatan persaudaraan yang tidak bisa dibeli dengan kemudahan.
NU kini telah tumbuh menjadi organisasi yang sangat besar, namun dengan konstruksi yang berbeda dari apa yang dibangun oleh Kiai Wahid Hasyim dulu. Identitas NU saat ini cenderung cair; siapa pun kini bisa mengaku sebagai warga NU, berlindung di bawah namanya, atau menggunakan simbol-simbolnya untuk kepentingan yang tidak selalu sejalan dengan nilai-nilai organisasi.
Standar internal yang dulu menjadi kebanggaan itu, apakah masih benar-benar diterapkan, atau justru hanya menjadi formalitas yang kita jaga di atas kertas?
Terhadap keberatan kedua, Wahid Hasyim menjelaskan bahwa ulama dalam NU bukan penguasa, tapi penjaga. Penjaga agar ajaran Islam tidak dilanggar dari dalam. Dan ia menegaskan bahwa para ulama NU tidak “beku”; mereka bisa mengikuti perkembangan zaman, asal dasarnya tidak bertentangan dengan pokok-pokok ajaran Islam.
Ini adalah keseimbangan yang menurut saya sangatlah halus. Dan yang sering terjadi hari ini adalah kita gagal menjaga keseimbangannya. Kadang kita bersikap terlalu kaku sehingga tidak bisa bernapas, namun di lain waktu kita justru terlalu longgar sehingga organisasi tidak memiliki bentuk yang jelas.
Cara Berpikir yang Perlu Diwariskan
Kiai Wahid Hasyim menulis tulisan ini tujuh puluh tahun lalu, dalam konteks yang sangat berbeda. Tantangan NU waktu itu adalah persaingan antar organisasi Islam untuk menjangkau luas wilayah dan jumlah pengikut. Tantangan NU hari ini tampil dengan wajah berbeda: kooptasi politik, erosi otonomi organisasi dari kepentingan elektoral, fragmentasi identitas, dan godaan untuk menukar prinsip dengan akses kekuasaan.
Namun yang tak kalah berharga dari tulisan Kiai Wahid Hasyim bukan hanya kesimpulannya, melainkan cara berpikirnya.
NU kini telah menyebar hingga hampir menjadi identitas mayoritas muslim di Indonesia. Tapi apakah keluasan jangkauan itu sudah diimbangi dengan keberanian berinovasi untuk tidak sekadar hadir di mana-mana, tapi juga memberi makna yang dalam di setiap kehadirannya?
NU kini juga memiliki banyak kader terdidik. Tapi apakah kecerdasan kolektif itu sedang digunakan untuk memperkuat mentalitas kolektif, atau justru makin memperhalus cara kita untuk saling berseteru?
NU kini sudah sedemikian besar hingga identitasnya menjadi sangat cair (siapa pun kini bisa mengaku NU). Tapi apakah kelonggaran itu sedang diubah menjadi energi untuk berkarya lebih nyata, ataukah hanya menjadi selimut yang menutupi kealpaan kita dalam menjawab tantangan zaman?
Jawaban-jawaban itu mungkin hanya anda yang bisa menemukannya.
Penulis Najmi Fuady
Banjarese, Nahdliyin, Madridista, Alumnus Interdisciplinary Islamic Studies UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Meminati Studi Sosiologi dan Perilaku Informasi

Saat ini belum ada komentar