Kecerdasan Buatan di Ruang Kelas: Peluang atau Ancaman bagi Guru Indonesia?
Lebih dari 200 ribu sekolah kini bereksperimen dengan alat bantu AI. Namun banyak guru merasa belum siap — dan itulah masalah sesungguhnya yang perlu kita bicarakan.
Ilustrasi: ruang kelas dengan papan tulis digital dan sistem AI pembelajaran. (Foto: Redaksi TNI)
Di sebuah SD negeri di pinggiran Surabaya, seorang guru kelas lima membuka laptop dan menampilkan antarmuka chatbot ke layar proyektor. "Anak-anak, hari ini kita belajar bareng teman baru," katanya. Murid-muridnya menyambut dengan antusias — sebagian besar dari mereka sudah lebih fasih menggunakan AI daripada guru mereka sendiri.
Realita ini bukan lagi pengecualian. Sejak Kemendikbudristek meluncurkan program Kelas Cerdas Digital pada awal 2025, lebih dari 200 ribu sekolah di seluruh Indonesia telah mendapatkan akses ke berbagai platform pembelajaran berbasis kecerdasan buatan.
Ketika teknologi lebih cepat dari pelatihan
Masalahnya bukan pada ketersediaan teknologinya. Masalahnya ada di sisi manusianya. Survei yang dilakukan oleh Lembaga Penelitian Pendidikan Nasional pada Februari 2026 menunjukkan bahwa 67 persen guru di Indonesia merasa "tidak atau kurang siap" mengintegrasikan AI dalam proses mengajar mereka.
"Saya takut digantikan, tapi saya juga takut tidak relevan jika tidak belajar menggunakannya. Rasanya seperti berjalan di atas tali."
— Hendra Wijaya, guru SMP Negeri 4 Malang
Kekhawatiran Hendra bukan tanpa alasan. Beberapa platform AI kini mampu menjelaskan konsep matematika, membuat soal ujian, hingga memberikan umpan balik personal kepada siswa — semua dalam hitungan detik. Namun para ahli pendidikan mengingatkan bahwa peran guru jauh lebih dalam dari sekadar penyampaian materi.
Yang tidak bisa digantikan mesin
Prof. Ratna Suminar dari Universitas Indonesia berpendapat bahwa AI justru bisa membebaskan guru dari tugas-tugas administratif berulang, sehingga mereka bisa lebih fokus pada aspek yang paling manusiawi dari pendidikan: membangun hubungan, mendeteksi kebutuhan emosional siswa, dan menumbuhkan rasa ingin tahu.
Namun ada syaratnya: guru harus mau dan mampu belajar. Dan untuk itu, mereka butuh waktu, dukungan, dan pelatihan yang memadai — bukan sekadar akses ke perangkat.
Jalan ke depan
Beberapa sekolah swasta di Jakarta dan Surabaya sudah mulai memperlihatkan model yang menjanjikan: alih-alih menyerahkan pembelajaran sepenuhnya kepada AI, mereka menempatkan AI sebagai asisten — sementara guru tetap menjadi sutradara di ruang kelas.
Pertanyaannya sekarang adalah: apakah kebijakan nasional bisa mengikuti kecepatan inovasi yang terjadi di lapangan? Atau kita akan terus berlari mengejar ketertinggalan, satu sekolah demi satu sekolah?