Sumber foto: ilustrasi AI

Selama tujuan masih jauh dari genggaman, manusia akan mencari banyak cara untuk mendekatinya. Ada yang mengejar kekayaan, jabatan, pengaruh, rasa aman, atau sekadar pengakuan. Caranya pun bermacam-macam.

Ada yang bekerja sangat keras, ada yang membangun relasi, ada pula yang memilih memuji dan ada juga yang hanya diam menahan pendapatnya.

Bukan karena itu adalah kebenaran, melainkan karena merasa itulah jalan tercepat menuju apa yang diinginkan. Bukan juga karena tidak perduli, tapi karena agar tetap tetap diterima di lingkaran tertentu.

Tentu saja ini bukan berarti setiap kedekatan pasti palsu, atau semua orang yang menahan diri hanya ingin cari aman.

Manusia tidak sesederhana itu. Namun kita juga tidak bisa menutup mata bahwa kepentingan sering menjadi mesin yang menggerakkan banyak perilaku manusia.

Kadang saya bertanya pada diri sendiri, kalau berada di posisi yang sama, apakah saya benar-benar akan berbeda? Apakah saya tidak akan tergoda melakukan hal serupa demi sesuatu yang saya inginkan atau jaga?

Mungkin itulah realitas manusia. Kita sering mengkritik orang lain karena terlihat terlalu dekat kepada satu sisi, terlalu memuja, atau terlalu mencari keuntungan.

Padahal, dalam bentuk yang berbeda, bisa jadi kita pun pernah melakukan hal yang sama. Hanya skalanya yang berbeda, atau caranya yang tidak terlalu terlihat.

Saya bukan sedang membenarkan atau menyalahkan pilihan siapa pun. Saya cuma ingin mengatakan bahwa dalam hidup, banyak orang bisa tergelincir ke jalan yang serupa demi kepentingannya masing-masing.

Entahlah. Mungkin menjadi manusia memang berarti terus berjuang melawan kepentingan diri sendiri. Berusaha tetap jujur di tengah godaan untuk mengambil jalan yang paling menguntungkan. Meski sering kali, kita semua diam-diam tahu bahwa itu tidak mudah.

Kebenaran yang kita pegang sering kali adalah kebenaran yang paling nyaman bagi kepentingan kita.

Oleh: Sahran Saukhan