Breaking News
light_mode
Beranda » Artikel » Lebih Cepat Belum Tentu Lebih Baik

Lebih Cepat Belum Tentu Lebih Baik

  • account_circle Romario
  • calendar_month Jumat, 10 Jul 2026
  • visibility 32
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Romario* — Jargon “Lebih Cepat, Lebih Baik” sudah seharusnya dipertanyakan, benarkah lebih cepat lebih baik? Kadang lebih cepat malah membuat berantakan dan tidak selalu baik.

Kehadiran internet telah menambah kecepatan untuk mendapatkan informasi, tapi informasi yang didapat tidak selalu baik, bahkan sering kali keliru.

Dalam situasi serba cepat saat ini, kita seperti berada di speed boat yang melaju cepat di permukaan laut tapi sukar untuk melihat kedalaman laut. Kita disajikan berbagai permasalahan, berita, opini, diskusi, dan petuah yang tersebar, namun sukar untuk menggali lebih dalam apa akar permasalahannya.

Orang-orang tahu banyak, tapi tak mengetahui secara mendalam. Segalanya serba di permukaan. Rasa-rasanya susah untuk menikmati kehidupan.

Maka dalam rangka menikmati kehidupan, muncul istilah slow living, sebuah perlawanan terhadap kehidupan yang serba cepat.

Jika internet membawa kita menjelajah ke mana pun, maka buku membawa kita pada kedalaman laut.

Informasi yang diberikan buku lebih mendalam jika dibanding informasi internet yang hanya berupa kutipan atau potongan petuah. Membaca adalah bagian slow living, saat membaca buku kita pun melambat. Kita mempelajari satu hal secara mendalam.

Saat kita paham dan mendalam maka tak akan merasa dirinya pakar, membahas apa pun yang sedang viral tanpa tahu bagaimana persoalannya, hanya tahu informasi di permukaan.

Padahal setiap hal ada pembahasannya secara mendalam. Jalan untuk memahaminya adalah buku.

Dan lagi pula tidak semua hal harus kita respons kalau kita memang bukan pakar di bidang tersebut.

Dalam buku Stop Membaca Berita karya Rolf Dobelli memberikan penjelasan bahwa tidak segala hal harus kita ketahui, apalagi hal tersebut memang tidak berkaitan dengan kehidupan kita, yang ada hanya membawa kepada pikiran yang depresi.

Berita sendiri sering kali bias, dan sulit untuk diverifikasi. Pernyataan ini diperkuat lagi dalam buku Runtuh dari Dalam karya Nanang Krisdinanto bahwa jurnalis sering kali hanya mementingkan iklan dibanding pemberitaan yang bermutu.

Tidak hanya membaca buku, melamun pun termasuk dalam slow living.

Rasanya saat ini kita susah sekali untuk duduk diam melamun, sering kali terdistraksi dengan media sosial untuk selalu aktif menatap layar menonton video remeh yang membuat candu. Padahal dengan melamun bisa menjadi jeda dari hidup yang serba cepat.

Dee Lestari seorang penulis novel dalam podcast bersama Gita Wirjawan mengatakan bahwa lewat melamun lah ia menemukan ide cerita, bahwa melamun telah membantu mengembangkan kreativitas.

Tak hanya kreativitas yang digerus oleh kecepatan, belakangan lagi muncul istilah brain rot sebagai word of the year 2024, yakni pembusukan otak akibat konsumsi konten rendah di media sosial.

Negara-negara akhirnya membuat aturan untuk melarang anak-anak menggunakan media sosial sampai berumur 16 tahun. Segala hal yang cepat malah berubah menjadi buruk, bahkan merusak.

Pembusukan otak ini pun banyak menimpa anak-anak Indonesia yang telah mengonsumsi konten rendah, terutama dari TikTok. Perhatikan saja komentar yang terlontar dalam video TikTok, sebuah cara pikir sesat dan menyimpang dapat ditemukan.

Tak hanya TikTok, bahkan di media sosial lainnya, kolom komentar hanya jadi tempat orang sibuk merasa benar. Akibat dari brain rot ini menjadikan tidak fokus, mudah stres, susah tidur, penurunan daya ingat, perubahan suasana emosi.

Maka, marilah lambat, mengambil buku sejenak fokus dalam kesunyian dan keheningan, menyelam ke dalam sebuah lautan, mengabaikan sisi permukaan yang begitu dangkal.

Semakin kita menyelam maka semakin sadar, bahwa begitu banyak hal yang tidak kita ketahui, begitu banyak keindahan yang selama ini jadi misteri.

Bahkan melamun lah sesekali, mengistirahatkan sejenak pikiran.

Avatar photo

Penulis

Dosen IAIN Langsa yang hobi membaca buku. Meminati Psikologi, Sosiologi, Filsafat, dan Studi Islam

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pesta Sapi

    Pesta Sapi

    • calendar_month Jumat, 29 Mei 2026
    • account_circle Syaipul Adhar
    • visibility 159
    • 0Komentar

    Oleh: Syaipul Adhar, M.E. — Hari ini, saya teringat suasana Iduladha di kampung. Bukan soal khotbahnya, bukan pula soal siapa yang menyumbang sapi paling besar. Tetapi aroma gotong royongnya. Ada yang memegang tali, ada yang memotong daging. Ada yang membagi kupon, ada pula yang memasak. Tidak semua orang kebagian tugas yang bersih. Ada yang harus […]

  • Selamat PSG, Tapi Tolong Jangan Tiga Kali

    Selamat PSG, Tapi Tolong Jangan Tiga Kali

    • calendar_month Minggu, 31 Mei 2026
    • account_circle Najmi Fuady
    • visibility 101
    • 0Komentar

    Oleh: Najmi Fuady* — Baiklah. Selamat kepada Paris Saint-Germain yang telah berhasil mempertahankan gelar Liga Champions untuk kedua kalinya secara berturut-turut tadi malam. Mengalahkan Arsenal di Budapest lewat adu penalti, setelah Gabriel Magalhães mengirimkan tendangan terakhirnya ke luar mistar, menghadiahkan kemenangan 4-3 kepada Les Parisiens. Luar biasa memang, saya sangat bahagia. Tapi bohong. Sejujurnya, saya […]

  • Ujian Independensi Politik NU

    Ujian Independensi Politik NU

    • calendar_month Selasa, 7 Jul 2026
    • account_circle Najmi Fuady
    • visibility 55
    • 0Komentar

    Oleh: Najmi Fuady* — Pada Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-27 tahun 1984 di Situbondo, para kiai mengambil langkah besar yang menandai titik balik penting dalam sejarah pergerakan Islam di Indonesia. NU memilih menarik diri dari panggung politik praktis dan menyatakan kembali ke garis perjuangan awal tahun 1926 (Khittah ’26), menjadi organisasi sosial-keagamaan (jam’iyyah diniyyah ijtima’iyyah) […]

  • Foto Pribadi

    Profil KH Zulfa Mustofa, Kandidat Ketua Umum PBNU 2026-2031

    • calendar_month Kamis, 9 Jul 2026
    • account_circle Noura Dalla Adilla
    • visibility 47
    • 0Komentar

    Jakarta – The Nusantara Insight : Hiruk pikuk Munas NU mengenai lokasi muktamar, berakhir sudah. PBNU, melalui rapat gabungan Syuriah dan Tanfidziah, melaksanakan pertemuan khusus, yang dihadiri lengkap. Termasuk tim survei yang sudah turun ke lapangan. PBNU akhirnya memutuskan jika Muktamar NU ke-35 ini, akan dilaksanakan di Pesantren Tambak Beras, Jombang, Jawa Timur. Event 5 […]

  • Dan Jamaah NU pun Ikut Terlena Materialisme

    Dan Jamaah NU pun Ikut Terlena Materialisme

    • calendar_month Rabu, 27 Mei 2026
    • account_circle M Syarbani Haira
    • visibility 76
    • 1Komentar

    Catatan dari Bumi Kalimantan Saya hadir bumi ini tiga tahun setelah Pemilu 1955. Event ulang tahun tak pernah diperingati khusus. Malah negara yang melakukannya, bersamaan dengan Peringatan Hari Pendidikan Nasional. Sejak lahir, hingga hari ini, umat Islam dari berbagai penjuru dunia setiap saat usai shalat atau pertemuan silaturahim, mendoakan saya bersama umat Islam lainnya, agar […]

  • Pancasila Setelah Upacara Selesai

    Pancasila Setelah Upacara Selesai

    • calendar_month Rabu, 3 Jun 2026
    • account_circle Alfinnor Effendy
    • visibility 29
    • 0Komentar

    Oleh: Alfinnor Effendy — Setiap tahun, di tanggal 1 Juni, kita kerap melaksanakan kegiatan yang nyaris serupa. Di halaman kantor pemerintahan, sekolah, kampus, hingga berbagai institusi, ramai-ramai digelar upacara peringatan hari lahir Pancasila dengan penuh khidmat. Teks Pancasila dibacakan, pidato kebangsaan disampaikan, dan media sosial dipenuhi kutipan para pendiri bangsa. Pada hari itu, Pancasila seolah […]

expand_less