Breaking News
light_mode
Beranda » Artikel » Kebohongan Itu Dimulai dari Sistem Pendidikan

Kebohongan Itu Dimulai dari Sistem Pendidikan

  • account_circle Romario
  • calendar_month Senin, 6 Jul 2026
  • visibility 33
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Romario* Selama bergelut dalam dunia pendidikan ada satu hal yang penulis sadari, bahwa sistem pendidikan begitu rumit dan penuh kebohongan.

Ada satu bagian yang penulis paling tidak sukai dan rasanya menjadi Bullshit Job seperti kata David Breegeer, yakni soal akreditasi atau istilah lainnya Borang.

Bahkan borang ini punya plesetan singkatan Bohong dan ngarang, ya sebuah kegiatan untuk meningkatkan kualitas suatu institusi pendidikan dengan menampilkan dokumen dan situasi-situasi yang seolah-olah ideal, lalu mendapat peringkat unggul, baik, dan baik sekali. Tapi sayangnya, selain melelahkan sistem ini juga penuh dengan kebohongan.

Besarnya beban administrasi, untuk menyusun sebuah borang setidaknya perlu puluhan hingga ratusan dokumen, data peserta didik, data pendidik, rencana pembelajaran, evaluasi pendidikan, saranan dan prasarana, dan berbagai hal lainnya soal akreditasi.

Tidak tanggung-tanggung, untuk menyelesaikan dokumen ini perlu waktu satu tahun, karena begitu banyaknya dokumen yang harus disediakan.

Hal paling memuakan, dan mungkin saja disengaja adalah perubahan format yang dilakukan oleh lembaga penilai ketika hendak akreditasi, entah atas tujuan apa.

Yang pasti, penulis mencurigai bahwa lembaga pengada akreditasi dengan sengaja mengubah format demi mengadakan pelatihan berbayar mengelola akreditasi.

Dalam sistem borang, intitusi pendidikan diukur seberapa banyak jumlah peserta didik, dan ini sebenarnya menjadi masalah baik di sekolah maupun di kampus.

Akibat sistem ini, terutama kampus pada akhirnya berlomba-lomba mengumpulkan mahasiswa sebanyak mungkin, tidak peduli apakah mahaiswa yang masuk berkualitas atau tidak, yang paling penting jumlah mahasiswa bisa terpenuhi dalam sistem akreditasi.

Gara-gara ini juga, kampus mempertahankan mahasiswa karena akan sangat sayang sekali ketika ada mahasiswa yang berkurang di setiap semester.

Sistem yang belakangan juga mengganggu adalah soal Indeks Prestasi Kumulatif (IPK), pada Borang kampus diharuskan untuk memiliki siswa dengan IPK yang baik, maka berubahlah sistem penilaian, yang dulu bisa memberikan mahasiswa nilai C, kini hanya bisa memberikan nilai B.

Karena jika seorang dosen memberi nilai C, maka akan berpengaruh terhadap penilaian IPK. Dan barangkali itu juga yang dialami sekolah, saat guru mau tak mau mengatrol nilai siswa agar sesuai dengan keinginan sistem borang.

Ada hal yang bikin miris lagi, adalah maraknya Joki di kampus, penulis mengalami sendiri saat menguji sidang mahasiswa yang ternyata mengandalkan joki untuk mengerjakan, tapi tetap saja di luluskan, padahal perbuatan tersebut telah mencoreng dunia pendidikan, dan tak sepatutnya dia lulus.

Tapi pengalaman berbeda dialami teman penulis, saat tidak meluluskan mahasiswa karena memang kualitas skripsinya jelek, lalu mahasiswa tersebut enggan kuliah, ia malah disalahkan oleh pimpinan kampus, dan dipaksa membayar SPP si mahasiwa. Sungguh ironi dalam dunian pendidikan.

Seharusnya beban administrasi soal borang ini dihapuskan saja, saya rasa negara dengan pendidikan maju tak akan mau berurusan dengan administrasi yang tak jelas ini, dan tak punya implikasi apa-apa untuk pendidikan, malah menghancurkan pendidikan itu sendiri.

Di Negara Finlandia dan Polandia, fokus yang diutamakan bukanlah administrasi tapi bagaimana menyentuh hati peserta didik.

Di negara pendidikan maju, yang diutamakan adalah bagaimana cara mengajar, memberikan pendidikan yang berkualitas, dibanding tugas-tugas administrasi.

Jika melihat hasil Tes Potensi Akademik yang anjlok belakangan, betapa memperlihat kacaunya sistem pendidika, alih-alih berfokus pada kualitas kita malah fokus pada administrasi yang tak berkesudahan.

Begitupun soal IPK, bahkan sekarang mahasiswa sudah mengalami implus IPK, menjadi wisudawan dengan predikat Cum Laude bukanlah lagi luar biasa, tapi biasa saja, karena mudah mendapatkan nilai selama perkuliahan.

Avatar photo

Penulis

Dosen IAIN Langsa yang hobi membaca buku. Meminati Psikologi, Sosiologi, Filsafat, dan Studi Islam

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Paradoks NU: Ketika Membesar, Jangan Sampai Kehilangan Akar

    Paradoks NU: Ketika Membesar, Jangan Sampai Kehilangan Akar

    • calendar_month Senin, 1 Jun 2026
    • account_circle Eko Ernada
    • visibility 37
    • 0Komentar

    Oleh : Eko Ernada, Grad.Dipl.IR, Ph.D.*  –  Ketika para kiai mendirikan Nahdlatul Ulama (NU) pada 1926, sulit membayangkan bahwa organisasi yang lahir dari jaringan pesantren, langgar, dan komunitas-komunitas lokal itu kelak menjelma menjadi salah satu organisasi Islam terbesar di dunia. Dari ruang-ruang sederhana tempat para ulama mendiskusikan masa depan umat, NU tumbuh menjadi kekuatan sosial-keagamaan […]

  • Pererat Silaturahmi, Warga RT 45 Beruntung Jaya Gelar Kurban di Langgar Al-Muhajirin

    Pererat Silaturahmi, Warga RT 45 Beruntung Jaya Gelar Kurban di Langgar Al-Muhajirin

    • calendar_month Kamis, 28 Mei 2026
    • account_circle Noura Dalla Adilla
    • visibility 35
    • 0Komentar

    BANJARMASIN – Semangat kebersamaan dan kepedulian sosial terlihat jelas dari kegiatan warga RT 45, Beruntung Jaya, Kelurahan Pemurus Dalam, Kecamatan Banjarmasin Selatan, Kota Banjarmasin. Pada Iduladha 1447 Hijriah ini, warga setempat kembali menggelar ibadah penyembelihan hewan kurban yang dipusatkan di halaman langgar kebanggaan warga RT. 45 Langgar Al-Muhajirin, Rabu (27/5/2026). Kegiatan ini menjadi agenda rutin […]

  • Kala Politik Jadi Bencana Bagi NU

    Kala Politik Jadi Bencana Bagi NU

    • calendar_month Rabu, 22 Jul 2026
    • account_circle Romario
    • visibility 20
    • 0Komentar

    Oleh: Romario*  Catatan Redaksi: Artikel ini merupakan tanggapan dan pemikiran tandingan atas tulisan Najmi Fuady berjudul “NU dan DNA Politik-nya” yang menyoroti rekam jejak historis serta dinamika keterlibatan Nahdlatul Ulama dalam panggung politik nasional. Sudah sejak lama NU ikut berpolitik di Indonesia. Hal ini dimulai dari masa berdirinya Partai Masyumi yang di dalamnya tergabung anak […]

  • Algoritma vs Budaya: Krisis Identitas Anak Muda Indonesia

    Algoritma vs Budaya: Krisis Identitas Anak Muda Indonesia

    • calendar_month Sabtu, 30 Mei 2026
    • account_circle Alfinnor Effendy
    • visibility 41
    • 0Komentar

    Oleh : Alfinnor Effendy* — Perubahan zaman selalu melahirkan dua kemungkinan sekaligus: kemajuan dan kehilangan. Kemajuan menghadirkan teknologi, kemudahan akses informasi, serta peluang yang sebelumnya tidak pernah dibayangkan. Namun di saat yang sama, perubahan juga berpotensi membuat manusia kehilangan arah, tercerabut dari akar budayanya, bahkan mengalami krisis makna dalam menjalani kehidupan. Indonesia hari ini sedang […]

  • NU dan DNA Politik-nya

    NU dan DNA Politik-nya

    • calendar_month Selasa, 21 Jul 2026
    • account_circle Najmi Fuady
    • visibility 21
    • 0Komentar

    Oleh: Najmi Fuady* — Perdebatan mengenai posisi Nahdlatul Ulama (NU) dalam diskursus perpolitikan di Indonesia selalu menjadi hal yang selalu hangat untuk diperbincangkan. Organisasi sosial-keagamaan terbesar ini kerap dipandang berada di persimpangan jalan antara menjaga jarak independensi dengan tarikan kuat kekuasaan. Untuk memahami dinamika hari ini, publik kiranya perlu menengok kembali rekam jejak historis organisasi […]

  • Dokument Pribadi

    Mei yang Damai, Menuju Indonesia Negara Damai

    • calendar_month Sabtu, 30 Mei 2026
    • account_circle M Syarbani Haira
    • visibility 49
    • 0Komentar

    Oleh : M Syarbani Haira – Sebentar lagi kita akan meninggal Mei 2026. Bagi saya, Mei begitu bersejarah. Dibulan ini saya lahir, dan dibulan ini pula saya ikut berdemo menggulingkan Jenderal Besar Soeharto bersama aktivis se Nusantara. Tahun 1977-1978, saya pernah menjadi bagian dari perjuangan mahasiswa di Yogyakarta, menolak pencalonan kembali Presiden Soeharto menjadi Presiden […]

expand_less