Breaking News
light_mode
Beranda » Artikel » Lebih Cepat Belum Tentu Lebih Baik

Lebih Cepat Belum Tentu Lebih Baik

  • account_circle Romario
  • calendar_month Jumat, 10 Jul 2026
  • visibility 11
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Romario* — Jargon “Lebih Cepat, Lebih Baik” sudah seharusnya dipertanyakan, benarkah lebih cepat lebih baik? Kadang lebih cepat malah membuat berantakan dan tidak selalu baik.

Kehadiran internet telah menambah kecepatan untuk mendapatkan informasi, tapi informasi yang didapat tidak selalu baik, bahkan sering kali keliru.

Dalam situasi serba cepat saat ini, kita seperti berada di speed boat yang melaju cepat di permukaan laut tapi sukar untuk melihat kedalaman laut. Kita disajikan berbagai permasalahan, berita, opini, diskusi, dan petuah yang tersebar, namun sukar untuk menggali lebih dalam apa akar permasalahannya.

Orang-orang tahu banyak, tapi tak mengetahui secara mendalam. Segalanya serba di permukaan. Rasa-rasanya susah untuk menikmati kehidupan.

Maka dalam rangka menikmati kehidupan, muncul istilah slow living, sebuah perlawanan terhadap kehidupan yang serba cepat.

Jika internet membawa kita menjelajah ke mana pun, maka buku membawa kita pada kedalaman laut.

Informasi yang diberikan buku lebih mendalam jika dibanding informasi internet yang hanya berupa kutipan atau potongan petuah. Membaca adalah bagian slow living, saat membaca buku kita pun melambat. Kita mempelajari satu hal secara mendalam.

Saat kita paham dan mendalam maka tak akan merasa dirinya pakar, membahas apa pun yang sedang viral tanpa tahu bagaimana persoalannya, hanya tahu informasi di permukaan.

Padahal setiap hal ada pembahasannya secara mendalam. Jalan untuk memahaminya adalah buku.

Dan lagi pula tidak semua hal harus kita respons kalau kita memang bukan pakar di bidang tersebut.

Dalam buku Stop Membaca Berita karya Rolf Dobelli memberikan penjelasan bahwa tidak segala hal harus kita ketahui, apalagi hal tersebut memang tidak berkaitan dengan kehidupan kita, yang ada hanya membawa kepada pikiran yang depresi.

Berita sendiri sering kali bias, dan sulit untuk diverifikasi. Pernyataan ini diperkuat lagi dalam buku Runtuh dari Dalam karya Nanang Krisdinanto bahwa jurnalis sering kali hanya mementingkan iklan dibanding pemberitaan yang bermutu.

Tidak hanya membaca buku, melamun pun termasuk dalam slow living.

Rasanya saat ini kita susah sekali untuk duduk diam melamun, sering kali terdistraksi dengan media sosial untuk selalu aktif menatap layar menonton video remeh yang membuat candu. Padahal dengan melamun bisa menjadi jeda dari hidup yang serba cepat.

Dee Lestari seorang penulis novel dalam podcast bersama Gita Wirjawan mengatakan bahwa lewat melamun lah ia menemukan ide cerita, bahwa melamun telah membantu mengembangkan kreativitas.

Tak hanya kreativitas yang digerus oleh kecepatan, belakangan lagi muncul istilah brain rot sebagai word of the year 2024, yakni pembusukan otak akibat konsumsi konten rendah di media sosial.

Negara-negara akhirnya membuat aturan untuk melarang anak-anak menggunakan media sosial sampai berumur 16 tahun. Segala hal yang cepat malah berubah menjadi buruk, bahkan merusak.

Pembusukan otak ini pun banyak menimpa anak-anak Indonesia yang telah mengonsumsi konten rendah, terutama dari TikTok. Perhatikan saja komentar yang terlontar dalam video TikTok, sebuah cara pikir sesat dan menyimpang dapat ditemukan.

Tak hanya TikTok, bahkan di media sosial lainnya, kolom komentar hanya jadi tempat orang sibuk merasa benar. Akibat dari brain rot ini menjadikan tidak fokus, mudah stres, susah tidur, penurunan daya ingat, perubahan suasana emosi.

Maka, marilah lambat, mengambil buku sejenak fokus dalam kesunyian dan keheningan, menyelam ke dalam sebuah lautan, mengabaikan sisi permukaan yang begitu dangkal.

Semakin kita menyelam maka semakin sadar, bahwa begitu banyak hal yang tidak kita ketahui, begitu banyak keindahan yang selama ini jadi misteri.

Bahkan melamun lah sesekali, mengistirahatkan sejenak pikiran.

Avatar photo

Penulis

Dosen IAIN Langsa yang hobi membaca buku. Meminati Psikologi, Sosiologi, Filsafat, dan Studi Islam

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • ronaldo dkk

    “Ayat-ayat Cinta Ronaldo-Messi dan Anarkisme Mbappe-Haaland”

    • calendar_month Kamis, 25 Jun 2026
    • account_circle M Syarbani Haira
    • visibility 19
    • 0Komentar

    “Ayat-ayat Cinta Ronaldo-Messi dan Anarkisme Mbappe-Haaland” By : M Syarbani Haira – Sahabat … !!! Kekaguman dan kecintaan terhadap aktor mesin bola dunia selama tiga, bahkan empat decade terakhir ini, membuat saya harus melanggar tata krama penulisan dunia jurnalistik. Judul berita CNN Indonesia, edisi Kamis, 23 Juni 2026, “Ayat-ayat Cinta Ronaldo-Messi dan Anarkisme Mbappe-Haaland” saya […]

  • Keutamaan dan Amalan Hari Tasyrik

    Keutamaan dan Amalan Hari Tasyrik

    • calendar_month Sabtu, 30 Mei 2026
    • account_circle M Syarbani Haira
    • visibility 31
    • 0Komentar

    Keutamaan dan Amalan Hari TASYRIK, Sebuah Refleksi Saat ini umat Islam di seluruh dunia sedang memasuki Hari Tasyrik, yakni hari ke-11, 12 dan 13 bulan Dzulhijjah, tahun hijriyah. Tepatnya 3 hari setelah Idul Adha berlangsung, atau hari tasyrik yang ke-3. Dan hari ini, untuk masyarakat Islam Nusantara, dan beberapa negara kawasan Asia, merupakan hari terakhir, […]

  • Kebenaran dan Kepentingan

    Kebenaran dan Kepentingan

    • calendar_month Sabtu, 23 Mei 2026
    • account_circle Najmi Fuady
    • visibility 75
    • 0Komentar

    Selama tujuan masih jauh dari genggaman, manusia akan mencari banyak cara untuk mendekatinya. Ada yang mengejar kekayaan, jabatan, pengaruh, rasa aman, atau sekadar pengakuan. Caranya pun bermacam-macam. Ada yang bekerja sangat keras, ada yang membangun relasi, ada pula yang memilih memuji dan ada juga yang hanya diam menahan pendapatnya. Bukan karena itu adalah kebenaran, melainkan […]

  • Mantan Aktivis PMII Jember

    Paradoks NU: Ketika Membesar, Jangan Sampai Kehilangan Akar

    • calendar_month Senin, 1 Jun 2026
    • account_circle Eko Ernada
    • visibility 25
    • 0Komentar

    Oleh : Eko Ernada, Grad.Dipl.IR, Ph.D.*  –  Ketika para kiai mendirikan Nahdlatul Ulama (NU) pada 1926, sulit membayangkan bahwa organisasi yang lahir dari jaringan pesantren, langgar, dan komunitas-komunitas lokal itu kelak menjelma menjadi salah satu organisasi Islam terbesar di dunia. Dari ruang-ruang sederhana tempat para ulama mendiskusikan masa depan umat, NU tumbuh menjadi kekuatan sosial-keagamaan […]

  • Rabithah Melayu Banjar Sembelih Hewan Qurban Bantuan Kapolri

    Rabithah Melayu Banjar Sembelih Hewan Qurban Bantuan Kapolri

    • calendar_month Rabu, 27 Mei 2026
    • account_circle Sahran Saukhan
    • visibility 50
    • 2Komentar

    BANJARMASIN – Keluarga besar Rabithah Melayu Banjar melaksanakan penyembelihan hewan qurban bantuan dari Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo pada Rabu (27/5/2026). Kegiatan sosial keagamaan ini berlangsung khidmat di Jalan Rahayu, Sungai Lulut, Kota Banjarmasin, segera setelah pelaksanaan ibadah Salat Idul Adha. Rabithah Melayu-Banjar sendiri merupakan perkumpulan kemasyarakatan melayu-banjar yang berfokus pada peningkatan empowering society, […]

  • Selamat PSG, Tapi Tolong Jangan Tiga Kali

    Selamat PSG, Tapi Tolong Jangan Tiga Kali

    • calendar_month Minggu, 31 Mei 2026
    • account_circle Najmi Fuady
    • visibility 90
    • 0Komentar

    Oleh: Najmi Fuady* — Baiklah. Selamat kepada Paris Saint-Germain yang telah berhasil mempertahankan gelar Liga Champions untuk kedua kalinya secara berturut-turut tadi malam. Mengalahkan Arsenal di Budapest lewat adu penalti, setelah Gabriel Magalhães mengirimkan tendangan terakhirnya ke luar mistar, menghadiahkan kemenangan 4-3 kepada Les Parisiens. Luar biasa memang, saya sangat bahagia. Tapi bohong. Sejujurnya, saya […]

expand_less