Breaking News
light_mode
Beranda » Artikel » PBNU 2021 – 2026 Dalam Sorotan Publik

PBNU 2021 – 2026 Dalam Sorotan Publik

  • account_circle M Syarbani Haira
  • calendar_month Rabu, 10 Jun 2026
  • visibility 43
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh : M Syarbani Haira* — JIKA mencermati dengan seksama, kepengurusan PBNU pimpinan Gus Yahya (GY), masa khidmat 2021 – 2026, satu-satunya kepengurusan PBNU yang mendapatkan sorotan publik, begitu tajam. Ironisnya, sorotan itu bukan hanya dalam dimensi yang positive konstruktive, melainkan sebaliknya, cenderung negative destruktive.

Berbagai kritik dan koreksi, hujatan dan sumpah serapah, kerapkali terdengar dari berbagai suara tokoh dan aktivis NU di berbagai belahan nusantara ini. Terlebih sejak terbentuknya Badan Penyelamat Organisasi Nahdlatul Ulama (BPO NU), yang digagas salah satu tokoh NU asal Jawa Timur, KH Abdussalam Shohib, yang populer dengan panggilan Gus Salam.

Pimpinan Pesantren Den-Anyar, Jombang ini, pada akhir 2024 silam, melakukan pertemuan, bersama sejumlah tokoh NU se Nusantara. Ada KH Doktor Tony Wanggae (Papua), Doktor Rasyid T Mayang (Papua), KH Abdul Muhaimin (Yogyakarta), KH. Marzuki Mustamar (Malang, Jawa Timur), Kyai Haji Makki (Madura, Jawa Timur),  Ustadz Abdul Quddus Salam (Surabaya, Jawa Timur), Kyai Haji Mafahim (Ploso, Kediri), KH. Aguk Irawan MN (Yogyakarta), KH. Imam Baehaqi (Rembang Jawa Tengah), KH. Imam Jazuli (Cirebon, Jawa Barat).

Kemudian ada Ustadz Muchammad Jafar Shodiq (Bangka Belitung), KH. Suwarno (Batam, wafat tahun 2025 kemarin), Ustadz Intan Sati (Sumatera Barat), Doktor Rusli Achmad (Riau), Ustadz Sakrony (Bali), Kyai Haji Hady (Kupang, NTT), Ustadz Fathul Ilmi, Syaipul Adhar dan Syarbani Haira (Kalimantan), serta sejumlah tokoh NU lainnya yang tidak bisa disebutkan satu persatu. Ada 100-an lebih kader NU yang berkumpul di Surabaya kala itu.

Saat pertemuan di Surabaya, Jawa Timur, kelompok ini mensepakati Muktamar Luar Biasa (MLB) NU. Sayangnya, gerakan ini layu sebelum berkembang. Padahal sejumlah Kyai Sepuh di Jawa Timur dan Jawa Tengah khususnya, secara implisit menyatakan dukungannya. Ini terkait karena PBNU pimpinan GY, yang telah dilanda kisruh berkepanjangan. Akar rumput NU mengeluhkan kepemimpinan GY ini sebagai tidak familier, tidak lazim, dan cenderung otoriter. Orang yang tak sejalan dengannya, siap-siap saja tersingkir dalam percaturan jam’iyyah Nahdlatul Ulama.

Caranya bermacam-macam. Salah satu senjata utamanya adalah sertifikasi pelatihan bagi setiap calon pengurus atau pimpinan NU. Seolah-olah, orang yang sudah bertahun-tahun telah menjadi aktivis NU, masih diragukan ke-NU-annya. Ironisnya, ada kaum kost-kost-an dan pendatang baru di NU langsung bisa menjadi pemimpin, setelah yang bersangkutan telah diberi “hadiah” sertifikat pelatihan yang dilakukan PBNU. Sementara aktivis NU sendiri menjadi tak bisa menjadi pimpinan, karena tidak mendapatkan akses untuk mengikuti pelatihan. Tidak hanya itu, ada pula orang yang bisa ikut, tetapi tidak diluluskan, dengan alasan absensinya bolong-bolong.

Berbagai Kritik 

Di antara sorotan publik dan kritik tajam terhadap NU, khususnya terhadap pengurusnya periode sekarang, umumnya dilakukan melalui berbagai media. Ada yang disampaikan melalui forum-forum resmi, dan ada pula yang disampaikan melalui berbagai media sosial.

Seorang aktivis perempuan, yang tergolong bagian dari kelompok berdarah biru di NU, melalui group whatsapp, mengkritik PBNU yang sekarang sepi, tidak seperti PBNU masa sebelumnya. “Dulu PBNU rame dari pagi sampai malam. Sekarang bagaikan gedung tua yang kosong, tanpa aura”, tulisnya tegas.

Kritik ini muncul karena PBNU sekarang melakukan mekanisme hanya menerima tamu yang minta ijin pakai surat, yang harus dikirim beberapa hari sebelumnya. Banyak sekali jajaran PCNU dan PWNU se Indonesia, yang kecewa tak bisa naik ke lantai III khususnya, karena datang tanpa meminta ijin terlebih dahulu. Akibat aturan ini, sejumlah aktivis menjadi males berkunjung, karena tidak akan bisa sowan ke ruang kerja Ketua Umum PBNU.

“Penguruse terlalu keramat?” tulis pemilik akun ~ahmadsunarto. “Kalau malam sudah kayak makam keramat itu PBNU” sambung pemilik akun seorang aktivis perempuan, ber-inisial NW (Nawang Wulan). “Sekarang itu kantor PBNU ketat susah dimasukin warga nahdliyyin karena di situ dipakai deal-deal-an bisnis dan politik” katanya lagi.

“Di era Gus Dur, PBNU sangat open. Pengalaman pribadi, ketika Gedung PBNU masih belum direnovasi, suatu hari saya (masih mahasiswa) dan beberapa teman berkunjung (ya kemana lagi kalau gak ke kantor NU sebagai junjungan orang kampung yang kali pertama ke Jakarta). Tak berselang lama Gus Dur rawuh, kami disumonggokan untuk segera masuk ke ruangan beliau. Alhamdulillah kami bisa sungkem dateng beliau. Padahal sama sekali kami tidak buat janjian apalagi buat surat resmi untuk sowan” tulisnya.

Kemudian, seorang mantan aktivis Ansor menimpali jika “sewaktu dulu ketika saya sering bolak balik ke Jakarta, selesai di Kantor PP GP Ansor, selalu mampir di PBNU” cerita dia. Merespon keluhan ini, Kyai Marzuki Mustamar, tokoh NU Jawa Timur secara satir menyebut bahwa “Niku penguruse khusyu dhula, tahajjud, munajaat, tafakkur dan tirakat ning”, singgung mantan ketua Tanfidziah PWNU Jawa Timur ini dalam bahasa Jawa.

Menyikapi keadaan tersebut, Ustadz Intan Sati, aktivis NU dari Sumatera Barat berharap “Semoga dengan Suksesi Kepemimpinan Baru nanti pasca Muktamar 35, PBNU diharapkan bergairah kembali, kita jadikan Rumahnya Warga Nahdliyin” harapnya.

Kritik terstruktur datang dari Abi Zeidan, melalui tulisannya berjudul “MAU DIBAWA KEMANA NU KITA INI ?”. Tulisan ini diposting aktivis NU Jakarta, Taufik CH.

Selengkapnya tulisan Zeidan mengatakan, jika arah pergerakan dan Perjuangan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dengan Jargon utamanya adalah “Merawat Jagat, Membangun Peradaban”.

Selain itu, terdapat beberapa prinsip, visi, dan istilah khas yang lekat dengan corak kepemimpinan Gus Yahya: “Menghidupkan Kembali Pemikiran Gus Dur: Menjadi salah satu landasan ideologis utamanya dalam mengembalikan nilai-nilai keislaman, keindonesiaan, dan kemanusiaan universal.

Gerakan strategis global yang diusung bertujuan untuk mengabdi dan melayani seluruh umat manusia, mencari solusi atas kemelut peradaban abad ke-21. Mengoptimalkan Jam’iyah (Organisasi): Penataan sistem kelembagaan agar NU tidak sekadar menjadi simbol besar, melainkan benar-benar menghadirkan kemanfaatan nyata bagi warga secara langsung.

Yahya Staquf Ingin “Hidupkan” Gus Dur, Ini Maksudnya.

Yahya Staquf sempat harus ke berbagai negara dengan bekal yang sangat terbatas. Berjam-jam perjalanan dengan kelas ekonomi hanya untuk mengikuti forum dunia.

Tapi apa didapati dari berbagai upaya itu ? “Pepesan kosong”. Kini NU bukannya lebih bermakna dan bermanfaat bagi umat, tapi malah semakin melambung tinggi hingga tercerabut dari akar ideologisnya. Orang Batak bilang “Kambing kau kejar sapi di rumah hilang”.

Masih banyak kritik terhadap PBNU, GY khususnya yang sekarang menjadi Ketua Umum. Jika dikumpulkan, mungkin ada beberapa jilid buku, andai diterbitkan. Memang, selain kritik dan koreksi terhadap GY selaku Ketua Umum PBNU, para pembelanya pun juga bermunculan. Beberapa di antaranya, Ulil Abshar Abdalla, KH Miftah Faqih, KH Masyhuri Malik, Hamzah Sahal, dan sejumlah tokoh lainnya. Bagi mereka, GY adalah Ketua Umum yang hebat, yang telah mampu mengangkat harkat NU di tingkat dunia.

Soal Koperasi BUM NU juga tak kalah serunya dibicarakan. Koperasi yang rencananya akan mengelola tambang batubara ini menjadi hangat setelah salah satu pengurusnya KH Afifuddin Muhajir, ulama ahli fiqh dari Situbondo, Jawa Timur, mengundurkan diri melalui surat yang dipublikasikan. Lagi-lagi kejadian ini menjadi amunisi baru di kalangan para pengeritik terhadap PBNU, khususnya GY.

Menuju Muktamar 2026

Sejak 2024 lalu, gagasan untuk melaksanakan muktamar menjadi topik menarik bagi aktivis NU dari Sabang hingga Meraoke. Terlebih dengan adanya gerakan MLB yang digagas oleh pendiri Badan Penyelamat Organisasi Nahdlatul Ulama, hingga rapat Syuriah PBNU yang akhirnya memakzulkan Ketua Umum PBNU, oleh berbagai alasan yang sangat logis. Hanya saja karena negara, dalam hal ini Presiden Prabowo, tidak mau ada keributan di negeri ini, maka jajaran Syuriah PBNU dengan amat sangat terpaksa mengakomodasi kembali GY sebagai Ketua Umum PBNU.

Ini muktamar NU yang ke-35, setelah Lampung. Sesungguhnya GY sendiri melalui aktivis pendukungnya, sudah sepakat muktamar ke-35 baru akan dilaksanakan 2027 besok. Dokument ini bisa dilihat dari berbagai publikasi perkumpulan PBNU. Itu sebabnya, keputusan Syuriah PBNU untuk melaksanakan muktamar 2026 ini tak direspon cepat oleh GY. Karena itulah, akhirnya Rais Aam PBNU KH Miftahul Achyar menggunakan hak istimewanya, menanda-tangani surat seorang diri, tanpa Ketua Umum. Kejadian ini selalu diributkan para pendukung GY, padahal regulasi seperti ini membolehkan.

Di kalangan akar rumput nampaknya setuju dengan agenda muktmar yang dipercepat ini. Beberapa kandidat Ketua Umum pun bergembira ria dengan agenda ini. Terbukti, beberapa calon ketua umum PBNU langsung konsolidasi sejak beberapa bulan silam. Misalnya KH. Zulfa Musthafa, wakil ketua umum PBNU yang pernah diberi amanah menjadi Pejabat Ketua Umum. Beliau sudah keliling pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Papua, Maluku, Nusa tenggara dan sebagainya.

Demikian pula dengan Gus Salam, Gus Yusuf Khodari, kyai Imjaz yang telah mendatangi banyak pengurus wilayah dan cabang. Sementara Menteri Agama RI Prof Nasaruddin Umar sambil melakukan kunjungan sebagai Menteri Agama, juga memanfaatkan jaringan pengurus NU yang kebetulan PNS di Kemenag. Begitu pula dengan Gus Iful, meski tidak berniat maju untuk menjadi Ketua Umum, dari gestur dan bahasa yang keluar, nampaknya Sekjen PBNU ini mendukung Menteri Agama untuk menjadi Ketua Umum PBNU.

Sedangkan Nusron Wahid, juga tidak berniat untuk menjadi Ketua Umum, tetapi yang bersangkutan kabarnya berkampanye untuk kesuksesan Kyai Zulfa Musthafa menjadi Ketua Umum PBNU. Pasukan PKB, termasuk Cak Imin, Ketua Umum-nya, di mana-mana menyatakan harus ada pergantian Ketua Umum PBNU. Turunnya dua orang penting PKB, Gus Salam dan Gus Yusuf, kemungkinan bagian dari taktik Cak Imin mengukur dukungan.

GY sendiri pun mulai rajin turun lapangan. Beliau sudah datang ke Kaltim, juga ke Kalteng. Hanya Kalsel yang tak pernah ia datangi. Tetapi tim-nya terus bergerak, untuk memenangkan kembali muktamar, seperti di Lampung.

Sahabat karib saya di syuriah PBNU, Kyai Sarmidi Husna, dalam sebuah perbincangan bilang jika NU mau maju, maka pilihan tepat adalah Prof Dr KH Muhammad Nuh, ENG. Mantan Rektor ITS ini dikenal ulama yang mengerti teknologi. Itu sebabnya, Presiden SBY pernah menunjuknya sebagai Menteri Pendidikan RI. Munculnya nama Prof M Nuh ini nampaknya tak disukai para pendukung GY. Komentar mereka sangat steriotive sekali.

Saya pribadi, sebagai orang yang pernah tidak dihiraukan GY, maka di muktamar ini segera mengambil jarak, meski di Lampung saya menjadi jaringan tim sukses-nya. Saya sepakat nama-nama di atas dicalonkan menjadi Ketua Umum PBNU, entah itu Prof Nuh, atau Kyai Zulfa, Gus Salam, Gus Yusuf, Cak Imin, Gus Iful, Gus Mafahim, Gus Rozin, atau Nusron Wahid (silahkan rekan-rekan dan sahabat-sahabat untuk menambah list-nya). Saya yakin, mereka ini mampu menjadi penerus estapita NU, tanpa keributan dan kekisruhan. Mereka tulus berkarya untuk umat, bangsa, dan negara. Amin ya rabbal alamian. Wallahu a’lam bis-sawab … !!!

Avatar photo

Penulis

Pekerja Sosial, Jurnalis, dan Pengamat Sosial. Aktif di networking NGO internasional, for humanity, empowering society, peace and justice. Menekuni Demografi - Geografi, al-Bidayah wa an-Nihayah.

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Rais Syuriah NU Kalsel, KH Muhammad Wildan Salman: “Pertegas Semangat Persatuan”

    Rais Syuriah NU Kalsel, KH Muhammad Wildan Salman: “Pertegas Semangat Persatuan”

    • calendar_month Kamis, 11 Jun 2026
    • account_circle Noura Dalla Adilla
    • visibility 21
    • 0Komentar

    Rais Syuriah NU Kalsel, KH Muhammad Wildan Salman: “Pertegas Semangat Persatuan” BANJARMASIN – The Nusantara Insight :  Rais Syuriah PWNU Provinsi Kalimantan Selatan, KH Muhammad Wildan Salman, menegaskan perlunya jamiyyah Nahdlatul Ulama untuk memelopori semangat persatuan bagi Masyarakat luas, baik untuk urusan agama, bangsa atau negara. Penegasan ini disampaikan tokoh ulama Martapura ini, saat menerima […]

  • Tak Ada Yang Lebih Revolusioner Dari Seorang Pembaca Buku

    Tak Ada Yang Lebih Revolusioner Dari Seorang Pembaca Buku

    • calendar_month Selasa, 23 Jun 2026
    • account_circle Romario
    • visibility 19
    • 0Komentar

    Oleh: Romario* — Ada kesalahan besar soal bagaimana media menggambarkan pembaca buku, seseorang yang berkacamata sambil mendekap sebuah buku. Padahal pembaca buku adalah orang-orang revolusioner, mereka datang dengan gagasan yang meruntuhkan apa yang telah dipercayai begitu saja. Mereka menelurkan keindahan dan kebrutalan dalam balutan sastra, bahkan menulis sajak-sajak yang bisa saja mengganggu penguasa. Pendiri Republik ini adalah […]

  • Pesta Sapi

    Pesta Sapi

    • calendar_month Jumat, 29 Mei 2026
    • account_circle Syaipul Adhar
    • visibility 99
    • 0Komentar

    Oleh: Syaipul Adhar, M.E. — Hari ini, saya teringat suasana Iduladha di kampung. Bukan soal khotbahnya, bukan pula soal siapa yang menyumbang sapi paling besar. Tetapi aroma gotong royongnya. Ada yang memegang tali, ada yang memotong daging. Ada yang membagi kupon, ada pula yang memasak. Tidak semua orang kebagian tugas yang bersih. Ada yang harus […]

  • Ulasan Buku Surrounded By Idiots: Bisakah Kita Membaca Perilaku Manusia?

    Ulasan Buku Surrounded By Idiots: Bisakah Kita Membaca Perilaku Manusia?

    • calendar_month Minggu, 12 Jul 2026
    • account_circle Romario
    • visibility 6
    • 0Komentar

    Oleh: Romario* — Awal mulanya buku ini ditulis Thomas karena ada seorang pemimpin perusahaan yang marah dengan pegawainya, lalu menganggap orang-orang sekitarnya sebagai idiot. Dari sinilah Thomas tergerak membaca perilaku manusia. Dalam buku ini, ia membagi perilaku manusia dalam empat warna, yakni Merah, Kuning, Hijau dan Biru, dan setiap orang bisa saja dominan di salah satu […]

  • Rabithah Melayu Banjar Sembelih Hewan Qurban Bantuan Kapolri

    Rabithah Melayu Banjar Sembelih Hewan Qurban Bantuan Kapolri

    • calendar_month Rabu, 27 Mei 2026
    • account_circle Sahran Saukhan
    • visibility 51
    • 2Komentar

    BANJARMASIN – Keluarga besar Rabithah Melayu Banjar melaksanakan penyembelihan hewan qurban bantuan dari Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo pada Rabu (27/5/2026). Kegiatan sosial keagamaan ini berlangsung khidmat di Jalan Rahayu, Sungai Lulut, Kota Banjarmasin, segera setelah pelaksanaan ibadah Salat Idul Adha. Rabithah Melayu-Banjar sendiri merupakan perkumpulan kemasyarakatan melayu-banjar yang berfokus pada peningkatan empowering society, […]

  • Sipil Yang Lemah? Penyebab ASN Tidak Ikut Upacara Kemerdekaan di Istana Negara?

    Sipil Yang Lemah? Penyebab ASN Tidak Ikut Upacara Kemerdekaan di Istana Negara?

    • calendar_month Rabu, 15 Jul 2026
    • account_circle Lintang Narendra
    • visibility 10
    • 0Komentar

    Oleh: Lintang Narendra* — Sejak kecil, masyarakat Indonesia terbiasa melihat seragam sebagai tanda kekuatan. Seragam TNI dan Polri hadir dalam upacara, berita, film, baliho, acara kenegaraan, pengamanan, penanganan bencana, sampai kegiatan di sekolah. Tubuh yang tegap, langkah yang sama, suara komando yang keras, pangkat di pundak, dan senjata yang dibawa menciptakan kesan yang mudah ditangkap: […]

expand_less