Selamat PSG, Tapi Tolong Jangan Tiga Kali
- account_circle Najmi Fuady
- calendar_month Minggu, 31 Mei 2026
- visibility 90
- comment 0 komentar
- print Cetak

Sumber gambar: ilustrasi AI
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Oleh: Najmi Fuady* — Baiklah. Selamat kepada Paris Saint-Germain yang telah berhasil mempertahankan gelar Liga Champions untuk kedua kalinya secara berturut-turut tadi malam.
Mengalahkan Arsenal di Budapest lewat adu penalti, setelah Gabriel Magalhães mengirimkan tendangan terakhirnya ke luar mistar, menghadiahkan kemenangan 4-3 kepada Les Parisiens.
Luar biasa memang, saya sangat bahagia.
Tapi bohong.
Sejujurnya, saya ingin Arsenal lah yang menang. Bukan karena saya fans Arsenal, tapi demi keselamatan batin saya sebagai Madridista, saya butuh PSG kalah malam tadi karena saya tidak ingin mereka menyamai rekor back-to-back Liga Champions milik Madrid. Kikikikikik..
PSG kini menjadi tim Prancis pertama yang memenangkan Liga Champions dua kali, dan klub Eropa kedua yang berhasil meraih gelar secara berturut-turut di era modern Liga Champions.
Sekarang, mari bicara jujur, PSG musim ini memang tim terbaik Eropa, bahkan Dunia. Tidak bisa dibantah.
Menurut catatan yang terangkum, dalam perjalanan menuju final, PSG mencatatkan 44 gol, rekor terbanyak dalam satu musim Liga Champions sepanjang sejarah kompetisi ini.
Mereka menggilas Chelsea 8-2 secara agregat. Mereka menyingkirkan Liverpool. Melibas Bayern di semifinal. Dan ketika di final tadi malam mereka sempat tertinggal dari Arsenal, tidak panik. Lalu menyamakan kedudukan, bertahan hingga penalti.
Saya akui, Luis Enrique benar-benar membangun tim yang memiliki sistem tactical hebat. Dahsyat memang..
Lalu, bagaimana dengan Real Madrid sendiri?
Nah. Ini bagian yang paling bikin saya ingin langsung skip, tapi tidak bisa karena ini tulisan saya sendiri.
Dua musim berturut-turut, Real Madrid pulang lebih awal dari yang seharusnya.
Musim 2024/25 menandai akhir era Don Carlo dan membuka lembaran baru di bawah kepemimpinan Xabi Alonso, setelah terlalu banyak masalah yang menumpuk sepanjang musim.
Don Carlo pergi dengan kepala tegak. Lalu datanglah Xabi Alonso setelah membawa kesuksesan untuk Bayer Leverkusen. Seorang legenda, idola, mantan gelandang bertahan terbaik yang pernah memakai jersey Real Madrid .
Tapi akhirnya Xabi membuktikan sendiri, menjadi pelatih Real Madrid tidak semudah itu.
Performa tim terus menurun sejak keberhasilan menjuarai Liga Champions 2023-2024, lalu Xabi diganti lagi dengan Alvaro Arbeloa. Arbeloa, yang juga mantan pemain Real Madrid ini nampaknya juga kewalahan mengurusi ego-ego anak-anak bintang Real Madrid.
Belum selesai. Badai cedera juga terus menghantam. Pemain-pemain kunci seperti Militao, Rodrygo, Carvajal, Militao, Alaba, Mendy, jadi langganan BPJS.
Akhirnya, dua musim tanpa trofi, dua tahun puasa gelar. Lebih berat dari puasa Ramadan, karena setidaknya puasa Ramadan ada buka-nya tiap hari.
José Mourinho. Kabarnya sudah teken kontrak tiga tahun. Dan akan diumumkan resmi setelah pemilu presiden klub pada 7 Juni 2026 nanti.
Ya. The Special One. Sang mantan. Yang pernah di sini. Yang pernah pergi dengan sedikit drama. Tapi yang juga pernah membawa La Décima semakin dekat dengan cara-caranya yang khas: pragmatis, disiplin, dan sedikit kejam.
Kalau ini benar, maka Madrid sedang bersiap menekan tombol reset. Bukan sekadar mengganti entrenador, tapi mengganti seluruh sistem. Dan itu, menurut sayaa adalah langkah yang tepat. Meski saya tahu sebagian Madridista akan berdebat soal ini sampai titik darah penghabisan.
Lalu, apa yang harus dilakukan Madrid musim depan?
Kalau pakai diksi-diksi ala birokrat, maka izinkan saya menyampaikan…
Pertama, beri Mourinho kekuasaan penuh dan dukungan politik dari Presiden (entah siapa nanti yang akan terpilih).
Mourinho dikenal bukan tipe pelatih yang bisa disuruh-suruh dan ditekan seperti kontraktor pilihan pemerintah. Kalau dia datang dan masih harus bernegosiasi dengan kubu-kubu internal soal siapa yang boleh dimainkan dan siapa yang tidak, hasilnya akan sama seperti musim-musim kemarin.
Mourinho butuh otoritas penuh. Beri itu, atau jangan panggil dia sama sekali.
Kedua, keyakinan bahwa “tidak ada yang lebih besar dari Real Madrid” harus dikembalikan.
Pemain yang tidak mau patuh pada kerja-kerja tim? lepas. Madrid bukan panggungnya individu. Dan Mourinho adalah salah satu di antara pelatih yang nampaknya cukup keras kepala untuk mengingatkan itu kepada siapapun.
Ketiga, belanja cerdas.
Mourinho konon katanya sudah mengirimkan daftar pemain yang dibutuhkan. Bek tengah kayak Alessandro Bastoni dari Inter, Nico Schlotterbeck dari Dortmund, atau Ibrahima Konaté dari Liverpool yang kabarnya akan bebas kontrak, masuk dalam radar.
Di sisi bek sayap, Madrid juga butuh full-back kanan yang andal karena Carvajal pergi, Trent Alexander-Arnold belum cukup konsisten, dan Mendy butuh backup yang lebih bersaing.
Di lini tengah, dibutuhkan satu gelandang kreatif, profil mirip Modrić atau Kroos lah, entah itu Joao Neves, Vitinha, atau tipe Pablo Barrios.
Keempat, mencari formula Mbappé + Vinícius.
Dua pemain itu, kalau sinkron, adalah mimpi buruk bek manapun di dunia. Tapi dua musim terakhir, keduanya lebih sering terlihat seperti dua penyanyi solois di panggung yang sama tanpa pernah benar-benar berduet. Masing-masing hebat. Tapi tidak cukup menyukseskan pentasnya sampai selesai.
Kalau Mourinho mampu membuat Mbappé dan Vinícius berbagi panggung yang sama tanpa bererbut sorotan — wah bakal gila seh!
Terakhir, mengkader leader baru.
Ini PR terbesar Mourinho dan siapapun yang melatih Madrid.
Madrid kehilangan pemimpin. Bukan sosok pemimpin yang hanya menggunakan ban kapten di lengannya, tapi sosok yang kalau tim sedang kalah 0-2 di menit ke-90, cukup berdiri dan menatap rekan-rekannya, semua orang langsung percaya pertandingan belum selesai.
Yang kalau ada dua pemain mulai adu mulut di ruang ganti, dia cukup melangkah masuk, tidak perlu ngomong apa-apa, keduanya langsung diam.
Dulu ada Raúl, Casillas, Ramos, Nacho, masing-masing berbeda karakter, tapi semuanya punya satu kesamaan: mereka benar-benar punya kharisma seorang “leader” yang mampu menggerakkan dan memimpin teman-temannya. Sosok itulah yang harus dicari Mourinho nanti.
Jadi begitulah, kawan-kawan.
Sekali lagi, selamat kepada fans PSG atas gelar liga champions beruntunnya. Mereka memang layak.
Saya akui, Real Madrid sedang dalam periode gelap. Tapi saya tidak akan berhenti percaya, sama seperti sahabat-sahabat di PMII sering nyanyikan, “Habislah sudah masa yang suram, selesai sudah derita yang lama.”
Dan kalau musim depan juga masih suram?
Saya akan nulis lagi.
Penulis Najmi Fuady
Banjarese, Nahdliyin, Madridista, Alumnus Interdisciplinary Islamic Studies UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Meminati Studi Sosiologi dan Perilaku Informasi

Saat ini belum ada komentar